Bertepatan dengan hari ulangtahunnya yang ke-16 di Ramadan ini, lembaga kemanusiaan ACT (Aksi Cepat Tanggap) meluncurkan serial web berjudul Atap Padang Mahsyar. Disutradarai oleh Bapak M. Dedy Vansophi, film ini menceritakan tentang keutamaan sedekah, baik untuk diri sendiri, yakni sebagai naungan saat hari akhir tiba dan manusia dikumpulkan di padang mahsyar, maupun untuk orang lain yaitu meringankan beban dan masalah yang mereka miliki.

Lewat gerakan kedermawanan, ACT berupaya mengedukasi masyarakat luas tentang keutamaan sedekah, yang disampaikan melalui serial web bertajuk ‘Atap Padang Mahsyar’. Resmi diluncurkan pada Rabu, 21 April 2021 di Menara 165, Jakarta Selatan, acara yang dipandu oleh Rizky Kinos ini juga dihadiri oleh Presiden ACT Ibnu Khajar, Senior Vice President ACT N. Imam Akbari, Sutradara M. Dedy Vansophi, dan salah satu pemain utama serial Atap Padang Mahsyar, M. Taufik.

Presiden ACT Ibnu Khajar mengenang kembali saat-saat dimana ACT lahir. “Ketika terjadi musibah tsunami Aceh, 16 tahun lalu, saat itulah kesadaran saling membantu, tumbuh. Itulah awal mula ACT mulai bergerak. Terjadi perubahan luar biasa, dimana ada bencana, di situ ACT hadir. Selama 16 tahun, kita hadir di sudah lebih dari 67 negara dan ada lebih dari 600 ribu relawan. ACT ada di 34 provinsi, 345 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia,” paparnya.

“Atap Padang Mahsyar merupakan kisah sederhana yang sarat akan nilai keutamaan sedekah. Ini selaras dengan apa yang ACT tengah ikhtiarkan bersama masyarakat dalam membangun bangsa di tengah kondisi pandemi. Di usia ke-16 ini kami membawa spirit ‘Bangkitkan Sejatinya Bangsa’ dan mengajak masyarakat gotong royong untuk membantu sesama. Hal ini mengingat masalah bangsa ini belum selesai, masih banyak saudara sebangsa yang terjerat kemiskinan. Dan di momen Ramadan ini, kami ingin masyarakat optimis, meski kondisi nampak sulit akibat pandemi. Kami ingin semua orang bergerak membantu saudaranya, memberikan aksi kebaikan tanpa batas. Sedekah itu membantu kebutuhan komunal di sebuah wilayah. Pesan inilah yang relevan dengan kondisi kita saat ini, yang juga kami terus sampaikan melalui gerakan kedermawanan maupun aksi kemanusiaan,” terang Bapak Ibnu.

Sementara itu, Senior Vice President ACT sekaligus Penasihat Produksi Serial “Atap Padang Mahsyar” N. Imam Akbari menambahkan, serial tersebut mengingatkan umat Muslim kembali pada sebuah hadits Nabi Muhammad terkait sedekah sebagai naungan di padang mahsyar. Bagaimana nantinya di padang mahsyar, matahari di atas kepala. Orang yang kurang beramal akan tenggelam oleh keringatnya sendiri. “Tetapi di padang mahsyar nanti bisa ada naungannya. Apa? Ya sedekah tadi. Sedekah jariyah bisa jadi solusi untuk permasalahan umat. Maka dari itu, kami terus meluaskan nilai-nilai sedekah ini, baik yang sifatnya gerakan maupun aksi kemanusiaan. Kami berharap sedekah tidak hanya membawa kebahagiaan dan kebaikan bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan, tapi juga bagi kita sendiri,” ujar Bapak Imam.

Menurut Bapak Imam, sedekah merupakan solusi dari langit. Berdasarkan psikologi, jika kita konsisten bersedekah selama 21 hari, akan jadi habit dan kebiasaan baik. Masjid adalah rumah Allah, rumah seluruh umat tanpa kecuali. Di dalam Masjid bukan hanya hubungan vertikal ke atas dengan Allah hablumminallah tapi juga bagaimana Masjid bisa menjadi tempat hubungan horizontal dengan manusia atau hablumminannas terus digelorakan. Selesai sholat, salam kanan kiri, itu sebagai simbol bagaimana hablumminannas itu tetap dijaga. “Film ini juga bentuk komunikasi budaya yang dipahami milenial dimana bisa jadi sebuah gerakan kebaikan, seperti gerakan sedekah,” tandas Bapak Imam.

Tak hanya itu, serial ini pun menanamkan pesan bahwa sedekah dapat dilakukan oleh semua manusia, baik dalam kondisi lapang maupun sulit. Utamanya di bulan Ramadan ini, dimana Ramadan merupakan momen terbaik untuk bersedekah sebagai bagian dari amal saleh.

Penulis sekaligus sutradara M. Dedy Vansophi, atau yang kerap disapa Romo ini menyebut, serial ‘Atap Padang Mahsyar’ ia buat berdasarkan kisah nyata yang berasal dari desanya di Pemalang, Jawa Tengah. “Jadi saya itu sedang menerbitkan kumpulan cerpen yang semuanya terinspirasi dari cerita-cerita Islam yang saya dapatkan di pinggir jalan atau dari ‘orang-orang kecil’. Nah, salah satunya cerita Atap Padang Mahsyar ini. Banyak nilai langka dalam cerita ini yang berbobot, yang bisa kita sampaikan,” ujar Romo.

M. Taufik yang memerankan tokoh Tarban mengaku sangat tertantang menerima peran tersebut. “Ceritanya sangat menarik, tapi bertentangan dengan peran yang biasanya saya terima yaitu sebagai orang jahat. Tantangannya luar biasa, saya belajar jadi orang baik,” ucapnya tersenyum.

Tokoh lain yaitu Cahya Nagara yang memerankan sosok Arul. Anak motor selengean dan jail namun haus akan ilmu ini mengatakan, ‘Atap Padang Mahsyar’ merupakan serial yang edukatif, karena banyaknya pesan bermanfaat yang bisa didapat saat menonton serial ini. “Dengan film ini, kita juga diajarkan untuk menghargai orang lain, jangan sampai mengambil hak orang lain, lalu ada beberapa bagian dimana kita diingatkan akan kematian. Banyak sekali manfaat dari film ini, jadi wajib banget ditonton,” ujar Cahya.

Atap Padang Mahsyar sendiri menceritakan Musala Baiturrahman yang atapnya rapuh dan bocor, namun safnya selalu terisi. Suatu hari, sebagian atapnya roboh. Jemaah yang ingin memperbaiki, terkendala dengan pendapatan mereka yang pas-pasan.

Jemaah musala yang punya kebiasaan mendengar ceramah radio bersama-sama, saat itu mendengar ceramah dengan topik Padang Mahsyar. “Matahari di atas kepala. Orang yang kurang beramal akan tenggelam oleh keringatnya sendiri.”  Mereka yang mendengar ceramah tersebut, menjadi cemas dan takut karena memikirkan amalnya yang kurang. Kyai Bukhori sebagai orang yang dituakan, mengajak jemaah untuk bersedekah membangun kembali atap musala yang roboh. Sebagai penenun sarung, kyai akan menenun lebih banyak. Upah membuat sarung akan disisihkan untuk membangun atap musala. Jemaah yang lain pun mengikuti cara kyai, meski profesi mereka berbeda-beda.

Namun nyatanya, usaha jemaah membangun kembali atap musala tersebut tidak melulu berjalan mulus. Terdapat berbagai konflik dan rintangan yang mengganjal usaha bersedekah jemaah. “Apa saja rintangannya? Yuk, saksikan bagaimana serunya aksi Kyai Bukhori bersama para jemaah dalam upayanya mendapat naungan di Padang Mahsyar. Insyaa Allah tayang hanya di Youtube dan Facebook resmi ACT, mulai Jumat, 23 April 2021 pukul 17.30 WIB,” ajak Romo.

Foto: Novi

 

 

 

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *