Sampah menjadi permasalahan yang sangat penting di berbagai negara, tidak hanya di Indonesia. Hal ini dikarenakan sudah begitu menumpuknya sampah dan belum terkelola dengan baik. Sehingga butuh perhatian yang sangat serius dari semua pihak.

Nah, berlatarbelakang hal itu, Komunitas Zero Waste Indonesia, baru-baru ini sukses menyelenggarakan Zero Waste Indonesia (ZWID) Festival bertema ‘Sinergi Menuju Negeri Lestari’. Sebanyak 12.000 peserta bersinergi selama rangkaian acara yang berlangsung mulai 6 September hingga 11 September 2021. Diisi oleh setidaknya 38 orang dari berbagai latar belakang mulai dari pemerintah, pakar, pelaku industri, figur publik, komunitas, konten kreator, musisi dan seniman, hingga organisasi zero waste dari berbagai negara.

Dilaksanakan secara online, tidak hanya mensinergikan seluruh elemen yang terlibat, ZWID Festival juga turut menyumbangkan sedikitnya 130 Blue Carbon Package (BCP) sebagai bentuk dukungan terhadap ekosistem pesisir. Jumlah BCP tersebut setara dengan minimal 7.8 ton CO2e terserap lewat festival ini.

“Tujuan kegiatan ini adalah sebagai gerakan bersama menuju Indonesia bersih dan bebas dari sampah melalui kontribusi dari seluruh lapisan masyarakat. Bersama-sama membangun kesadaran dan memberi arah dalam melangkah untuk berpartisipasi terhadap lingkungan sehingga masyarakat memahami masalah terkait lingkungan yang sedang dihadapi dan mengerti bagaimana penerapan gaya hidup minim sampah dalam keseharian,” ungkap Founder Zero Waste Indonesia Maurilla Sophianti Imron.

Permasalahan sampah bukan hanya masalah pemerintah saja tetapi masalah kita bersama. Direktur Pengelolaan Sampah Ditjen PSLB3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Novrizal Tahar pada gelaran Grand Event ZWID Festival mengatakan, “Perlu kesadaran kolektif mengenai permasalahan sampah. Upaya yang dapat dilakukan salah satunya adalah menerapkan gaya hidup minim sampah. Dapat dimulai dari menolak pemakaian plastik sekali pakai, berbelanja tanpa kemasan, memilah sampah dari rumah, menghabiskan makanan, dan mengompos sisa makanan. Jika bisa jadikanlah sebagai way of life. Perubahan memang butuh waktu namun percayalah itu merupakan investasi yang akan membuahkan hasil.”

Optimisme ini juga ditunjukkan pada IG Live Kick Off ZWID Festival bersama KLHK, WRI Indonesia, Aksi Kita Indonesia, dan #SayaPilihBumi dimana sejatinya kesinambungan menuju negeri lestari dapat diwujudkan dengan keselarasan serta dukungan dari berbagai pihak.

Digelar bertepatan dengan Zero Waste Week, sebuah kampanye lingkungan untuk mengurangi sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), ZWID Festival turut mengundang Zero Waste Week United Kingdom, Zero Waste Malaysia, Zero Waste Singapore, serta Plastic Free Southeast Asia & Australia pada Webinar Zero Waste Lifestyle for Global Movement untuk membagikan cerita tentang inisiatif mereka serta tantangan yang dihadapi di negara masing-masing. Forum ini merupakan bentuk sinergi bersama dari berbagai negara.

Beberapa figur publik-tidak hanya yang berlatar belakang di bidang lingkungan-turut ambil bagian di festival ini. Ditto & Ayudia, Nadine Alexandra Dewi, serta Widika Sidmore berbagi pengalaman dan proses dalam menjalani gaya hidup minim sampah yang ternyata dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari pada sesi IG Live Sustainability Starts with You. Mereka percaya hal positif yang bermula dari diri sendiri akan menciptakan hal-hal positif lainnya yang dapat menggerakkan khalayak untuk berkontribusi untuk bumi yang lebih baik.

Zero waste sebagai filosofi yang dijadikan sebagai gaya hidup demi mendorong siklus hidup sumber daya sejalan dengan konsep ekoliterasi yang dinarasikan oleh Dr. Fahruddin Faiz dalam Webinar Fondasi Ekoliterasi Menuju Negeri Lestari dimana orang paham dan sadar tentang pentingnya lingkungan hidup. Mendorong dari sekadar ‘tahu’ menjadi ‘sadar’ sehingga tercipta ekosistem lestari.

Pendekatan mengenai gaya hidup minim sampah juga dapat dilakukan lewat karya seperti buku, komik strip, dan berdongeng. Cara ini memberikan nafas segar untuk mengenalkan konsep hidup minim sampah sedari dini tidak hanya kepada anak-anak tetapi juga kepada orang tua. DK Wardhani, Fabianus Bayu, serta Awam Prakoso dengan kreatif mengedukasi lingkungan sekitar dengan pendekatan tersebut dan membagikan kisah inspiratifnya dalam Webinar Mengukir Karya untuk Kisah Lestari.

Pada Webinar Bisnis Lestari Menuju Ekonomi Sirkular penerapan konsep berkelanjutan sebagai upaya menyelamatkan lingkungan dilakukan dalam model bisnis Siklus, Sejauh Mata Memandang, dan Sekolah Pagesangan. Mereka yakin dengan memperhatikan aspek keberlanjutan dapat lebih berdampak pada bisnis yang mereka jalankan. Nilai yang mereka usung pun dekat dengan bisnis sirkular dimana lebih bertanggung jawab mulai dari proses pembuatan, dipakai, lalu tidak dibuang namun dapat diputar kembali untuk proses selanjutnya. Dipaparkan dalam IG Live Beauty without Waste, The Body Shop Indonesia juga menerapkan konsep sirkular dalam bisnisnya dengan mengumpulkan kembali kemasan mereka yang akan dibuat menjadi produk baru untuk dikembalikan lagi ke pelanggan sebagai free gift, loyal gift, atau bundling dengan produk lain.

Konsep berkelanjutan pun dapat diterapkan pada aspek pangan. Misalnya pada pembuatan eco enzyme dari sisa organik yang ternyata banyak sekali manfaatnya untuk manusia dan lingkungan sekitar seperti yang diungkapkan oleh Eco Enzyme Nusantara pada Workshop Eco Enzyme. Workshop ini pun menjadi daya tarik tersendiri selama festival berlangsung.

Foto: Ist

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *