Saat ini kita memang berada di era digitalisasi. Paparan gadget atau gawai kepada anak selama proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) tidak dapat terhindarkan, pasalnya e-learning merupakan sebuah inovasi terbaik dalam memberikan pemerataan informasi ilmu pengetahuan dan komunikasi ke seluruh daerah di Indonesia. Namun, keselarasan dengan cara konvensional seperti menulis atau mencatat kembali hasil pembelajaran di buku tulis patut terus digalakkan oleh semua pihak kepada pelajar-pelajar Indonesia.

Coba perhatikan si kecil di rumah.Apakah ia lebih banyak mengetik di keyboard smartphone, laptop atau komputer ketimbang menulis di atas buku? Walaupun sama-sama mencatat, namun menulis secara manual di atas buku memiliki lebih banyak keunggulan dibandingkan mencatat dengan gadget. Dan, yang pasti, lebih aman.

Baca juga: Kebiasaan Menulis dengan Tangan Tingkatkan Daya Ingat Otak

“Anak-anak kita saat ini memang lahir di zaman teknologi yang terbuka luas. Ini bisa jadi kesempatan baik, tapi bisa juga jadi bumerang kalau tidak hati-hati,” katanya. Terlalu lama terpapar gadget tentu tak baik dengan perkembangan anak, contohnya saja bahaya radiasi sinar biru dari gadget yang bisa membahayakan mata anak bila ia terpapar berjam-jam tanpa henti. Dan, hal itu, tidak ditemui bila anak menulis di atas buku.

Marcelina Melisa, M.Psi, Psikolog dalam webinar bertajuk “Pentingnya Menjaga Minat Menulis Anak” yang diselenggarakan oleh buku tulis SiDU, Kamis (03/12)

“Selain itu, saat anak membiasakan menulis di buku, anak bisa belajar lebih mandiri tanpa perlu diawasi. Orangtua nggak perlu merasa khawatir kalau anak membuka aplikasi lain di gadget, misalnya game atau hal lainnya,” urai Marcelina Melisa, M.Psi, Psikolog dalam webinar bertajuk “Pentingnya Menjaga Minat Menulis Anak”  yang diselenggarakan oleh buku tulis SiDU.

Aktivitas menulis, katanya, perlu diajarkan pada anak sejak usia dini. Yakni saat kemampuan menggenggam anak sudah stabil. Yakni sekitar usia 2,5 hingga 3 tahun. Mulai dari anak menggenggam alat tulis,sampai dia bisa menulis dengan kecepatan baik sesuai dengan usia dan tuntutan belajarnya. “Dan, yang paling krusial itu saat anak sudah duduk di kelas 1 SD. Sebab, di tahap ini anak harusmengikuti kurikulum, sudah ada tuntutan pada anal. Mungkin di TK anak sudah belajar tulisan huruf dan angka, tapi saat SD, ia harus sudah bis alebih baik lagi.kecepatan menulis harus disesuaikan, kalau tidak anak bisa ketinggalan. Dan, ini semua perlu latihan,” katanya.

Ia lalu memberikan contoh kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan anak dengan orangtua dan guru untuk membantu menanamkan kebiasaan menulis anak. Ada beberapa hal yang dapat memicu anak untuk mulai mencintai kegiatan menulis, yakni:

  1. Orangtua dan guru dapat membuat aktivitas menulis di buku tulis menjadi sebuah permainan, yang mana anak mendapatkan misi dan hadiah jika dapat menyelesaikan permainan dengan baik dan benar.
  2. Membuat kuis yang sederhana dan menyenangkan seputar pelajaran, mengajak anak untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan menulis di dalam buku tulis.
  3. Mengajak anak untuk menulis diary di buku tulis. Hal ini tidak hanya akan memicu daya tarik anak untuk menulis, namun membangun kedekatan antara orangtua atau guru dengan anak, sehingga lebih mengerti minat, karakter dan masalah anak.
  4. Mengajak anak untuk kembali menuliskan hasil pembelajaran yang ditangkap ke dalam buku tulis, sehingga dapat memicu otak anak untuk mengingat dan memahami hasil pembelajaran yang diberikan

Kegiatan-kegiatan untuk mendorong minat anak terhadap menulis pun turut dilakukan oleh SiDU. Sejak tahun 2017, Buku Tulis SiDU berkomitmen untuk menjadi bagian dari peningkatan berkelanjutan untuk pendidikan nasional dengan memberdayakan anak-anak Indonesia melalui kebiasaan menulis dalam gerakan “Ayo Menulis Bersama SiDU”. Berbagai kegiatan telah dilakukan untuk menginspirasi dan memberikan dukungan kepada generasi muda dalam menulis, seperti pemberian buku latihan menulis untuk anak serta pendampingan yang melibatkan orang tua dan guru secara intensif dengan modul yang berlangsung selama 21 hari. Buku latihan menulis tersebut terdiri dari berbagai topik untuk memancing minat menulis anak, seperti mengenal diri sendiri dan asal usul kertas.

“Kegiatan “Ayo Menulis Bersama SiDU” telah melibatkan 60.000 murid dari 300 sekolah dasar di Jabodetabek. Tidak hanya untuk murid, namun SiDU juga ingin menjadi partner bagi orang tua, guru dan pemerintah dalam mengembangkan kebiasaan menulis anak Indonesia sehingga dapat membantu meningkatkan kompetensi generasi masa depan Indonesia untuk mampu bersaing secara global dan berkontribusi dalam membangun dunia menjadi lebih baik lagi,” ungkap Suhendra Wiriadinata, Direktur APP Sinar Mas.

Foto: Efa, Ist

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *