Orangtua mana yang tak senang punya anak yang sehat dan berprestasi. Mewujudkan hal itu tentu butuh usaha, tak semudah membalikkan telapak tangan. Selain melatih kemampuan kognititif, menstimulasi secara tepat, faktor lain yang tak kalah penting adalah asupan gizi seimbang.

Perlu Moms ketahui, konsumsi gizi seimbang sangat erat kaitannya terhadap tingkat kecerdasan anak, lho! dr. Dimple Nagrani, Sp.A, BMedSc, seorang dokter spesialis anak dan pendiri akun instagram edukasi @happykids_id mengatakan bahwa pada 1000 hari pertama atau usia nol hingga dua tahun, perkembangan otak anak sangat pesat dan ini harus didukung oleh konsumsi gizi seimbang untukmencapai hasil yang optimal. “Periode ini disebut sebagai masa keemasan yang harus diperhatikan oleh orangtua. Kebiasaan makan anak juga dimulai dari sini. Jika malnutrisi terjadi pada masa keemasan ini, dampaknya akan permanen,” ujarnya pada acara webinar hasil kolaborasi antara Gredu dan Lemonilo yang bertajuk “Sehat Itu Cerdas: Bangun Kebiasaan Makan Sehat, Yuk!” pada hari Rabu, 24 Februari 2021.

Perlu Moms ketahui, berdasarkan penelitian dari WHO, anak yang memiliki status gizi kurang mempunyai risiko kehilangan kecerdasan atau intelligence quotient (IQ) sebesar 1.015 poin. Menanggapi hal tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menambahkan komponen tumbuh kembang anak dalam rapor di sekolah dasar, yang berisikan berat badan, tinggi badan, kesehatan gigi, kesehatan mata, dan kesehatan penglihatan. Namun, dalam penerapannya, belum diketahui sejauh mana sekolah bertanggung jawab atas data tersebut.

Salah satu orangtua sekolah dasar di Tangerang Selatan, Diah, mengatakan bahwa komponen tersebut memang terdapat di dalam rapor, tapi tidak pernah disinggung atau dibicarakan ketika pembagian rapor. “Mungkin karena baik-baik saja,” ujarnya.

(kiri – kanan) Para pembicara dalam Webinar “Sehat Itu Cerdas: Bangun Kebiasaan Makan Sehat, Yuk!” yakni: dr. Dimple Nagrani, Sp.A, BMedSc, Eko Agusnehing Purwaningsih, M.Pd dan Liliane Melissa

“Meski tidak seratus persen, rata-rata terdapat signifikansi antara tumbuh kembang dengan prestasi anak. Ketika anak tidak nyambung saat diajak bicara, misalnya, itu adalah salah satu tanda-tanda yang perlu diperhatikan guru. Coba bicarakan dengan orangtua dan cek kondisi keluarga. Data-data tentang tumbuh kembang anak, terutama di sekolah dasar, sangat dibutuhkan oleh guru untuk bergerak cepat,” ujar Eko Agusnehing Purwaningsih, M.Pd, Guru di Sekolah Dasar Negeri RRI Cisalak, Kota Depok.

Nah, sebagai orangtua, ada baiknya mengukur status gizi anak bukan hanya dari data seperti berat badan misalnya. Perhatikan juga kondisi tubuh maupun perilaku anak. Jika anak mudah marah, terlihat lesu, menangis berlebihan, atau sulit berkonsentrasi dengan baik, hati-hati, terdapat kemungkinan anak mengalami gejala kurang gizi.

Tantangan Kebiasaan Makan Anak

Seperti kita tahu, semakin anak besar atau memasuki usia sekolah, kegiatannya pun akan bertambah. Selain itu, anak juga memiliki preferensi makanan yang beragam. Ia mulai dapat menentukan makanan yang ingin dia konsumsi. Di sinilah peran orangtua sangat diperlukan untuk memperhatikan asupan gizi anak. Sebab, pada usia tersebut perkembangan kognitif anak, perkembangan fisik anak, serta hal lainnya sedang berjalan.

“Perihal konsumsi gizi seimbang ini, masih banyak tantangan yang dihadapi sekolah. Saya perhatikan, anak-anak SD itu suka sekali jajan makanan yang hanya sekadar membuat kenyang, bukan yang sehat. Mereka paling mudah tertarik dengan makanan yang berwarna dan menarik secara penampilan,” ucap Eko.

Mengakali fakta di atas, di SDN RRI Cisalak tempat Eko mengajar, mengadakan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Salah satu kegiatannya adalah dengan mewajibkan anak membawa bekal dari rumah di setiap hari Jumat. Melalui kegiatan tersebut, selain mendorong anak untuk mengurangi jajan sembarangan, sekolah berkesempatan mengontrol konsumsi gizi anak berdasarkan hasil pengamatan pada bekal yang dibawa.

Namun, masalah tak berhenti di sana. Di sisi lain, ada tantangan lagi dari sisi orangtua. “Mungkin para orangtua ini paham pentingnya gizi seimbang, namun sayangnya kami masih sering menemukan bekal anak berisi makanan cepat saji seperti nugget dan nasi saja, atau mie instan saja tanpa lauk dan/atau protein. Ini menjadi topik yang perlu didiskusikan guru dengan orangtua,” imbuh Eko.

Menanggapi fenomena tersebut, dr. Dimple menegaskan bahwa masih banyak orangtua yang malas berkreasi dengan pilihan makanan anak karena terlanjur terlalu fokus hanya pada berat badan. “Padahal, kita tidak bisa melihat status gizi seorang anak hanya dari berat badan. Kami (dokter anak) sama sekali tidak happy kalau berat badan di garis hijau, tapi makannya hanya nasi dan kecap,” ujarnya. Selain itu, dr. Dimple mengingatkan, tumbuh kembang anak yang baik bukan hanya dilihat dari berat badan, tapi juga tinggi badan dan lingkar kepala

Kreasikan Makanan

Hal senada disampaikan oleh Liliane Melissa yang saat ini menjabat sebagai Business Development Manager di Lemonilo, suatu perusahaan yang bergerak dibidang perdagangan berbagai macam produk makanan. Liliane mengakui, salah satu yang makanan yang mendapat imej makanan kurang sehat adalah mi instan. “Indonesia adalah negara yang penduduknya merupakan penikmat mi instan terbesar ke-2 di dunia setelah Cina. Kami melihat hal ini sebagai peluang, namun sebagai merek yang peduli tentang kesehatan, kami ingin membuat mi instan yang sehat,” ujarnya.

Ia meng-klaim bahwa produk mi instan Lemonilo tidak melalui proses penggorengan, melainkan dipanggang sehingga tidak mengandung lemak trans, serta terbuat dari bahan alami yang tidak menggunakan pewarna, pengawet, bebas MSG tambahan, dan memiliki kandungan gluten yang lebih rendah.

“Kami juga selalu menyarankan dalam penyajiannya, mi instan Lemonilo dibarengi dengan lauk pauk lain seperti telur,  daging ayam dan sayur-sayuran,” pungkas Liliane. Ia menyinggung bahwa pemilihan makanan dengan komposisi gizi seimbang penting mengingat penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit kardiovaskuler cenderung disebabkan oleh pola makan yang tidak baik. “Pola makan masyarakat Indonesia didominasi oleh konsumsi makanan yang tinggi kolesterol, gula, garam, makanan sintetis, dan pengawet. Akibatnya, 73 persen kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit tidak menular,” sesalnya.

Eko mengingatkan bahwa sekolah tidak dapat bekerja sendirian dalam rangka mendukung proses tumbuh kembang anak yang lebih baik melalui pembiasaan pola makan sehat. Ketika sekolah sudah berupaya dengan mengamati kebiasaan konsumsi makanan anak di sekolah dan membuat laporan berkala tentang berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala anak, ia berharap orangtua mau bekerja sama apabila laporan yang dihimpun menunjukkan situasi mengkhawatirkan.

“Kami (guru) akan memberikan informasi kepada orangtua ketika menemukan anak yang tumbuh kembangnya lambat. Biasanya kami memanggil orangtua atau melakukan kunjungan rumah untuk berdiskusi. Selain itu, strategi dan edukasi soal pemenuhan gizi anak juga dapat dipenuhi dengan keterlibatan mitra. Namun, penerapannya akan kembali lagi ke orang tua dan lingkungan keluarga,” jelas Eko.

dr. Dimple menegaskan bahwa pola hidup sehat harus dimulai dari orangtua. “Anak adalah peniru yang ulung, dan mereka akan meniru pola makan orang tuanya. Apabila orang tua rajin mengonsumsi kudapan, gula, atau makanan berkolesterol tinggi, maka akan sulit mengharapkan anak terbiasa mengonsumsi makanan sehat,” imbuhnya.

Selain memberi contoh, Liliane menyarankan orangtua yang ingin anaknya menyukai makanan sehat seperti buah dan sayur agar memberikan ilustrasi yang mudah dipahami oleh anak-anak. “Anak tidak akan mengerti apabila kita bilang harus makan sayur agar pintar, lebih baik kita beri tahu bahwa sayur itu enak, dan itu dibarengi dengan mengupayakan kreasi makanan yang bervariasi dan tentunya lezat,” tutup Liliane.

Foto: Efa

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *