Sewaktu Nia masih duduk di Sekolah Dasar Batu Merah, dia dan teman-temannya pernah pergi berwisata bersama sekolahnya ke Pantai Asri. Nia dan teman-teman sekolahnya sangat gembira waktu itu.

Pantai Asri indah, dan wisata di sana sangat berkesan sehingga mereka minta pada guru-guru untuk pergi ke sana lagi. Akhirnya, ketika Nia dan teman-temannya duduk di kelas satu SMP Batu Merah, mereka bisa pergi ke Pantai Asri lagi.

“Wah, senangnya!” kata Nia bersemangat. “Tapi, lama sekali ya, dari SD sampai SMP,” kata Ben, teman Nia yang suka menggerutu. “Sudahlah, yang penting kita akan pergi ke Pantai Asri!” kata Mirna, teman Nia yang menjadi Ketua Kelas.

Hari yang dinantikan oleh Nia dan teman-temannya hampir tiba, tapi mereka mendapat kabar buruk. Di daerah Pantai Asri, terjadi hujan deras dan banjir. “Gawat sekali! Pasti batal deh rencana wisata kita!” keluh Ben. “Nggak mungkin!” seru Nia dan Mirna.

Untungnya, rencana wisata hanya harus diundur. Akhirnya ketika cuaca cerah kembali, Nia dan teman-teman sekolahnya pergi ke Pantai Asri.

Kejutan besar menanti mereka. Ketika kendaraan berhenti dan rombongan anak-anak serta para guru turun, yang terlihat oleh mereka bukanlah hamparan pasir putih, melainkan berbagai macam sampah yang memenuhi pantai!

“Kenapa bisa begini?!” seru Ben kaget dan kecewa. Nia dan Mirna hanya bisa melongo bingung. Wisata sudah rusak. Tidak ada lagi Pantai Asri.

Bapak dan Ibu Guru bertanya kepada penduduk setempat. “Di daerah sini ada pembuangan sampah. Belakangan ini tempat pembuangan sampah itu tidak dapat menampung jumlah sampah yang datang. Apa boleh buat, sampah-sampah itu akhirnya dibuang ke laut. Lalu, belum lama ini terjadi hujan deras dan banjir. Hal itu membuat sampah dari darat terbawa juga ke sini. Belum lagi ada yang membuang sampah dari kapal. Semuanya terbawa air laut ke sini,” jelas Pak Poran, penduduk yang tinggal di daerah pantai.

Pak Poran selalu membersihkan pantai dengan para penduduk lain. Tapi sekarang mereka kewalahan. Nia punya ide. Dia lalu mengutarakan idenya pada Mirna. Mirna mengangguk antusias. Mirna lalu berbicara pada Bapak dan Ibu Guru. Nia melihat Bapak dan Ibu Guru mengangguk menyetujui. “Asyik!” batin Nia.

Ibu Guru lalu meminta Mirna berbicara. “Teman-teman, seperti yang kalian ketahui seharusnya hari ini kita berwisata. Tapi melihat keadaan pantai yang sangat menyedihkan ini, kita tidak bisa tinggal diam. Hari ini kita semua sebagai murid-murid Sekolah Batu Merah, akan membantu Pak Poran dan teman-temannya. Kita akan membersihkan pantai ini!” kata Mirna. Seluruh kelas menyambut dengan antusias dan senang. “Ayo, kita buat pantai ini jadi asri lagi, sesuai namanya!” seru Nia.

Bapak dan Ibu Guru juga ikut bekerja mengumpulkan sampah bersama Nia, Mirna, dan Ben. Ben bertanya apakah sampah yang dibuangnya juga ada di sini. “Tentu saja,” jawab Ibu dan Bapak Guru.

“Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan supaya bisa mengurangi sampah, Pak, Bu?” tanya Nia. “Kurangi penggunaan plastik, dan membuang sampah dengan benar, apalagi jika sampah itu sampah elektronik atau mengandung bahan kimia yang berbahaya. Jika sampah bisa didaur ulang, usahakan untuk mendaur ulang,” kata Bapak dan Ibu Guru. “Baik, Pak, Bu!” kata Nia.

Setelah selesai bekerja, Pak Poran dan teman-temannya menyediakan hidangan ikan bakar yang lezat bagi rombongan SMP Batu Merah. “Menurutku, wisata kali ini lebih berkesan dari wisata yang dulu!” kata Nia. “Benar sekali, dan kita belajar banyak tentang sampah dan tanggung jawab,” tambah Mirna. Ben mengacungkan jari telunjuknya tanda setuju, sambil mengunyah ikan bakar lezat.

 

 

 

Cerita: Seruni     Ilustrasi: Agung

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *