Menghadapi pergantian tahun dari 2021 menuju 2022, ekosistem muslim digital umma Indonesia menggelar Qur’anicRewind 2021. Acara tersebut bertujuan memaknai setiap peristiwa selama kurun waktu satu tahun lalu dari sudut pandang Islam. Acara ini digelar secara virtual melalui live streaming di beberapa kanal digital dan juga ditayangkan langsung pada aplikasi umma pada Jumat 31 Desember 2021 mulai pukul 19.30 hingga 23.30 WIB.

Hadir sebagai pembicara di antaranya KH. Fikri Haikal MZ, Ustadz Faris BQ, Ustadz Ririe Ridwan, Ummi Hani Hendayani, Ustadz Parwis Palembani, dan Kang Ray Shareza. Mereka memberikan tausiah terkait kejadian yang terjadi sepanjang 2021 yang ditayangkan dalam video kaleidoskop peristiwa 2021.

KH Fikri Haikal MZ, sebagai salah satu pembicara dalam acara ini, membahas mengenai bencana alam yang terjadi sepanjang Januari dan Februari 2021. Peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air, gempa Majene dan Mamuju Sulawesi Barat serta pada periode yang sama Indonesia kehilangan ulama besar Syekh Ali Jaber. Tercatat pula sebanyak 600 tenaga medis gugur selama pandemi.

Putra almarhum KH. Zainuddin MZ ini mengatakan, “Semua yang terjadi di dunia ini adalah ketetapan Allah, sehingga wajib bagi kita sebagai umat Islam untuk senantiasa bermuhasabah. Karena apapun yang terjadi dalam hidup ini mempunyai dampak tersendiri dari apapun yang kita lakukan, baik itu perbuatan yang baik ataupun tidak baik.“

Kemudian di sesi kedua, Ummi Hani Hendayani seorang ustadzah sekaligus konsultan keluarga, memberikan tausiah terkait peristiwa yang terjadi selama Maret dan April 2021 di antaranya masih terjadi bencana alam, seperti erupsi Gunung Sinabung, banjir bandang Flores, dan tenggelamnya KRI Nanggala 402.

Beliau mengimbau kepada umat Islam untuk selalu menjaga agamanya, “Orang muslim pun, tanpa sadar menginjak-nginjak agamanya sendiri entah itu dengan perkataanya, entah itu dengan sikap dan perbuatanya, terkadang juga dengan status di media sosial. Akibatnya, ketinggian dan keindahan Islam akhirnya tertutupi oleh tingkah laku dari umat Islam yang bodoh yang pendosa. Dia muslim tapi tidak mengenal agamanya, dia muslim tapi terkangkangi oleh hawa nafsunya sehingga memperlihatkan sikap dan perilaku yang tidak sesuai dengan keyakinannya. Hidayah itu sungguh mahal dan sangat berharga sehingga kita harus bersyukur kepada Allah SWT dengan kesyukuran yang mendalam dan berusaha untuk istiqomah menjalankan perintah Allah SWT, maka muhasabah menjadi momentum bagi kita untuk merefleksi diri kita,” pesannya.

Pentingnya saling peduli dan tolong menolong, ditekankan oleh Ustadz Ririe Ridwan. Ia menyampaikan bahwa sikap tolong menolong di setiap kesempatan sangat perlu untuk dilakukan walaupun dalam keadaan sulit. “Banyak orang yang tidak bisa berangkat ke tanah suci, yang sudah tidak bisa menjalani hari kedepan, karena sudah berpulang atau bahkan di antaranya wafat karena pandemi, namun Allah masih memberikan hati yang lapang, kekuatan dan kedermawanan kita semua untuk saling membantu sesama,” ujarnya..

Pada sesi kelima, Ustadz Parwis Palembani, memberikan tausiah terkait peristiwa yang terjadi sepanjang September-Oktober 2021. Mulai dari kehebohan kasus pesugihan yang menumbalkan anak kandung hingga berita tentang keputusan pemerintah Arab Saudi yang mencabut kebijakan menjaga jarak shaf di Masjidil Haram.

Dalam akhir tausiyahnya, ia mengingatkan, “Siapa di antara kita punya satu target jangka panjang ingin bersumpah, bersua dan berjumpa dengan Allah, maka yang pertama adalah lakukanlah repeat order yang banyak yaitu kebajikan, amal sholeh lalu kemudian janganlah kita kecewakan kelak seiring amal sholeh yang kita perbuat karena kita melakukan kesyirikan di mata Allah SWT.”

Sesi terakhir yang merupakan salah satu sesi yang ditunggu yaitu membahas peristiwa yang terjadi di bulan November – Desember 2021 sekaligus doa penutup, Ustadz Faris BQ, selaku pendiri Pesantren Urban ImanPath, mengkaji tentang fenomena bencana alam yang melanda Indonesia, erupsi Gunung Semeru, berpulangnya putra kedua KH. Arifin Ilham yaitu Ustadz Ameer Az Zikra, serta kabar diumumkannya varian pertama omicron di Indonesia.

Ustadz Faris menjelaskan mengenai pentingnya refleksi diri sebagai pengingat bahwa kita sebagai manusia tidak ada apa-apanya dibanding kuasa Allah SWT. “Saya tidak akan membahas setiap kejadian satu persatu, saya akan sampaikan satu pesan

saja, bahwa dari semua peristiwa yang terjadi adalah ketetapan Allah agar salah satunya kita semakin ingat akan kematian, karena kematian tidak mengenal usia dan setiap saat bisa datang,” pesannya.

Ustadz Faris menambahkan, “Kita tidak perlu bingung memahami banyak hal, kita tidak harus mengerti segala sesuatu yang Allah kirimkan kepada kita. Jika itu baik maka kita harus bersyukur dan akan menjadi kebaikan bagi kita, tapi jika itu kesusahan, ujian, kesempitan, kita harus bersabar dan menyerahkannya kepada Allah, karena itu juga baik bagi kita. Maka kita tak perlu takut berlalu ribuan tahun dalam kehidupan kita asalkan keimanan kita kepada Allah SWT penghambaan kita kepada Allah SWT makin kokoh dan sempurna.“

Tak lupa Ustadz Faris berpesan agar pada tahun 2022 umat Islam menjadi lebih baik dan makin takwa kepada Allah SWT karena apa yang terjadi semua atas kehendak-Nya.

Foto: Ist

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *