Hari ini ada ulangan matematika. Suasana kelas yang awalnya tegang, menjadi riuh begitu Bu Ratih keluar kelas. Billy yang duduk di belakang, sengaja ke depan menghampiri Hasan, “Aku tak tahu cara mengerjakan soal nomor lima.”

Sementara Hasan sibuk melihat buku catatan matematika. Tak kalah heboh, Fahmi merebut kertas ulangan Banu, “Coba aku lihat hasilmu!”

Tepat saat Rofik mengambil buku catatan matematika dari dalam tasnya, Bu Ratih masuk. Rofik tergagap. Buku catatan matematikanya jatuh ke lantai. Semua kalang kabut.

“Bagi yang merasa mencontek, silahkan berdiri di depan ruang kelas!” kata Bu Ratih kemudian.

Tubuh Rofik gemetar. Terdengar pelan suara kursi digeser. Kelas semakin senyap ketika Rofik berdiri. Seisi kelas kaget melihat Rofik maju dan berdiri di depan kelas. Tetapi Rofik lebih terkejut ketika tidak seorang pun temannya maju ke depan kelas. Ia berdiri dengan wajah tertunduk. “Rofik, kembali ke tempat dudukmu!” perintah Bu Ratih.

Bel istirahat berbunyi. Ulangan matematika pun berakhir. “Tadi apa yang kau lakukan?” Billy, Hasan, dan Fahmi mengerubungi Rofik. “Aku hanya mengikuti apa yang diperintahkan Bu Ratih,” jawab Rofik.

Hasan tertawa, “Bodohnya kau!” “Tadi itu seisi kelas mencontek. Nabila si juara kelas saja mencontek!” tambah Billy.

“Aku tahu itu,” ujar Rofik. “Lalu untuk apa kau berdiri di depan kelas?” tanya Fahmi. “Aku hanya mengakui perbuatanku mencontek,” jawab Rofik.

“Menurutku,” ujar Fahmi serius. “Tadi itu seharusnya kau tak perlu berdiri di depan kelas. Nyatanya tak seorang pun mengakui kecurangannya,” ujar Fahmi lagi.

Tiba-tiba, “Rofik, Bu Ratih memanggilmu!” kata Saskia murid kelas enam menghampiri Rofik yang sedang berkumpul bersama teman-temannya.

Jantung Rofik berdegup kencang. “Bu Ratih menunggumu di ruang guru,” jelas Saskia sebelum meninggalkan kelas Rofik.

“Gawat!” geleng Fahmi. “Pasti kau mendapat hukuman,” duga Hasan. “Apa kubilang,” ujar Billy. “Kalau saja tadi kau tak berdiri di depan kelas, pasti tak mengalami hal ini,” tambah Billy.

Satu, dua, tiga menit terlewati. Rofik masih berada di ruang guru. Pandangan ketiga teman Rofik tertuju pada pintu ruang guru, berharap Rofik segera muncul.

“Lama juga,” Billy bergumam. “Mungkin Rofik disuruh mengerjakan ulang soal-soal matematika,” Hasan menduga-duga. “Iihhh, mungkin juga ya,” Fahmi tak bisa membayangkan jika harus mengerjakan soal-soal ulangan di ruang guru.

Sepuluh menit kemudian, “Itu Rofik!” seru mereka berbarengan.

Rofik ke luar dari ruang guru dengan wajah keruh. Rofik terdiam, wajahnya benar-benar sedih. “Pasti kau dihukum mengerjakan ulang soal-soal matematika?” tebak Hasan. Rofik menggeleng.

“Dihukum berdiri di pojok ruang guru?” tebak Fahmi. “Nggak,” geleng Rofik. “Diceramahi Bu Ratih?” tebak Billy. “Nggak juga,” kata Rofik. “Lalu?” ketiga temannya berpandangan, bingung.

“Tralalala….,” seru Rofik mengagetkan ketiga temannya. “Aku cuma pura-pura sedih,” seringai Rofik. “Hah?” ketiga wajah temannya terlihat bingung. “Aku dikasih ini oleh Bu Ratih,” ujar Rofik mengeluarkan sesuatu dari saku seragamnya. Ketiga pasang mata itu membelalak kaget, “Kok, bisa?”

“Bisa,” senyum Rofik sambil memamerkan pulpen lucu pemberian Bu Ratih. “Jadi, nggak dihukum?” tanya Hasan. “Nggak,” Rofik menggeleng kuat-kuat. “Bu Ratih memberi pulpen ini sebagai hadiah karena aku sudah berani bersikap jujur,” ucap Rofik. “Bu Ratih bilang, andai saja semua murid yang tadi mencontek bersikap jujur, dengan senang hati Bu Ratih akan memberikan hadiah pulpen,” tambah Rofik. “Tadi aku lihat Bu Ratih punya sekotak pulpen warna warni seperti ini,” kata Rofik lagi.

Tanpa dikomando, Hasan, Fahmi, dan Billy segera berlari  menuju ruang guru untuk menemui Bu Ratih. Kurang dari sepuluh menit, wajah-wajah tertunduk, keluar dari ruang guru. Rofik berlari menyambut ketiga temannya. “Kalian dapat pulpen warna apa?” tanya Rofik tak sabar.

Fahmi, Billy, dan Hasan menggeleng, “Bu Ratih bilang, besok saat pelajaran matematika, kami disuruh berdiri di depan kelas dan mengerjakan soal matematika.”

“Hah?” mata Rofik membelalak kaget. “Bu Ratih bilang karena kami mengaku mencontek, berharap dapat pulpen, bukan karena kejujuran,” ucap Billy.

Wah, ternyata, jujur itu menguntungkan ya!

 

Cerita: JFK     Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *