Masker penutup mulut. Ya, sebelumnya hanya digunakan oleh para petugas kesehatan, misalnya saat di meja operasi. Namun setelah pandemi Covid-19, orang-orang menggunakan masker, merupakan pemandangan biasa.

Masker yang saat ini menjadi incaran, salah satunya adalah masker N95 yang menurut para ahli memiliki proteksi yang lebih baik karena menahan kemungkinan virus corona menembus masuk. Nah, masker N95 ini pertama kali dikembangkan oleh seorang dokter asal Tiongkok yang lahir di Penang, Malaysia tahun 1879  bernama Wu Lien Teh.

Bagaimana Ceritanya?

Bermula di tahun 1910 silam saat wabah penyakit pes merebak di Tiongkok bagian Utara tepatnya di kota Manchuria. Wabah itu mampu membunuh hingga 100% dari mereka yang terinfeksi, dimana pasien akan meninggal hanya dalam hitungan 1 hingga 2 hari sejak gejala awal ditemukan.

Wu Lien Teh, mahasiswa kedokteran keturunan Tionghoa pertama yang belajar di Cambridge University, Inggris ini kemudian melakukan otopsi terhadap salah satu korban dan menemukan bahwa virus pes menyebar melalui udara, bukan kutu seperti perkiraan mayoritas peneliti lainnya.

Terinspirasi Pelindung Wajah

Terinspirasi dari pemakaian pelindung wajah di Eropa, Wu Lien Teh, orang Melayu pertama yang mendapat nobel kedokteran di tahun 1935 itu  lalu mengembangkan masker yang terbuat dari kain kasa dan kapas yang diklaim mampu mencegah penularan virus. Masker itu juga dilengkapi lapisan kain yang dapat menyaring inhalasi atau proses manusia menghirup udara ke paru-paru.

Beberapa tahun kemudian, saat flu menyerang Spanyol di tahun 1918, temuan Wu Lien Teh pun digunakan oleh masyarakat Spanyol. Masker N95 yang kita kenal sekarang juga merupakan modifikasi modern dari masker buatan Wu Lien Teh yang sudah disesuaikan, agar lebih mudah dan nyaman saat digunakan.

Foto: Ist

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *