Tahukah, kalian? Semakin muda usia menstruasi dan semakin lanjut usia menopause, bisa meningkatkan risiko terkena kanker payudara. Wah, mengapa, ya? Hal itu dikarenakan tingginya kadar estrogen yang ada, dalam jangka waktu yang lama. Estrogen sendiri merupakan hormon penting untuk perkembangan seksual dan reproduksi wanita, tapi juga menjadi salah satu faktor yang mengakibatkan sel kanker berkembang.

Kanker payudara bisa terjadi karena pertumbuhan sel-sel abnormal di payudara. Penyakit ini umumnya terjadi pada wanita. Tapi, jangan salah, pria juga berisiko terkena kanker payudara, lho! Karena pria juga memiliki kelenjar susu yang sama dengan wanita. Pada pria, risiko kanker payudara seumur hidup adalah sekitar 1 banding 833.

Oleh karena itu, penting bagi siapa pun dari segala usia dan jenis kelamin, untuk terus waspada. Sebab, semakin bertambah usia, peluang terkena kanker payudara juga akan semakin meningkat. Pada beberapa kasus, kanker payudara terjadi pada wanita yang berusia lebih dari 50 tahun. Namun, bukan berarti usia di bawahnya tak berisiko. Sebab, kanker payudara juga bisa terjadi pada anak-anak yang berusia mulai dari 15 tahun.

Faktor Risiko Kanker Payudara  

Tak hanya itu, wanita yang tidak memiliki anak seumur hidupnya, juga berisiko terkena kanker payudara. Hal itu dikarenakan keseimbangan hormonnya yang tidak pernah berubah secara kontinu selama puluhan tahun. Wanita yang tidak menyusui pun akan meningkat risikonya. Begitu pula dengan wanita yang memiliki riwayat keluarga kanker payudara (faktor genetik). Melahirkan di usia lebih dari 35 tahun pun membuat peluang terjadinya kanker payudara lebih besar. Faktor risiko lain, yaitu obesitas atau kegemukan, penggunaan obat-obatan hormonal (KB misalnya), serta paparan radiasi yang mengenai daerah dada.

Gejala awal kanker payudara biasanya ditandai oleh adanya benjolan di payudara. Karena masih kecil dan tidak menimbulkan rasa sakit, benjolan tersebut biasanya diabaikan. Setelah benjolan membesar, sakit, dan menimbulkan luka atau berdarah, barulah mereka periksa ke dokter. Padahal itu sudah agak terlambat karena sudah stadium lanjut (3 atau 4) sehingga pengobatan cukup sulit dan harapan sembuh kecil.

Itulah pentingnya SADARI, ya! Periksa payudara sendiri sejak dini. Lakukan sejak wanita mendapatkan menstruasi secara rutin setiap bulan. Raba payudara saat mandi atau selesai mandi. Ada benjolan atau tidak, terutama untuk wanita-wanita yang memiliki risiko tinggi seperti yang telah disebutkan di atas. Lakukan mamografi satu atau dua tahun sekali, mulai usia 40-50 tahun. Dengan demikian, tumor yang belum jelas, bisa terlihat.

Periksa payudara sendiri sejak dini!

Metastasis atau Sel Kanker Menyebar ke Organ Lain

Menurut studi Globocan 2018, kanker payudara menempati peringkat kanker tertinggi di Indonesia dengan 58,256 kasus baru pada tahun 2018 dan menempati posisi kedua penyebab kematian karena kanker, setelah kanker paru-paru. Kanker payudara adalah kanker invasif yang paling umum terjadi pada wanita secara global dengan lebih dari 2 juta wanita terkena setiap tahunnya. Menurut para ahli kesehatan, diperkirakan terjadi peningkatan sekitar 43% dalam kematian terkait kanker payudara secara global dari 2015 hingga 2030, yang sebagian besar merupakan akibat dari penyakit metastasis atau sel kanker yang menyebar ke organ lain di dalam tubuh.

Sekitar 70% dari waktu penyebarannya, subtipe kanker payudara HR+/HER2- menyebar ke tulang, jaringan lunak seperti kelenjar getah bening, dan kadang-kadang terlihat di organ-organ seperti paru-paru atau hati, maupun di kulit.

Namun jangan khawatir! Kanker bukanlah akhir dari segalanya! Pengobatan inovatif yang tepat sesuai dengan subtipe serta dukungan semangat, dapat meningkatkan kualitas hidup dan tingkat kesembuhan penderita kanker payudara.

Pfizer Indonesia Lakukan Sosialisasi

Untuk itulah pada Senin, 31 Agustus 2020 di Jakarta, Pfizer Indonesia melakukan sosialisasi untuk mengenal kanker payudara metastatis subtipe tertinggi di Indonesia, Hormone Receptor-positive (HR+), Human Epidermal growth factor Receptor 2-negative (HER2-), yang merupakan 73% dari semua kasus kanker payudara metastatis di seluruh dunia.

dr. Handoko Santoso, Medical Director Pfizer Indonesia mengatakan, “Dengan jumlah penderita kanker payudara yang terus meningkat secara global, Pfizer berfokus pada ilmu pengetahuan tentang kanker payudara selama lebih dari dua dekade terakhir melalui aktivitas riset dan pengembangan yang inovatif berbasis uji klinis terhadap lebih dari 25.000 pasien kanker sejak 1995, untuk mencapai kemajuan dalam pengobatan kanker payudara secara signifikan pada setiap tahapan stadium maupun subtipe, serta memberikan informasi yang komprehensif dan kredibel, khususnya bagi pasien kanker payudara metastatis subtipe HR+/HER 2-.”

Untuk diketahui, terdapat lebih dari 20 subtipe kanker payudara yang berbeda dalam presentasi, respons terhadap pengobatan, termasuk hasilnya.Perlu bagi pasien untuk mencari dan mendapatkan pengobatan inovatif yang tepat, sesuai dengan subtipe-nya,” saran dr. Handoko.

Perawatan dan Terapi Inovatif Terbaru

Dr. dr. Ronald Hukom, SpPD-KHOM, Hematologi Onkologi Medik RS Kanker Dharmais, menjelaskan bahwa untuk mengetahui subtipe kanker payudara metastatis, semua hasil biopsi, misalnya core-biopsy, atau hasil operasi pengangkatan tumor dengan laporan patologi kanker payudara, perlu diperiksa dengan beberapa tes tambahan untuk mengetahui subtipenya, termasuk dengan tes HR (ER/PR) dan HER2.

Dr. dr. Ronald Hukom, SpPD-KHOM, Hematologi Onkologi Medik RS Kanker Dharmais

Subtipe kanker sesuai laporan patologi sangat menentukan pilihan obat yang disarankan dokter, sehingga laboratorium patologi dengan kemampuan lengkap harus tersedia pada semua provinsi dan rumah sakit yang menangani kanker. “Dengan memahami subtipe kanker payudara, diharapkan dapat meningkatkan tingkat kesembuhan dan kualitas hidup penderita kanker payudara metastatis,” tambah dr. Ronald Hukom.

Terapi yang tersedia untuk kanker payudara metastatik di Indonesia sudah cukup lengkap. Tergantung hasil patologi, perawatan bisa dilakukan dengan kemoterapi, terapi hormon, terapi target, imunoterapi, termasuk sekarang juga sudah tersedia CDK 4/6 inhibitor untuk menghambat pertumbuhan sel-sel kanker.

“Sebelum memulai pengobatan pada kanker payudara metastatik, pasien harus yakin sudah mendapat informasi yang cukup, bila perlu dengan minta opini kedua pada dokter ahli lainnya, dan terapi harus dilakukan oleh dokter yang tepat, khususnya Onkologi Medik yang berpengalaman,” ujar dr. Ronald Hukom.

Dengan kemajuan teknologi, perkembangan terapi kanker payudara metastatik tumbuh sangat pesat. Semua terapi yang baru, memungkinkan hasil yang lebih baik, khususnya yang sudah memiliki bukti yang kuat.

Waspada Hoax!

Guna menghindari informasi yang menyesatkan, dr. Ronald Hukom mengingatkan pasien untuk waspada terhadap hoax pada terapi kanker, karena hal tersebut sangat berbahaya. “Pasien kanker payudara stadium 2 yang harapan sembuhnya tinggi, karena mengikuti himbauan hoax, menjadi tidak dapat disembuhkan. Atau pasien stadium 4 metastatik yang masih bisa memiliki harapan median survival lebih dari 5 tahun, namun menggunakan obat yang tidak tepat, dapat mengurangi periode survival,” sesalnya.

Pentingnya Semangat dan Dukungan

Bagi sebagian besar pasien, diagnosis kanker metastasis sangat menegangkan dan terkadang  sulit jika ditanggung sendiri. Pasien dengan kanker stadium lanjut seperti kanker payudara metastasis, memiliki pilihan pengobatan yang dapat mempertahankan kualitas hidup yang baik, termasuk melalui perhatian dan dukungan psikososial kepada pasien kanker, guna membantu mengatasi tekanan psikologis pasien.

Rien Saptarina, pasien kanker payudara metastatik dari LovePink

Rien Saptarina, pasien kanker payudara metastatik dari LovePink-Yayasan Daya Dara Indonesia yang merupakan organisasi para penyintas kanker payudara, mengatakan, “Sejak awal saya terdiagnosa kanker payudara HR+/HER2-, saya berkonsultasi aktif dengan dokter tentang pilihan terapi inovatif kanker payudara yang terbaru dan tersedia, serta jenis pengobatan yang dapat meningkatkan kualitas hidup, termasuk dukungan keluarga dan teman-teman.”

Dalam hal kerjasama dengan komunitas kanker, Pfizer memberikan dukungan bagi penyintas maupun pasien kanker agar dapat menjalani kehidupan yang lebih baik.

Dr. Dyana Suwandy, Medical Affairs Manager Pfizer Indonesia

Dr. Dyana Suwandy, Medical Affairs Manager Pfizer Indonesia mengatakan, “Tahun ini Pfizer menginisiasi program ASA DARA sebagai terobosan inovatif yang membantu pasien kanker payudara metastatis HR+ / HER2- di Indonesia melalui platform ekosistem kesehatan digital. Sebagai program yang pengembangannya bersifat multi stakeholder dengan dukungan mitra platform digital dan berbagai organisasi pasien, program ini diharapkan dapat memberikan harapan baru dalam membangun solusi yang komprehensif dari peningkatan pengetahuan, asistensi bagi pasien dan penguatan peran psikososial caregivers di masyarakat.”

Program ASA DARA

Program ASA DARA terbagi atas tiga pilar utama yaitu Asah, Asih, Asuh. “Asah” merupakan program edukasi mengenai kanker payudara HR+/HER2-; “Asih” sebagai program bantuan pasien untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik dengan memberikan kenyamanan serta keringanan dalam memperoleh terapi dari Pfizer setelah pasien berkonsultasi dengan dokter ahli kanker atau spesialis; sementara “Asuh” merupakan program bagi pemerhati dan pendukung kanker payudara metastatis melalui dukungan psikososial yang dibutuhkan pasien kanker payudara metastatis.

Untuk memberikan dukungan psikososial, Rien Saptarina mengajak penyintas kanker payudara secara aktif berbagi informasi dan pendampingan bagi pasien kanker payudara. “Dukungan dan informasi langsung dari penyintas kanker sangat membesarkan hati dan terbukti membantu dalam perjalanan pengobatan saya melawan kanker payudara metastatis. Anda pun juga bisa melakukannya,” tandasnya.

Foto: Ist

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *