JAKARTA, majalahjustforkids.com – Tahukah kamu, hampir 12% kejadian baru kanker pada laki-laki dan hampir 6% kejadian baru kanker pada perempuan di Indonesia menurut GLOBOCAN 2020 adalah kanker kolorektal, yang juga dikenal dengan kanker usus besar?  Kejadian kanker kolorektal menempati urutan ke-empat tertinggi  di Indonesia dengan lebih dari 34 ribu kejadian baru sepanjang tahun 2020 di Indonesia.

Mengapa tinggi? Menurut Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD-KHOM, FINASIM, FACP., karena adanya perubahan gaya hidup, cara makan, dan cara berperilaku masyarakat. “Jadi angkanya meledak. Banyak yang datang dalam keadaan usia masih muda (jauh lebih banyak dari angka di negara maju). Fenomena memprihatinkan tapi kurang diperhatikan saat ini. Bersyukur karena dari Kementerian Kesehatan RI, pada tahun 2024 kanker kolorektal ini akan jadi bagian gerakan edukasi deteksi sejak dini. Jadi, apa yang kita kampanyekan hari ini sejalan dengan pemerintah,” kata Prof. Aru Sudoyo.

Ditambahkan Prof. Aru Sudoyo, jika di negara-negara maju para penderita kanker kolorektal adalah para orang tua di atas 50 tahun, di Indonesia ada yang baru berusia 38 tahun sudah mengalaminya.

“Oleh karena itu, perlu deteksi dini sejak usia 35-40 tahun. Yang penting adalah mengenali gejala apa yang ada dalam tubuh, jangan didiamkan. Seperti jika ada darah dalam kotoran (tinja) banyak dianggap ambeien, padahal belum tentu. Usia 35-40 tahun di Indonesia sudah harus periksakan kotoran sekali setahun, bisa di lab manapun tidak harus ke RS,” saran Prof. Aru Sudoyo.

Kejadian kanker kolorektal terus meningkat dan kebanyakan pasien datang ke dokter saat kondisi sudah pada stadium tinggi, sehingga merupakan hal penting bagi masyarakat untuk lebih memahami tentang faktor risiko dan gejala kanker kolorektal dan melakukan deteksi dini agar dapat terhindar dan atau sembuh dari kanker kolorektal.

Sejalan dengan itu, dalam kegiatan sosialisasi Yayasan Kanker Indonesia tentang penyakit kanker kolorektal yang didukung oleh PT Merck Tbk, Corporate Secretary PT Merck Tbk, Melisa Sandrianti, mengatakan, “Merck berkomitmen untuk dapat berkontribusi dalam memberikan edukasi berkesinambungan kepada masyarakat tentang segala hal yang berhubungan dengan kesehatan, termasuk kanker kolorektal. Kami bangga dan senang dapat bermitra dengan Yayasan Kanker Indonesia dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kanker kolorektal, karena kami melihat pentingnya deteksi dini sebagai upaya pencegahan. Hal ini sejalan dengan tujuan bisnis kami yaitu as one for patients – untuk membantu memperoleh keturunan, meningkatkan kualitas hidup serta memperpanjang hidup pasien.”

Untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap faktor-faktor risiko kanker kolorektal, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) bekerjasama dengan PT Merck Tbk (Merck Indonesia) memperkenalkan kampanye #PERIKSA yaitu “Peduli Risiko Kanker Kolorektal Sejak Awal”.

Kampanye ini bertujuan untuk mengajak masyarakat agar lebih peduli dalam mengenali tandaatau gejala awal yang berkaitan dengan risiko kanker kolorektal dengan melakukan deteksi dini secara daring. Masyarakat dapat mengisi “Kuesioner Risiko Kanker Usus Besar” melalui situs bit.ly/yukperiksa untuk mengetahui apakah gaya hidup yang dijalankan merupakan faktor risiko kanker usus besar.

“Banyak faktor risiko kanker kolorektal yang perlu diwaspadai, selain riwayat keluarga, juga kebiasaan diet rendah serat namun tinggi lemak; gejala lainnya termasuk pendarahan saat buang air besar, kelelahan, dan kelemahan, serta terpapar terhadap polusi udara dan air – khususnya zat karsinogen penyebab kanker, kuesioner #PERIKSA ini dapat membantu masyarakat tentang pemahaman faktor risiko kanker kolorektal,” jelas Prof. Aru Sudoyo.

“Jika faktor risiko kanker kolorektal tersebut merupakan pola hidup yang dijalankan, maka tes skrining diantaranya melalui kolonoskopi penting untuk dilakukan, khususnya bagi orang berusia di atas 50 tahun,” ungkap Prof. Aru Sudoyo.

Prof. Aru Sudoyo lebih lanjut mengutarakan bahwa kanker kolorektal biasanya dimulai sebagai pertumbuhan seperti kancing di permukaan lapisan usus atau dubur yang disebut polip. Saat kanker tumbuh, ia mulai menyerang dinding usus atau rektum. Kelenjar getah bening di dekatnya juga dapat diserang. Karena darah dari dinding usus dan sebagian besar rektum dibawa ke hati, kanker kolorektal dapat menyebar ke hati setelah menyebar ke kelenjar getah bening di dekatnya.

Prof. Aru Sudoyo mengingatkan tentang pentingnya kewaspadaan terhadap sindrom Lynch dan sindrom poliposis MUTYH.  Sindrom Lynch berasal dari mutasi gen bawaan yang menyebabkan kanker kolorektal pada 70 hingga 80% orang dengan mutasi tersebut. Orang dengan sindrom Lynch sering berkembang menjadi kanker kolorektal sebelum usia 50 tahun. Mereka juga berisiko lebih tinggi terkena kanker jenis lain, terutama kanker endometrium dan kanker ovarium, tetapi juga kanker perut dan kanker usus kecil, saluran empedu, ginjal, dan ureter.

Sindrom poliposis MUTYH adalah kelainan genetik langka yang jarang menyebabkan kanker kolorektal. Hal ini disebabkan oleh mutasi genetik dari gen MUTYH. Lebih dari 50% orang yang memiliki sindrom ini mengembangkan kanker kolorektal mulai usia 60-an. Mereka juga berisiko lebih tinggi terkena kanker jenis lain, seperti kanker saluran pencernaan dan tulang lainnya, dan juga kanker ovarium, kandung kemih, tiroid, dan kulit.

Pengobatan Kanker Kolorektal

Prof. Aru Sudoyo menjelaskan tentang beberapa opsi pengobatan kanker kolorektal yaitu Operasi, Kemoterapi, Terapi Radiasi, Terapi Target, dan Imunoterapi kanker kolorektal, disesuaikan dengan kondisi dan lokasi kanker kolorektal.

Seiring dengan kemajuan penanganan kanker kolorektal di Indonesia, khususnya dengan tersedianya terapi target dan pemeriksaan status penanda tumor RAS, diharapkan angka kematian karena kanker kolorektal dapat terus berkurang.

Dengan pilihan metode pengobatan personalized treatment membantu menegakkan diagnosis yang lebih akurat, memungkinkan pemberian obat yang tepat sehingga akan meminimalisir efek samping dan meningkatkan keberhasilan pengobatan dan kesembuhan.

Perawatan Paliatif

Jika kanker kolorektal telah memasuki stadium IV dan berkembang ke banyak organ dan jaringan yang jauh, Prof. Aru Sudoyo menjelaskan bahwa pembedahan mungkin tidak membantu memperpanjang umur seseorang. Pilihan pengobatan lain dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan dapat menghasilkan gejala tambahan yang membuat kualitas hidup seseorang menjadi lebih buruk.

“Dalam kasus ini, orang mungkin memutuskan untuk tidak melakukan perawatan medis yang berupaya menyembuhkan kanker dan sebagai gantinya memilih perawatan paliatif untuk mencoba membuat hidup lebih nyaman. Perawatan paliatif biasanya akan melibatkan menemukan cara untuk mengelola rasa sakit dan mengurangi gejala seseorang sehingga mereka dapat hidup dengan nyaman selama mungkin,” ujar Prof. Aru Sudoyo.

Menimbang panjangnya proses penyembuhan kanker kolorektal, Prof. Aru Sudoyo, mengimbau kepada masyarakat untuk melakukan pencegahan kanker kolorektal sedini mungkin dengan berhenti merokok dan hindari alkohol.

“Selain itu, lakukan skrining untuk kanker kolorektal, makan banyak sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian, berolahraga secara teratur dan kendalikan berat badan. Hindari terlalu banyak mengonsumsi daging merah dan juga olahannya. Sel-sel daging merah jika terkena suhu tinggi akan memicu sel kanker. Ada mitos jangan makan daging yang dibakar nanti kanker. Jadi, bukan gosongnya yang bikin kanker tapi daging merahnya. Kalau zaman dulu orang konsumsi daging paling hanya beberapa gram saja, kalau sekarang konsumsinya banyak seperti steik misalnya yang dagingnya bisa sampai 250 gram sekali makan. Jadi, jumlah juga penting. Sebenarnya tubuh kita punya sistem keseimbangan, bisa memperbaiki diri sendiri tapi hal itu terganggu karena gaya hidup yang jelek. Kalau kita bisa balance misal makan daging seminggu sekali atau dua kali dan olahraga yang baik, itu tidak apa-apa,” urai Prof. Aru Sudoyo.

“Kanker dapat disembuhkan jika dideteksi dan dirawat pada stadium awal, maka ingat #PERIKSA dengan meningkatkan kepedulian terhadap risiko kanker kolorektal sejak awal,” tutup Prof. Aru Sudoyo.

Foto: Ist

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *