Di sebuah kerajaan bernama Obalo, ada seekor tupai terbang bernama Tutu yang berbeda dari tupai terbang lain. Orangtua Tutu sudah tiada, tapi keluarga burung layang-layang yang baik hati kemudian mengasuh Tutu seperti anak sendiri. Karena tinggal bersama keluarga burung, Tutu jadi bisa terbang seperti burung. Hal inilah yang membuat dia berbeda. Karena kemampuannya ini, Tutu dianggap aneh oleh binatang-binatang lain di hutan. Tapi Tutu tidak sedih. “Kalian hanya iri padaku, benar-benar payah!” katanya sombong. Sejak keluarga burung layang-layang yang mengangkat anak Tutu pergi bermigrasi, Tutu jadi sendirian di hutan. Tapi Tutu tidak mau mencoba berteman dengan binatang-binatang yang menganggapnya aneh, dan memilih jadi penyendiri.

Suatu hari, Raja dan Ratu Obalo yang sedang berjalan-jalan di hutan melihat kemampuan Tutu. “Luar biasa! Tupai terbang yang terbang seperti burung!” kata mereka. Tutu diundang ke istana dan menunjukkan kemampuannya pada Raja dan Ratu. Raja dan Ratu kagum dan memberikan hadiah hutan pribadi bagi Tutu. Tutu sangat senang dan bangga. “Memang lebih enak hidup sendirian,” kata Tutu. Tapi setelah beberapa saat Tutu tinggal sendirian di hutan pribadinya, dia mulai merasakan ada yang kurang. “Hanya perasaanku saja,” katanya berusaha menutupi hatinya yang resah.

Suatu pagi, Tutu dikejutkan oleh suara kepakan sayap burung. Ternyata keluarga burung layang-layang yang mengangkat Tutu jadi anak. Mereka kembali dari tempat migrasi untuk menengok Tutu. “Tutu, kau punya hutan sendiri!” seru ibu angkatnya kaget. Tutu bercerita tentang apa yang terjadi selama ini pada keluarga angkatnya. “Tapi tidak-kah kau kesepian? Hutan pribadi-mu ini menyedihkan.  Walaupun indah, tapi tidak terdengar suara apapun, bahkan burung yang berkicau di pagi hari!” kata ayah angkatnya. “Aku punya keluarga baik seperti kalian, tak perlu yang lain,” kata Tutu. “Suatu saat kami pasti jadi tua dan mati. Siapa yang akan bersamamu saat kami tiada? Hanya binatang-binatang lain! Tutu, kau tak bisa hidup sendirian,” ujar ayah dan ibu angkatnya menasihati. “Tapi binatang-binatang  lain menganggapku aneh!” seru Tutu marah. “Namun mereka tak membenci dan mengganggumu. Yang perlu kau lakukan hanya bersikap baik pada mereka,” kata saudara angkatnya.

Tutu menuruti nasihat keluarga angkatnya. Dia mengajak binatang-binatang lain berteman  dan mengundang  mereka ke hutan pribadinya. “Maaf kami menganggapmu aneh, Tutu, kau ternyata baik!” kata binatang-binatang lain. Kini setiap pagi Tutu bangun mendengar kicau merdu burung, dan kemanapun dia pergi, ucapan selamat pagi selalu menyambutnya. Ternyata hidup rukun dengan yang lain sangat menyenangkan! Tutu tak mau jadi penyendiri lagi.

 

Cerita: Seruni     Ilustrasi: Agung

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *