Toilet yang Terkunci

Hari ini, SD Cemerlang mengadakan kerja bakti. Semua siswa wajib membersihkan tiap ruangan di sekolah. “Aduuuuh… Kenapa kita kebagian tugas membersihkan toilet, sih?” keluh Devin. “Iya, giliran yang susah begini, kita yang disuruh,” timpal Roni sambil menyikat lantai toilet.

Tes.. tes.. tes..

“Pasti ada yang lupa mematikan kran wastafel ini,” ujar Devin seraya mengencangkan kran. Airnya langsung berhenti menetes. Ia lalu membersihkan wastafel. Sedangkan Roni, sedang sibuk membersihkan kamar toilet. Ada 3 kamar toilet yang harus dibersihkan.

“Asyik, tinggal 1 kamar toilet di pojok yang belum,” ucap Roni. “Semangat, ya, Ron, aku masih membersihkan wastafel dan kacanya, nih,” tutur Devin.

Saat akan membuka pintu kamar toilet ketiga, Roni kesusahan. “Devin, kenapa pintu toilet ini terkunci?” tanya Roni penasaran. “Kok terkunci, tadi kan tidak ada siapa-siapa!” jawab Devin ikut penasaran.

“Halo, ada orang di dalam? Kalau ada, siapa, ya?” ucap Roni setengah berteriak. “Iya, ada, aku Dimas,” terdengar jawaban dari dalam toilet dengan nada datar. “Cepat, dong, kami mau membersihkan toiletnya, nih,” balas Roni. Namun, tak ada jawaban dari dalam toilet.

“Aku sudah selesai membersihkan wastafelnya, kamu sudah selesai belum?” tanya Devin. “Belum, nih, ada anak di dalam toilet ini,” jawab Roni.

“Ya sudah, kita tunggu di luar saja, yuk,” ajak Devin. Mereka berdua pun berdiri di depan pintu.

Hampir setengah jam berlalu.

“Wah, lama juga, sih, Dimas di toiletnya!” keluh Roni. “Ayo, kita periksa ke dalam,” ajak Devin. Devin dan Roni kembali masuk ke dalam toilet.

Alangkah kagetnya kedua sahabat ini, saat melihat tak ada siapa-siapa di toilet pojok. Namun, klosetnya masih nampak basah seperti baru digunakan.

“Roni, lihat wastafelnya!” teriak Devin. Air kran di wastafel mengalir deras. “Tadi aku sudah mematikan krannya, kenapa airnya masih keluar?” ujar Devin bertanya-tanya. Ia pun kembali mematikan krannya, dan air pun berhenti mengalir.

“Lebih baik, kita keluar saja, yuk!” ajak Roni. Keduanya pun bergegas keluar dan berjalan kembali ke kelasnya.

Roni dan Devin lalu berpapasan dengan Pak Abdul, si penjaga sekolah. “Wah, kalian kenapa terburu-buru dan ketakutan?” tanya Pak Abdul. “Mmm… Iya, Pak. Tadi waktu kami membersihkan toilet, ada anak sedang memakai toilet, tapi tiba-tiba menghilang,” cerita Roni.

“Bagaimana mungkin menghilang? Pintu keluar toilet laki-laki kan hanya satu,” kata Pak Abdul tak percaya. “Iya, padahal kami menunggu di depan pintu keluar, tapi bisa nggak ada,” jawab Devin.

“Memangnya siapa anak di dalam toilet itu?” kata Pak Abdul kembali bertanya. “Katanya, sih, Dimas,” Roni menjawab.

“Hah, Dimas?” ucap Pak Abdul tak percaya. “Lho, memang siapa Dimas, Pak?” Roni balik bertanya. “Mmm… 5 tahun lalu, Dimas adalah anak kelas 4 di sekolah ini,” cerita Pak Abdul. “Dulu, Dimas sering diejek dan dinakali oleh teman-temannya. Makanya ia sering bersembunyi di dalam toilet. Namun, suatu hari setelah dinakali, ia menghilang begitu saja di sekolah. Dicari di dalam toilet pun tidak ada. Sampai sekarang, Dimas belum ketemu,” lanjut Pak Abdul.

“La… la… lalu, tadi itu Dimas?” seru Devin terbata-bata sambil beradu pandang dengan Roni. Keduanya lalu bergegas kembali ke dalam kelas dan tak mau memikirkan tentang Dimas lagi.

(Cerita: Just For Kids/ Ilustrasi: Just For Kids)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *