Masyarakat Mempawah, Kalimantan Barat, hingga kini masih melaksanakan adat istiadatnya yang sudah turun temurun sejak lama. Salah satunya adalah upacara adat Robo-Robo yang rutin dilaksanakan setiap tahun.    

Kali ini Just For Kids berkesempatan untuk melihat langsung bagaimana meriahnya perayaan Robo-Robo ini, Kids. Mengapa dinamakan Robo-Robo? Ternyata, berasal dari kata Rabu. Ya, upacara adat Robo-Robo memang digelar secara khusus pada hari Rabu terakhir bulan Safar (dalam kalender Islam).

Robo-Robo sendiri dilakukan dalam rangka memperingati hari kedatangan Opu Daeng Menambon dari suku Melayu ke Mempawah. Beliau adalah Raja dan pendiri Kerajaan Mempawah zaman dahulu kala. Beliau juga dikenal sebagai tokoh penyebar agama Islam di Mempawah, Kalimantan Barat.

Rupanya, rangkaian upacara adat Robo-Robo ini, digelar selama tiga hari, Kids!

Hari Pertama

Senin, 13 November 2017

Pagi hari, Raja Mempawah XIII, Mardan Adijaya (Raja Mula Wangsa) bersama Permaisuri, Arini Mariam (Sinuhun Ratu Kencana Wangsa), diiringi seluruh keluarga besar kerajaan beserta kerabat dan laskar Istana Amantubillah Mempawah, melaksanakan ritual buang-buang yaitu pelepasan puaka (satwa) berupa kucing hutan dan labi-labi (sejenis kura-kura).

Sore hari, dilakukan kirab pusaka dan mandi pusaka. Malam harinya, digelar tahlil dan doa bersama untuk almarhum Opu Daeng Menambon.

Raja dan Ratu Mempawah Bersama Pangeran, Kerabat, dan Laskar Kerajaan

Hari Kedua

Selasa, 14 November 2017

Hari Selasa pagi, Raja Mardan didampingi Permaisuri beserta kerabat, Pangeran, Panglima, dan laskar kerajaan, melakukan ziarah ke makam Opu Daeng Menambon di Dusun Sebukit Rama, Desa Pasir, Kecamatan Mempawah Hilir. Sore harinya, dilakukan napak tilas dari Istana Amantubillah menuju makam R Adinata yang juga pernah menjadi Raja Mempawah. Adapun malam harinya, juga ada acara adat toana (pemberian gelar), sekaligus jamuan makan malam bersama Raja dan Sultan se-Nusantara.

Raja Mempawah dan Masyarakat Berbaur di Saprahan

Hari Ketiga

Rabu, 15 November 2017

Hari Rabu adalah puncak ritual Robo-Robo. Pagi harinya, sebelum berangkat ke sungai Kuala Mempawah, Raja Mardan bersama kerabat dan masyarakat setempat terlebih dahulu menggelar Saprahan di halaman Istana Amantubillah. Saprahan adalah menggelar makan bersama, dua baris saling berhadapan.

Selesai Saprahan,   Raja, Permaisuri beserta kerabat, Pangeran, Panglima, laskar kerajaan, dan rombongan, menuju Sungai Kuala Mempawah dengan menggunakan Perahu Lancang Kuning dan Perahu Bidar. Raja dan Permaisuri memimpin secara langsung ritual buang-buang dan tepung tawar kapal-kapal nelayan. Tepung tawar merupakan simbol permohonan agar kapal-kapal nelayan mendapatkan tangkapan yang banyak dan terhindar dari bencana.

Ribuan Masyarakat

Robo-Robo rupanya sudah menjadi pesta rakyat setiap tahunnya, Kids. Tak heran kalau sejak pagi, ribuan masyarakat sudah tumpah ruah memenuhi pinggiran Sungai Kuala Mempawah. Tak hanya di darat, banyak juga yang memadati Sungai Kuala Mempawah dengan menggunakan sampan dan perahu motor air. Mereka nampak sangat gembira mengiringi Perahu Kerajaan Amantubillah.

Perayaan Robo-Robo di Sekolah

Robo-Robo di Sekolah

Tak hanya orang dewasa, anak-anak juga sangat antusias, lho, dengan upacara adat Robo-Robo ini. Terbukti, di sekolah-sekolah pun para siswa ikut bersuka cita menyambut Robo-Robo. Pada hari tersebut, para siswa secara khusus membawa makanan masing-masing dari rumah untuk menggelar Saprahan di sekolah. Tak hanya mempererat rasa toleransi dan kebersamaan, peringatan Robo-Robo di sekolah juga untuk melestarikan adat istiadat agar tidak punah. Bagus, ya, Kids? (Novi/Foto-Foto: Novi)

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *