BANDUNG, majalahjustforkids.com – Berbicara tentang asuransi, mungkin ada sebagian orang yang masih mengernyitkan dahi, kurang mengerti. Tak jarang pula, ada orang yang langsung menghindar, begitu mendengar kata asuransi.

Rasanya, keengganan orang untuk berasuransi, perlahan akan segera sirna jika melihat usaha AAJI (Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia) yang tak kenal lelah untuk terus mengedukasi dan meningkatkan literasi tentang asuransi kepada masyarakat luas.

“Salah satu wujudnya adalah acara media gathering ini,” ungkap Bapak Budi Tampubolon, Ketua Dewan Pengurus AAJI yang bertekad agar asuransi dicintai masyarakat.

Budi Tampubolon, Ketua Dewan Pengurus AAJI

“Kita juga sudah berhubungan dengan beberapa universitas seperti di Surabaya, Bandung, Sumatera Utara, dan beberapa kampus lainnya. Kita jalin kerjasama edukasi dan literasi dengan para dosen, tenaga pengajar, dan mahasiswa. Dengan demikian, kami berharap tulisan tentang asuransi yang sekarang masih sedikit, bisa semakin banyak. Sehingga masyarakat semakin teredukasi tentang asuransi ini,” papar Pria yang akrab disapa Butam saat memberikan kata sambutannya dalam acara media gathering yang digelar di hotel Grand Mercure, Setiabudi, Bandung, Jawa Barat, Kamis (30/06/2022).

Untuk diketahui, AAJI sendiri merupakan induk organisasi atau wadah berkumpulnya perusahaan-perusahaan asuransi jiwa di seluruh Indonesia.

Selain sebagai wadah industri asuransi jiwa di Indonesia, AAJI juga menjadi penyalur aspirasi perusahaan asuransi di Indonesia untuk menciptakan, memelihara, dan memupuk kerja sama yang saling memberi manfaat untuk pengembangan industri asuransi jiwa di Indonesia.

Dalam kesempatan ini hadir pula beberapa jajaran pengurus AAJI lainnya yang turut memberikan edukasi asuransi kepada seluruh media yang hadir mulai dari cetak, online hingga televisi.

Ada Bapak Wiroyo Karsono selaku Ketua Bidang Marketing dan Komunikasi AAJI, Bapak Rudy Kamdani yang akrab disapa Rukam sebagai Ketua Bidang Regulasi, Kepatuhan, dan Litigasi AAJI, serta Ibu Novi Imelda selaku Head of WG Investment CFO Forum AAJI.

Nini Sumohandoyo, Kepala Departemen Komunikasi AAJI

Meski bahasannya cukup serius, namun bisa berjalan hangat dan santai dipandu oleh moderator Ibu Nini Sumohandoyo yang menduduki jabatan Kepala Departemen Komunikasi AAJI.

Sebagai pemberi materi pertama, Bapak Wiroyo memaparkan tentang kontribusi industri asuransi jiwa dalam membangun dan melindungi negeri.

Wiroyo Karsono, Ketua Bidang Marketing dan Komunikasi AAJI

Sebagai pengantar, beliau mengatakan bahwa industri asuransi jiwa di Indonesia relatif masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara jika dilihat dari sisi rasio asset to GDP densitas serta penetrasi.

“Pada tahun 2020, densitas atau rata-rata pengeluaran masyarakat Indonesia untuk produk industri asuransi jiwa adalah sebesar USD 54 = Rp. 761.670 per tahun. Sementara tingkat penetrasi hanya mencapai 1,2% (rasio pendapatan premi terhadap GDP) serta 7,8% (rasio tertanggung perorangan terhadap jumlah penduduk). Jika dilihat dari rasio asset terhadap PDB sektor keuangan di Indonesia juga masih cenderung lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN, tidak terkecuali untuk industri asuransi,” ungkapnya.

Senada dengan Bapak Butam, Bapak Wiroyo juga mengatakan penyebab masih rendahnya tingkat penetrasi asuransi di Indonesia salah satunya disebabkan masih rendahnya literasi dan inklusi keuangan di Indonesia.

Industri asuransi jiwa sendiri memiliki kontribusi yang sangat besar dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), meningkatkan ketahanan keuangan keluarga Indonesia, dan dalam pembangunan nasional yang bersifat jangka panjang.

“Total investasi kita lebih dari Rp. 545 triliun yang dapat menjaga stabilitas pasar modal. Kita pun selalu meningkatkan portofolio investasi dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) untuk mendukung program pembangunan pemerintah. Dengan jumlah tenaga kerja lebih dari 550 ribu, turut membantu pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja terutama untuk tenaga kerja informal,” urai Bapak Wiroyo.

Berbicara total investasi, proporsi penempatan investasi industri Asuransi Jiwa pada Q1-2022 adalah 29% pada Reksadana, 27% Saham, dan Surat Berharga Negara 23%.

Penempatan investasi pada Saham dan Reksadana Q1-2022 sebesar Rp. 306,5 Triliun. Penempatan investasi pada Surat Berharga Negara (SBN) Q1-2022 Rp. 123,03 Triliun. Sebuah kontribusi yang tidak main-main untuk menjaga stabilitas pasar modal Indonesia.

Sepanjang Q1-2022, industri asuransi jiwa telah membayarkan klaim dan manfaat kepada lebih dari 5,3 juta orang, dimana sebagian besar dibayarkan untuk penerima manfaat atas klaim kesehatan.

Industri asuransi jiwa juga terus berkomitmen dalam membantu program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dengan membayarkan klaim kesehatan sebesar Rp. 3,32 triliun pada Q1-2022 yang dibayarkan kepada lebih dari 3 juta orang.

Selama Q1-2022, total klaim dan manfaat yang dibayarkan oleh industri asuransi jiwa mencapai Rp 43,4 triliun, menurun 15,9% dari Q1-2021.

Dijelaskan Bapak Wiroyo, penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan klaim nilai tebus (surrender) sebesar 42,5% dan partial withdrawal sebesar 31,4%.

“Hal ini menggambarkan masyarakat semakin percaya akan pentingnya memiliki produk asuransi jiwa. Jika dilihat total klaim yang dibayarkan, industri asuransi jiwa merupakan Industri yang likuid sehingga masyarakat Indonesia tidak perlu ragu lagi untuk memiliki produk dari industri asuransi jiwa,” tandasnya.

Rudy Kamdani, Ketua Bidang Regulasi, Kepatuhan, dan Litigasi AAJI

Hadir sebagai pemberi materi kedua, Bapak Rudy Kamdani yang menyorot soal kejahatan klaim asuransi, literasi, edukasi upaya perlindungan nasabah serta mekanisme pengaduan keluhan.

Ia menerangkan tentang beberapa modus kejahatan klaim asuransi:

1. Pemalsuan dokumen klaim

2. Membeli polis asuransi untuk orang yang telah meninggal  atau orang yang tidak layak diasuransikan

3. Pengajuan klaim oleh mafia asuransi

4. Manipulasi data, profil, kondisi kesehatan Tertanggung

Contoh kasus yang belum lama ini terjadi yaitu seorang pria di Bekasi yang pura-pura mati demi mencairkan asuransi untuk liburan.

Kasus tersebut tentu akan berdampak bagi nasabah maupun perusahaan asuransi seperti:

1. Berkembangnya stigma negatif dari asuransi

2. Terhambatnya bisnis asuransi, digitalisasi, dan proses simplifikasi

3. Risiko finansial, hukum, dan reputasi

4. Potensi berkembangnya sindikat pelaku kejahatan klaim asuransi

Menurut Bapak Rukam, modus kejahatan klaim asuransi ini sebenarnya sudah lama ada. Oleh karena itu perusahaan asuransi pun sudah punya prosedur tersendiri untuk mengatasinya.

“Semua diverifikasi dulu, perusahaan asuransi juga memiliki tim sendiri yang bertugas untuk menyelidiki terlebih dahulu,” ucapnya.

Novi Imelda, Head of WG Investment CFO Forum AAJI

Sebagai pemberi materi ketiga, Ibu Novi Imelda menjelaskan tentang tata kelola investasi jangka panjang di perusahaan asuransi jiwa.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan demi menjadikan industri asuransi jiwa semakin Bertumbuh Sehat dan berkualitas serta Dicintai oleh masyarakat Indonesia.

Pilar A

Pengembangan produk dan layanan asuransi jiwa berkelas dunia dengan mengedepankan customer centricity, customer protection, dan digital experience. Targetnya adalah; peningkatan literasi, inklusi, premium, dan peningkatan kepuasan pelanggan serta proteksi pelanggan.

Pilar B

Peningkatan operational excellence industri asuransi jiwa melalui penguatan tata kelola dan manajemen risiko.

Pilar C 

Penguatan pemodalan dan portofolio investasi. Dengan target, penguatan struktur permodalan dan pertumbuhan imbal hasil investasi.

Enabler D

1. Optimalisasi kualitas dan kuantitas SDM. Target, pemenuhan kebutuhan SDM berkualitas

2. Akselerasi transformasi digital melalui pengembangan infrastruktur dan TI. Target, peningkatan standar dan tata kelola teknologi serta peningkatan adopsi teknologi dan digitalisasi

3. Dukungan pemerintah dan regulator dalam mendorong dan menjaga pertumbuhan dan stabilitas industri. Targetnya, penerapan kebijakan afirmatif finansial, perluasan pasar asuransi jiwa syariah, dan optimalisasi hubungan industri asuransi jiwa dengan regulator

4. Penguatan peran asosiasi dan peningkatan kolaborasi stakeholders dalam mendukung pertumbuhan industri. Dimana targetnya, peningkatan peran asosiasi dan peningkatan kolaborasi antar stakeholders.

Di akhir presentasi, Ibu Novi juga menekankan tentang prinsip investasi yang bertanggung jawab.

Hal itu berkaca dari kejadian di Facebook pada tahun 2018 lalu yang kehilangan sebagian besar nilai pasarnya setelah terungkap bahwa Cambridge Analytica dapat mengambil data pribadi dari 87 juta pengguna tanpa persetujuan mereka.

Menurut Ibu Novi ada 4 hal yang harus diperhatikan dalam prinsip investasi yang bertanggung jawab:

1. Stewardship, yaitu penatalayanan investasi guna meningkatkan kualitas penerapan Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola

2. ESG, yaitu keputusan investasi dengan memperhatikan aspek Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola

3. Proxy Voting, yaitu keikutsertaan dalam pemungutan suara rapat pemegang saham pada perusahaan tempat berinvestasi

4. Best Execution yaitu investasi dengan eksekusi harga terbaik

Setelah pemaparan dari Ibu Novi, acara dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. Berbagai pertanyaan dari media dijawab para pemberi materi dengan runut dan jelas.

Harapan AAJI, dengan adanya edukasi ini, makin banyak masyarakat Indonesia peduli atas risiko dan pentingnya asuransi yang bisa mengatasinya.

Tak hanya itu, AAJI juga berharap perusahaan asuransi tumbuh makin baik dan makin banyak menjangkau nasabah. Makin banyak nasabah yang cerita bahwa makin banyak asuransi jiwa membantu keluarga-keluarga di Indonesia.

“Jika asuransi jiwa tumbuh baik, berapa banyak tambahan tol, bandara, dan infrastruktur lainnya. Berapa banyak keluarga terkena bencana namun tidak menimbulkan masalah keuangan. Karena bisnis kami bukan cuma berbisnis tapi bagaimana menciptakan ketahanan keuangan setiap insan Indonesia. Meski di urutan ketiga, namun asuransi jiwa merupakan salah satu sektor keuangan yang kontribusinya sangat besar,” tutup Bapak Budi Tampubolon, Ketua Dewan Pengurus AAJI.

Foto: Ist

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *