KRINCING! Lagi-lagi Ferli menjatuhkan uang-uang logam kembalian jajan di kantin. “Kenapa sih, harus ada uang logam?” keluh Ferli.  Ferli benci  uang logam. Uang logam membuat dompet berat dan kalau sudah terlalu banyak, tidak bisa ditutup. Uang logam juga membuat malu kalau Ferli menjatuhkannya.  Ferli menendang uang-uang logam-nya yang jatuh, ke rumput taman sekolah.

“Kok, uang logamnya dibuang?” tanya sebuah suara yang membuat Ferli tertegun. Seorang anak perempuan dikuncir dua, mengambil uang-uang logam yang ditendang Ferli. Wajah anak itu bahagia sekali. “Kalau nggak mau, buat aku aja!” kata si anak memandang Ferli sambil tersenyum. “Ambil saja kalau kau mau. Eh, kamu anak kelas 4, kan? Aku kelas 5, berarti kakak kelasmu. Yang sopan, dong,” kata Ferli pada si anak berkuncir dua. “Hehe maaf, Kak, habis aku bahagia banget dapet uang logam. Namaku Uni,” kata si anak berkuncir dua sambil memperkenalkan diri. “Aku Ferli. Kenapa kamu suka uang logam?” tanya Ferli ingin tahu. “Uang logam hebat,” jawab Uni. KRIIIING! Bel istirahat usai, berbunyi. “Aku masuk kelas dulu ya, Kak,” kata Uni. Belum sempat Ferli menanyakan kembali jawaban Uni, anak itu sudah berlari masuk ke kelasnya.

Sepulang sekolah, Ferli menunggu Uni di luar kelasnya. “Eh, Kak Ferli,” sapa Uni. “Maaf Uni, ada yang mau kutanyakan, mau buru-buru pulang?” tanya Ferli. “Enggak kok, Kak,” jawab Uni. Ferli lalu mengajak Uni ke kantin untuk makan. “Aku bayarin, ya,” kata Ferli. “Enggak mau, Kak, Kakak sudah memberikan aku uang logam, jadi aku yang bayar,” kata Uni. “Tapi nanti uang logam dariku, pasti akan terpakai,” ucap Ferli bersikeras. Uni lalu mengeluarkan dua celengan cantik dari botol plastik bekas. “Tenang saja, Kak, uang logam dari Kakak, kumasukkan di celengan ini,” kata Uni sambil mengangkat sebuah celengan botol bekas yang belum penuh terisi uang logam. “Yang kupakai untuk mentraktir Kakak, yang ini,” ujar Uni mengangkat celengan botol bekas lain yang sudah penuh terisi uang logam. “Kamu membuat celengan itu sendiri? Hebat!” kata Ferli kagum. “Aku sayang membuangnya, Kak,” tutur Uni tersipu malu. Mie ayam pesanan Ferli dan Uni datang. Mereka mengobrol sambil makan. “Uni, apa maksudmu uang logam itu hebat?” tanya Ferli. “Aku bisa belajar menabung. Papa dan Mama mengajari-ku menabung  dengan uang logam. Adik-adikku juga menabung dengan uang logam. Dan mereka bisa membeli peralatan sekolah sendiri karena uang logam. Sama seperti aku,” cerita Uni.

Mendengar cerita Uni, Ferli  menyesali perbuatannya. “Selama ini aku  selalu membenci uang logam. Terima kasih, Uni, aku jadi sadar kalau yang kecil pun berguna,” kata Ferli. Ferli pun berjanji akan belajar menabung dan menghargai sesuatu seperti Uni. (Teks: Seruni/ Ilustrasi: Just For Kids)

 

 

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *