“Jadi, liburan nanti kalian mau kan menginap di villa keluargaku di Tanah tinggi?” ajak Magda pada teman-temannya Mira, Dido, dan Aldo. “Mau, dong!” kata mereka bertiga. “Aku benar-benar berterima kasih! Kalian teman-teman yang luar biasa!” kata Magda. “Justru kami yang harus berterima kasih pada kamu, Magda, kok malah kamu yang berterima kasih pada kami!” kata Mira. “Iya, aneh deh!” sambung Dido dan Aldo.

Sehari setelah libur tiba, 4 sekawan itu berangkat ke villa keluarga Magda. Villa itu luar biasa. Dibangun di bukit paling tinggi, sehingga jika kita berdiri di terasnya, pemandangan di bawah dan sekelilingnya benar-benar indah.
Mira sangat terkesan, sampai-sampai dia mencari tahu tentang villa ini di internet. “Hah? Ada yang tidak setuju villa ini dibangun karena dianggap merusak situs arkeologi?!” seru Mira kaget.
Tapi, tentu saja Mira memilih diam. Masa, dia mau mengganggu Magda dengan pertanyaan yang tidak enak?

Malam harinya, di ruang duduk, Dido dan Magda sedang bermain PS, sedangkan Aldo dan Mira asyik menonton mereka.
“Eh, kok ada suara aneh, sih?” tanya Magda tiba-tiba. Magda mengira suara itu dari permainan PS, dan dia mencoba mengecilkan volume televisi. Tapi, suara itu makin lama makin keras.
“Ini suara gamelan…” kata Mira. Mendengar itu, wajah Magda tiba-tiba berubah pucat. “Serius, Mira…?” bisiknya. “Mungkin lagi ada pertunjukan tarian tradisional di sekitar sini,” kata Dido. “Iya betul!” tambah Aldo. “Suaranya datang dari luar, coba aku lihat,” kata Mira.

Mira pergi ke balkon untuk melihat ke luar. “Dingin sekali,” gumam Mira. Entah kenapa, rasanya udara lebih dingin dari sebelumnya.
Suara gamelan rupanya terhenti sebentar, lalu terdengar lagi. Dari balkon, Mira melihat sesuatu di bawah, di antara pohon-pohon tinggi. “Api obor?” gumam Mira. Ada rombongan aneh. Rombongan itu menggunakan baju adat Jawa zaman dahulu, dan setiap orang membawa obor.

Mira segera memanggil ketiga temannya untuk melihat iring-iringan itu. “Tidak mau!” seru Magda takut, membuat Mira kebingungan. “Lho, mana iringannya? Kok, tidak ada? Kamu bohong, ya, Mira!” kata Dido dan Aldo yang bingung setelah melihat ke balkon.
Mendengar itu, Magda menjerit ketakutan dan menangis histeris. “Magda… ada apa?!” seru ketiga temannya yang khawatir. Tapi, belum selesai kebingungan mereka, tiba-tiba tercium aroma melati entah dari mana. Kali ini 4 sekawan itu berlari meninggalkan ruang tamu.

Akhirnya, Magda menceritakan semuanya. Sebetulnya, dia takut dengan villa ini. Banyak sekali kejadian aneh yang terjadi di sini. Nenek Magda sangat menyukai villa ini dan selalu meminta Magda menginap. Akhirnya, Magda setuju. “Karena itulah aku mengajak kalian, maafkan aku ya… aku takut kalian tidak mau kalau aku jujur,” kata Magda.
“Tidak apa-apa, Magda. Aku sempat membaca kalau daerah ini adalah situs arkeologi…” kata Mira. “Situs arkeologi?!” seru Dido dan Aldo kaget. “Iya, ditemukan reruntuhan candi di sini,” jelas Magda. Mira merinding mengingat rombongan obor yang dilihatnya.

Beberapa bulan kemudian, Magda menemui Mira, Dido, dan Aldo di sekolah. Magda mengatakan kalau villa Tanah Tinggi sudah dijual Neneknya.
“Aku berharap villa itu dibongkar saja. Tidak baik merusak situs warisan budaya, kan?” katanya. Apakah penglihatan aneh Mira adalah sebuah peringatan? Tidak ada yang tahu… atau lebih tepatnya, tidak ada yang berani mencari tahu lebih lanjut.

 

 

 

Cerita: Seruni    Ilustrasi: Novi Chrisna

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *