Dian sangat bahagia karena tahun ini dia bisa bersekolah di sekolah unggulan yang diinginkannya. Dian sudah belajar keras sejak SD, dan berkat dukungan dari Ayah Ibunya, akhirnya ia lulus tes ujian masuk SMP yang terkenal favorit ini, dengan nilai tinggi. Sebenarnya ada satu lagi anak yang meraih nilai tinggi, dan nilainya sama seperti nilai Dian, yaitu seorang anak bernama Anna.  Di hari pertama masuk sekolah baru, Dian terkejut dan senang karena Anna juga berada di kelas yang sama dengannya. Kesan pertama melihat Anna, dia tampak seperti orang sakit karena wajahnya murung dan pucat. Dan pada waktu istirahat siang, Dian selalu melihat Anna sendirian. Dian sendiri anak yang gampang bergaul, jadi sekarang dia punya banyak teman. Dian tidak bisa membiarkan Anna sendirian, jadi dia bertekad untuk berteman dengannya.

Suatu hari, Dian melihat Anna pergi ke kamar mandi. Kebetulan Dian mau mencuci tangannya.  “Ini kesempatanku!” gumam Dian senang. Dian memutuskan menunggu sampai Anna selesai dan menyapanya.   “Anna!” sapa Dian ketika Anna keluar dari toilet. Tiba-tiba, wajah Anna ketakutan karena melihat sesuatu di belakang Dian, entah apa itu, dan menarik tangan Dian. “Lari!” kata Anna sambil berlari keluar kamar mandi, Dian yang kaget hanya menurut saja ditarik tangannya. Tiba-tiba, terdengar suara keras. Dian sempat menengok ke belakang dan melihat keran air yang tadi dipakainya untuk mencuci tangan, pecah dan air membasahi kamar mandi. Ketika sampai di luar kamar mandi, Dian terduduk lemas. Anna menangis ketakutan. Anak-anak berlarian untuk melihat apa yang terjadi. Tidak ada yang tahu kenapa keran air yang kokoh dan kuat bisa pecah begitu saja.

Setelah kejadian itu, Anna tidak masuk sekolah. Dian yang khawatir berkunjung ke rumah Anna dan menengoknya. “Aku mau pindah sekolah,” kata Anna. “Kenapa?! Jangan Anna, aku ingin berteman denganmu!” seru Dian kecewa. “Kamu tidak takut kejadian kemarin? Kau bisa celaka! Aku ingin berteman, tapi semua temanku selalu mengalami kejadian menyeramkan! Dan akhirnya mereka semua menjauhiku, karena mereka ketakutan. Aku tidak ingin sedih lagi! Karena itulah aku selalu menyendiri!” tangis Anna. Dian terperangah. “Anna, kemarin sebelum  kau menarikku dari keran air  yang pecah, apa yang kau lihat di belakangku?” tanya Dian. “Kata Nenek, itu saudara kembarku yang sudah meninggal. Dia terus menghantuiku, dan menyebabkan kejadian-kejadian buruk yang membuat semua temanku ketakutan,” jawab Anna. Dian memandang Anna yang menangis sedih. Hatinya pedih melihat kesedihan Anna. “Kau tidak pernah punya teman selama ini, itu berat sekali. Pokoknya aku mau jadi temanmu!” kata Dian sambil memeluk Anna.  Tiba-tiba, pintu kamar Anna terbuka, suhu dalam kamar menurun jadi dingin, dan lampu kamar Anna perlahan redup. Anna menjerit sambil menunjuk ke belakang Dian. Dian tidak menengok ke belakang, bukan karena takut, tapi karena tidak perlu. Hidup harus berjalan, tidak ada gunanya  melihat ke masa yang sudah berlalu. “Mulai sekarang aku akan menemani Anna, kau jangan khawatir. Kurasa kau juga lelah kan? Mulai sekarang, damailah. Aku bukan penakut seperti teman-teman Anna selama ini yang meninggalkannya,” kata Dian tegas. Terdengar suara pintu kamar Anna yang tertutup dengan perlahan. Lampu kamar Anna kembali terang. Semua sudah selesai. “Anna, kau harus bahagia. Ayo kita berlomba meraih nilai bagus di sekolah! Ingat, kau dan aku sama-sama meraih nilai terbaik waktu ujian masuk!” kata Dian. “Terima kasih, Dian!” seru Anna, dia tersenyum bahagia sambil memeluk Dian.

 

 

 

Cerita: Seruni     Ilustrasi: JFK

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *