Hari ini Iwan tak ikut ke kantin bersama teman-temannya. Ia lebih senang membaca buku di perpustakaan. Sebenarnya Iwan sedang gelisah. Ia ingin ikut merayakan kenaikan kelas di Puncak. Ya, sebentar lagi Iwan akan meninggalkan bangku kelas 4 dan beranjak ke kelas 5.  Akan tetapi, Ibu Iwan baru saja keluar dari rumah sakit. Biaya rumah sakit cukup besar. Iwan tidak tega untuk meminta uang pada Ayahnya. Iwan juga tidak mempunyai tabungan. Padahal, Ibu Guru menyarankan agar semua anak bisa turut serta meramaikan acara. Iwan sedih.

Karena asyik melamun, Iwan baru sadar kalu Dadang ternyata ada di perpustakaan juga. Dadang adalah teman sebangkunya. Dadang tampak sedang asyik membaca buku. Namun setelah Iwan memperhatikannya baik-baik, ia melihat ada yang aneh. Bola mata Dadang tidak bergerak-gerak seperti orang membaca. Sepertinya Dadang juga sedang melamun. Perlahan Iwan mendekati Dadang.

“Dang, kamu di sini juga rupanya…” kata Iwan.

“Eh…kau, Wan!” ucap Dadang kelihatan kaget.

“Kamu membaca atau melamun, Dang?” tanya Iwan.

“Ah, kamu ini! Ngg…kamu cari buku apa, Wan?” tanya Dadang mencoba mengalihkan pertanyaan Iwan.

“Buku apa saja. Habis, mau ke kantin tidak punya uang,” jawab Iwan. “Sama dong…” kata Dadang.

Dadang memang berasal dari keluarga kurang mampu. Ayahnya hanya seorang buruh bangunan dan Ibunya seorang ibu rumah tangga biasa. Bisa lancar membayar uang sekolah pun Dadang sudah bersyukur. Maklum, Dadang juga mempunyai 2 orang adik dan 2 orang kakak yang juga butuh biaya untuk sekolah.

“Eh…Dang, kamu ikut ke Puncak?” tanya Iwan kemudian.

Dadang menggeleng pelan. Dadang pun bercerita bahwa ia tidak punya cukup uang untuk membayar iurannya.

Iwan menghela nafas. “Nasib kita sama, Dang. Aku juga tidak bisa ikut. Ibuku baru selesai dioperasi di rumah sakit. Biayanya besar sekali….” cerita Iwan.

Keduanya terdiam. Tak lama kemudian bel tanda istirahat usai, berbunyi. Mereka pun masuk ke kelas.

Pak Malik, guru biologi menerangkan tentang ikan, lalu menggambarnya di papan tulis. Bagian-bagian tubuh ikan ditandai dan diberi keterangan. Murid-murid mendapat tugas menggambar ikan apa saja. Mereka juga harus mewarnai bagian-bagian ikan, dan menuliskan keterangannya. Iwan membayangkan ikan-ikan mas koki yang lucu-lucu milik Mas Heri.

Haaa! Iwan jadi ingin bertemu dengan Mas Heri. Mas Heri adalah penjual ikan di dekat pasar kompleks rumah Iwan. Sudah tiga bulan lebih Iwan tak pernah menengok ikan-ikannya yang dititipkan pada Mas Heri. Pulang sekolah, Iwan langsung menemui Mas Heri.

“Walaaaah…Iwan! Lama kamu nggak ke sini. Ikan-ikanmu sudah laku semua. Untungnya delapan ribu, lalu Mas belikan ikan-ikan baru. Ikan-ikan itu laku lagi, dan Mas jadikan modal buat beli ikan-ikan lain. Laku terus. Untungnya sudah buaaaanyak, Wan,” Mas Heri gembira bertemu dengan Iwan.

“Lama ya tidak bertemu? Setahun ada?” canda Mas Heri.

Iwan tertawa gembira. Uang-uang pemberian Om Bambang, adik Ayahnya, selalu dikumpulkannya. Uang itu lalu ia belikan ikan hias. Ikan-ikan hias itu ia titipkan ke Mas Heri untuk dijual. Iwan tak menyangka ikan-ikan itu sudah menghasilkan keuntungan berlipat ganda.

“Keuntunganmu itu sudah delapan puluh ribu lho, Wan!” kata Mas Heri.

“Haaa?” Iwan melongo. “Sebanyak itukah? Kok, banyak sekali, Mas?” ucap Iwan.

“Lha, iya. Keuntungan penjualan ikan-ikan hias, kan, dibagi dua. Setengah untuk Mas, setengah lagi untuk kamu. Itu kan perjanjian kita dulu?” jelas Mas Heri.

Iwan terdiam. Ia bersyukur pada Tuhan karena mengenal Mas Heri yang baik dan jujur dalam berdagang. Iwan pun bercerita bahwa ia ingin ikut ke Puncak, tapi tak punya uang.

“Wah, kalau begitu, ambil dari keuntunganmu saja, Wan. Mau ambil berapa? Tujuh puluh ribu atau semuanya?” Mas Heri menawari.

Iwan masih terdiam.

“Jangan khawatir, Wan. Modalmu masih ada. Nih…empat toples ikan-ikan ini kan, punyamu juga,” lanjut Mas Heri memamerkan deretan toples berisi ikan.

“Terima kasih banyak, Mas!” saking gembiranya Iwan mencium tangan Mas Heri yang bau amis. Rasanya ia ingin menangis karena terharu. Iwan bisa pergi ke Puncak. Dan Dadang, si bintang kelas sahabatnya itu, bisa ikut pula. Biaya iuran ke Puncak untuk tiap siswa adalah tiga puluh lima ribu rupiah. Berdua dengan Dadang, berarti tujuh puluh ribu rupiah. Iwan masih bisa mengantungi uang sepuluh ribu untuk pegangan di jalan.

Setelah menerima uang dan berterima kasih pada Mas Heri, Iwan pamit pulang. Langit makin putih dan udara terik membuat Iwan ingin segera tiba di rumah. Besok, Dadang harus segera diberitahu tentang berita gembira ini. (Teks : JFK Ilst : Fika)

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *