Agnes masih selalu teringat akan kejadian itu. Saat itu, Agnes baru saja berkenalan dengan teman barunya. Ia adalah seorang anak laki-laki bernama Marcel. Mereka berkenalan saat sama-sama menjadi murid baru di kelas 2. Marcel dan Agnes sama-sama murid pindahan dari luar kota. Karena sama-sama sebagai murid baru, mereka berteman baik dan menjadi sahabat.
Pada awal Agnes mengenalnya, Marcel adalah anak yang baik. Akan tetapi, lama kelamaan ternyata Marcel berubah menjadi anak yang nakal. Ya, tepatnya sejak mereka duduk di bangku kelas 3. Semakin hari, kenakalan Marcel semakin menjadi. Banyak teman-teman yang menjadi kesal. Demikian juga dengan Agnes sendiri. Agnes tidak suka sikap Marcel yang bandel dan suka usil sama teman-temannya. Marcel jadi sering berkelahi dan dimarahi oleh guru.
Hingga pada suatu hari, Agnes mencoba untuk memberanikan diri mengajak Marcel berbicara. Awalnya Marcel tidak begitu menghiraukan ajakan Agnes. Namun, di hari yang lain akhirnya Marcel mau juga. Agnes mencoba memberi nasihat, bahwa kenakalannya selama ini akan merugikan dirinya sendiri.
Agnes mengatakan pada Marcel bahwa teman-temannya di sekolah bilang, kalau Marcel anak yang paling nakal. Raut wajah Marcel terlihat kaget. Mungkin ia tidak menduga kalau Agnes akan berkata demikian. Untuk sesaat Marcel terdiam. Sementara itu, dengan hati was-was, Agnes menunggu reaksi Marcel.
Marcel akhirnya buka suara. “Teman-temanku menyebalkan!” katanya. Akan tetapi Agnes tidak percaya begitu saja. Setelah didesak, Marcel pun mengaku. “Aku bertingkah laku menyebalkan dan memusuhi teman-teman karena aku diledek oleh adikku. Katanya aku payah karena tidak berani berkelahi,” ucap Marcel.
Kini Agnes tahu mengapa Marcel sering bermusuhan dengan beberapa teman lainnya. Ternyata Marcel ingin menunjukkan kepada adiknya, bahwa ia anak yang pemberani. Anak yang jagoan berkelahi dan ditakuti oleh teman-temannya di sekolah.

Agnes cuma menggeleng-gelengkan kepala. Agnes tidak habis pikir, kenapa Marcel berpikiran sempit seperti itu. Namun Agnes juga memakluminya.

Setelah terdiam beberapa saat. Agnes mencoba memberi nasihat kepada Marcel. “Seharusnya, kamu memberikan contoh yang baik kepada adikmu. Kamu tidak boleh terpengaruh oleh ucapan adikmu. Kamu harus memberi contoh yang baik dan memberi pengertian kepada adikmu. Sebab, kalau kamu tetap nakal, kamu bisa-bisa dikeluarkan dari sekolah ini…,” ungkap Agnes panjang lebar. “Selain itu, bermusuhan itu tidak baik. Semakin banyak musuh, maka lama-lama kamu semakin tidak punya teman,” lanjut Agnes.
Marcel tampak terdiam. Ia menyesal telah berlaku seperti itu. Sebagai kakak, seharusnya ia memberi contoh yang baik kepada adiknya. Bukan malah terpancing untuk berbuat nakal. “Terimakasih Agnes. Kamu telah menyadarkanku bahwa apa yang kulakukan itu salah. Tidak sepantasnya aku berlaku seperti itu. Aku juga ingin punya banyak teman dan disayangi oleh teman-temanku seperti dulu,” sesal Marcel.

“Lantas, aku harus bagaimana Agnes? Aku sungguh menyesal dengan sikapku ini?” tanya Marcel.

“Kalau kamu memang ingin berubah, mulailah dengan meminta maaf kepada teman-teman yang kamu musuhi. Dan jangan pernah berkelahi lagi. Pasti teman-teman mau kok memaafkan kamu,” tutur Agnes.

Keesokan harinya, Marcel mengakui kesalahan sikapnya kepada teman-temannya. Kini ia kembali menjadi anak yang baik. Tidak pernah berkelahi lagi. Juga bisa melindungi dan memberi contoh yang baik bagi adiknya. Agnes bersyukur, karena kini Marcel menjadi teman baiknya hingga sekarang.(Teks: Just For Kids/ Ilustrasi: Fika)

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *