Hasan adalah tetangga Ipung yang sekaligus merupakan saingannya. Meskipun mereka tidak satu sekolah, Hasan selalu berusaha mengalahkan Ipung dalam segala hal. Namun, ulah Hasan sudah keterlaluan. Jika Hasan mendapat rangking pertama, buku rapornya ditenteng kesana kemari. Atau jika Hasan mendapat piala karena menang lomba, maka piala tersebut akan dibawanya kemana-mana. Maksudnya, ia memang sengaja pamer kepada teman-temannya.

Nah, sore ini Hasan mendatangi Ipung. Hasan ingin menantang Ipung untuk bermain petak umpet. Hasan sangat yakin kalau ia akan memenangkan permainan petak umpet ini. “Pung, aku mau menantangmu. Kita main petak umpet. Eit..jangan tertawa dulu. Petak umpet ini lain. Dalam lima menit kamu sudah harus bisa menemukanku,” kata Hasan dengan entengnya.
“Lima menit?” tanya Ipung.
“Terlalu lama ya? Baiklah dua menit!” jawab Hasan dengan sombongnya.
“Apa sih yang membuatmu yakin bisa dengan cepat menemukanku?” tanya Ipung ingin tahu.
“Sudah! Pokoknya, besok sore, kita bertemu di lapangan. Ingat ya, jangan sampai tidak datang, kecuali kalau kamu memang penakut!” kata Hasan dan kemudian pergi.
Ipung kesal bukan main. Sebenarnya, Ipung malas sekali jika harus menuruti keinginan Hasan. Akan tetapi, ia juga tidak ingin disebut sebagai penakut.

Akhirnya esok sore, Ipung pun datang ke lapangan untuk memenuhi tantangan bermain petak umpet dari Hasan. Sepuluh menit kemudian, Hasan datang dengan tergopoh-gopoh.
“Ayo, kita mulai permainannya. Peraturannya, aku yang sembunyi terlebih dahulu. Ingat! Dalam waktu dua menit, kamu sudah harus bisa menemukanku. Sekarang, putar badanmu menghadap ke belakang! Aku akan segera bersembunyi!” perintah Hasan.
Setelah Hasan bersembunyi, Ipung pun mulai mencari. Ipung berpikir sejenak dan pandangan matanya menjelajah ke sekeliling lapangan. Hingga akhirnya ia menemukan sesuatu. Ipung dengan cepat menuju ke tempat persembunyian Hasan.
“Hasan, keluarlah! Permainan sudah selesai!” teriak Ipung.

Hasan kaget setengah mati. Ternyata Ipung bisa dengan cepat menemukannya. Bahkan dalam waktu kurang dari dua menit. Padahal, Hasan sengaja bersembunyi dengan cara naik ke atas pohon agar sulit untuk ditemukan.

Hasan pun turun dari atas pohon dengan wajah sangat kesal. “Bagaimana kau bisa menemukanku dengan cepat?” tanya Hasan.
“Lain kali, jika disuruh Ibumu, serahkan dulu barangnya ke Ibumu. Sehingga tidak bocor dan kamu bisa untung dua kali. Pertama, tidak kena marah karena Ibumu pasti sudah lama menunggu. Dan kedua, kamu bisa aman bersembunyi karena tidak meninggalkan jejak,” kata Ipung seraya menunjuk kantong celana Hasan yang kotor terkena tepung terigu.
Hasan langsung pucat. “Astaga! Betapa bodohnya aku,” ucap Hasan kaget.

Tadi, sebelum pergi bermain, Ibunya memaksa Hasan untuk membelikan tepung terigu. Karena Hasan sudah tidak sabar ingin segera mengalahkan Ipung, maka ia segera pergi ke lapangan dan tidak menyerahkan tepung terigu terlebih dahulu kepada Ibunya.

Ternyata tepung itu bocor dan tumpah di sepanjang jalan menuju tempat persembunyiannya.
Hasan kesal dan sangat malu. Padahal, tempat persembunyiannya itu sudah berhari-hari dipikirkannya. Mungkin inilah hukuman buatnya. Ipung hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan Hasan seorang diri.

 

Cerita : JFK    Ilustrasi : JFK

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *