Luni berjalan menyusuri danau Sunter di tengah teriknya matahari. Luni memang senang memandangi air danau yang tenang, sepulang sekolah.

“Aku istirahat dulu, ah,” gumam Luni sambil duduk di kursi tepat di tepi danau. Mata Luni memandang air danau yang berkilau karena terkena sinar matahari. Tiba-tiba, dari kejauhan nampak asap menggumpal seperti awan, persis berada di atas danau.

Di atas awan tersebut, tumbuh banyak bunga berwarna-warni. Luni bisa mencium wangi semerbak bunga-bunga itu! “Wah, wangi sekali!” kata Luni setengah berteriak. Lama-kelamaan, wanginya semakin kuat seolah-olah menggoda Luni untuk memetiknya. Tak disangka, tubuh Luni sudah berdiri. Kaki kanannya mulai melangkah menyentuh air danau.

“Air… Air…,” teriak Luni spontan. Luni tersadar kalau ia sudah memasukkan kakinya ke dalam danau. Luni lalu menarik kembali kaki kanannya dari dalam air dan mundur beberapa langkah hingga hampir terjatuh.

“Apa yang telah kulakukan?” tanya Luni yang masih kaget. Ia lantas bergegas beranjak pulang ke rumah. “Kenapa aku seperti terhipnotis dengan wangi bunga-bunga dari awan tadi, ya?” gumam Luni sepanjang perjalanan pulang.

Sesampainya di rumah, Luni bercerita pada Kak Salu yang sedang mengutak-atik motor kesayangannya. “Mana ada awan berbunga terbang di atas danau? Memangnya cerita Naruto! Sudahlah, kamu jangan keseringan bermain di danau Sunter!” jelas kak Salu sambil tertawa lebar.

Keesokan harinya, Luni kembali mampir ke danau Sunter. Ia masih penasaran. Luni kembali duduk di kursi yang sama. Tak terasa, sudah dua jam Luni menunggu. Namun, awan dan bunga misterius itu tak muncul juga. “Mungkin Kak Salu benar, kemarin hanya khayalanku saja!” ucap Luni kecewa. Ia lantas beranjak berdiri dan membalikkan badannya menuju jalan pulang.

Tiba-tiba…

“Mmm… Wangi bunga lagi,” bisik Luni saat hidungnya mencium wangi bunga yang sama. Tubuhnya kembali menghadap ke arah danau. Dan, benar sekali! Awan misterius itu pun muncul lagi. Sesaat, Luni diam terpaku. Saat wangi bunga mulai menguat, mata Luni tertutup dengan sendirinya.

Tubuh Luni seperti bergerak sendiri menuju ke danau. Ia seolah-olah tergoda untuk menghampiri awan dan memetik bunga-bunga yang cantik dan harum itu. Ya, wangi bunga misterius telah mengendalikan tubuh Luni. Perlahan-lahan, kaki Luni sudah berada di dalam air danau yang dangkal. Luni tetap tak sadarkan diri. Ia terus berjalan menuju ke tengah danau yang lebih dalam.

“Luni… Luni…!”

Kak Salu berlari sambil berteriak memanggil Luni. Ia berusaha menyelamatkan adiknya itu. Kak Salu kemudian menghampiri Luni dan menariknya ke tepi danau. Luni pun tersadar dan matanya terbuka lebar. “Kak Salu,” ucap Luni lirih.

“Kamu sedang apa tadi di dalam danau?” tanya Kak Salu. “Ta.. ta.. tadi aku mau memetik bunga yang cantik dan wangi,” jawab Luni terbata-bata. “Hah? Di danau ini tidak ada bunga yang tumbuh,” timpal Kak Salu heran. “Tapi tadi ada kok, Kak,” ucap Luni bersikukuh.

“Kakak kan sudah bilang jangan main di danau sendirian. Beberapa minggu lalu, juga ada anak yang hampir tenggelam karena ingin memetik bunga yang katanya ada di tengah danau,” tutur Kak Salu. “Kalau mau bunga, nanti Kakak belikan dan tanam di halaman rumah, ya,” tutur Kak Salu lagi.

“Tidak… Tidak… Aku tidak mau berurusan dulu dengan bunga yang wangi semerbak!” ujar Luni sambil bergegas pulang.

 

Cerita: JFK      Ilustrasi: JFK

 

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

1 Comment

  1. Koleksi cerita di web ini keren- keren

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *