Tahukah kamu? Angka anak  yang menjadi korban perundungan/kekerasan di media sosial (children cyberbullying) semakin meningkat dan mengkhawatirkan. Beberapa hasil survei yang dilakukan baik oleh EU Kids Online Survey 2020, maupun SEJIWA, KPIA, UNICEF, APJII maupun laporan yang diterima Polda Metro Jaya, sama-sama menunjukkan adanya kenaikan dari kasus perundungan yang paling banyak dialami oleh anak-anak usia remaja.

Cyberbullying adalah kondisi dimana seseorang merasa tidak nyaman terhadap komentar/informasi/gambar foto yang ditujukan untuk dirinya, yang bertujuan menyakiti, intimidasi, menyebar kebohongan dan menghina, yang di posting di internet, jejaring media atau teknologi digital lainnya, yang dilakukan oleh orang lain.

Menurut Ibu Diena Haryana, Founder Yayasan Sejiwa, dampak perundungan di media sosial bisa sangat besar, membekas hingga jangka panjang karena rasa malu yang ditimbulkan mengingat postingan buruk terhadap dirinya telah disaksikan ribuan orang netizen. “Akibatnya sangat membahayakan. Sayangnya, banyak korban yang lebih memilih diam, tidak mengadukan kasus yang menimpanya, sehingga pada akhirnya mengganggu pertumbuhan jiwanya,” ucap Ibu Diena.

“Beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah dampak buruk cyberbullying. Sebagai teman, kita memberi dukungan untuk mendengarkan masalah yang dihadapi, menyemangati, dan dapat mengajaknya untuk melaporkannya kepada guru atau orangtuanya. Kita juga dapat meng-counter atau menangkal informasi negatif dengan memberikan komentar positif tentang sahabat kita,” saran Ibu Diena.

“Bijaklah dalam menggunakan media sosial, pikir baik-baik sebelum memposting sesuatu karena jejak digital tidak akan mudah dihilangkan. Tumbuhkan empati dalam diri dan hindari memposting hal-hal negatif tentang orang lain karena hal itu tidak akan memberikan manfaat untuk hidup kalian,” tambah Ibu Diena.

Sementara Ibu Anna Surti Ariani, S Psi. M.Si, Psikolog, perwakilan Ikatan Psikolog Klinis Indonesia menyampaikan bahwa 45% dari 2,777 anak muda usia 14-24 tahun pernah mengalami cyberbullying (Survey UNICEF  U- Report 2021). Alasan orang melakukan cyberbullying adalah ia ingin merasa kuat, harga dirinya rendah, kurang berempati, ingin popular, dan tidak sadar akan dampak yang ditimbulkan.

“Ciri-ciri seseorang yang terdampak cyberbullying  yaitu: menarik diri, mudah emosi, menjadi cenderung pendiam dan tidak mau bersosialisasi, mengganti akun sosial media, tidak lepas dari gawai, dan kehilangan minat melakukan kegiatan lain,” terang Ibu Anna. “Cara mencegah menjadi korban cyberbullying dengan membatasi waktu memegang gawai, mengetahui apa itu cyberbullying, membatasi konten dan aplikasi pada gawai, bijak atau memiliki perilaku digital yang baik,” tambahnya.

Foto: Ist

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *