Rumah di seberang rumah Meti itu sudah kosong sejak Meti dan keluarganya pindah ke rumah yang sekarang  dan menetap di sana. Saat itu Meti masih TK dan sampai sekarang, ketika Meti sudah masuk SMP, rumah kosong di seberang itu masih juga kosong. Banyak cerita-cerita seram tentang rumah itu. Pernah Meti dan Erwin, adik laki-lakinya, melakukan uji nyali dengan berdiri selama mungkin di depan rumah kosong itu malam-malam, berharap melihat hantu, tapi tak ada kejadian menyeramkan.  Jadi, Meti menganggap semua cerita seram tentang rumah kosong itu cuma karangan saja. Suatu hari Meti sekeluarga berlibur ke luar negeri, dan ketika mereka pulang, rumah kosong sudah ditempati! “Wah, kita punya tetangga baru!” kata Mama senang. “Akhirnya rumah kosongnya ditempati juga,” tambah Papa. Meti dan Erwin berpandangan. “Yah, kita nggak bisa uji nyali lagi!” keluh Erwin. “Rumah kosong itu nggak seram, jadi nggak ada gunanya juga dibuat uji nyali,” kata Meti.

Sore hari berikutnya sepulang sekolah, Meti bertemu dengan tetangga barunya, seorang anak perempuan yang sebaya dengan Meti, dan anak itu memakai pakaian serba hitam.  Meti menyapa anak perempuan itu, tapi anak itu malah masuk ke dalam rumah. Meti bingung melihat tingkah lakunya.  Erwin juga mengalami hal yang sama dengan Meti. “Kak, aku juga bertemu dengan dia tadi siang, dan bajunya hitam. Siang tadi  panas banget, masa dia betah pake baju hitam? Aneh,” kata Erwin.  Ternyata Papa dan Mama juga sudah bertemu tetangga baru. “Ya, mereka semuanya pakai baju hitam,” kata Mama. “Aneh!” seru Meti dan Erwin. “Tidak aneh. Mereka sekeluarga suka warna hitam,” kata Papa dan Mama. “Menurutku tetangga baru itu seram,” kata Erwin pada Meti ketika mereka berdua naik ke lantai atas, bersiap untuk tidur. Meti yang ragu-ragu hanya bisa diam.

Hari Minggu pagi,  Meti dan Erwin menemukan sehelai kertas di garasi mobil, dan mereka terkejut ketika melihat gambar di kertas itu. Gambar seekor ular  besar dengan mata berwarna merah darah! Erwin ketakutan. Meti menenangkan Erwin sambil meremas kertas bergambar itu dan membuangnya ke tong sampah. Erwin meremas tangan Meti sambil berbisik. “Tetangga baru kita yang menaruh kertas itu! Aku melihatnya tadi malam dari jendela kamar!” Rasa takut mulai menyerang Meti, tapi dia memberanikan dirinya. “Kalau dia iseng lagi, aku akan datangi rumah mereka!” seru Meti. Siang harinya ketika Meti menuruni tangga rumahnya, dia mengalami kejadian aneh. Dia merasa ada yang mendorongnya dari belakang! Untung saja dia tidak jatuh. Belum selesai rasa kaget Meti, Erwin berlari menghampirinya dengan wajah ketakutan. “Tetangga baru kita di depan rumah, memandang ke dalam dengan tatapan aneh!” seru Erwin. PRANG! tiba-tiba ada suara piring pecah dari dapur. Siapa itu? Di rumah hanya ada Meti dan Erwin! Dan.. sejak kapan rumah jadi lembab dan dingin? Padahal di luar panas sekali! Meti dan Erwin menjerit ketakutan, mereka berlari ke ruang tamu, membuka pintu, dan bertemu dengan seorang dari tetangga baru mereka. Anak perempuan yang sebaya dengan Meti. “Dia yang menaruh kertas!” seru Erwin. Anak perempuan itu segera berlari masuk ke rumahnya. “Jangan ganggu kami!” seru Meti marah.

Ketika Meti dan Erwin masuk kembali dalam rumah, udara jadi panas. Entah kenapa Meti merasa lega. Meti memutuskan untuk mencari tahu tentang rumah di seberang yang ditinggali tetangga aneh itu di internet. Ada satu informasi yang membuat Meti kaget. Katanya rumah itu ditinggali oleh banyak makhluk jejadian, dan diincar oleh orang-orang yang mempelajari ilmu hitam. Apakah tetangga baru mereka orang-orang pengguna ilmu hitam? Apakah mereka menyuruh makhluk jejadian untuk mencelakai Keluarga Meti? Meti harus menceritakan ini pada Papa dan Mama! Erwin juga setuju.

Tapi sesuatu terjadi sebelum Meti dan Erwin bicara pada Papa dan Mama. Tetangga baru mereka pindah, dan rumah di seberang jadi kosong lagi. Meti dan Erwin lega. Mereka tidak mengalami kejadian aneh lagi.  Apa sebab tetangga baru mereka pergi? “Aku yakin karena kakak bertindak berani, berteriak marah pada anak perempuan itu,” kata Erwin.  “Apa yang harus kita lakukan kalau ada lagi yang menempati rumah kosong di seberang?” tanya Meti. “Nanti giliran aku yang mengusir mereka! Lagipula…belum tentu mereka jahat!” jawab Erwin. Meti tersenyum lebar dan mengacungkan jempol pada adiknya.

 

Cerita: Seruni     Ilustrasi: JFK

 

 

 

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *