“Wah, sudah ada buah kurma!” tunjuk Mina senang. Mina dan kakaknya, Ana sedang berbelanja di  supermarket.  Mina terkesan melihat tumpukan buah kurma yang sudah dipajang. Lebaran sebentar lagi!

“Berarti sudah mau puasa. Pingin deh disuapin lagi sama Bi Ijah waktu buka puasa,” kata Mina gembira.  “Tahun ini kamu harus puasa dengan benar,” kata Kak Ana. “Puasa dengan benar? Mina kan selalu puasa menurut aturan untuk anak-anak dan tidak pernah membuat kesalahan! Apa sih maksud kak Ana?” tanya Mina heran.

Hari Senin, Mina cemberut karena sedang tidak ingin masuk sekolah. Mina ngantuk sekali. Dia tidak bisa tidur karena tadi malam hujan deras dan petirnya menyeramkan.

“Bi, pakaikan sepatu, dong!” Mina berseru memanggil Bi Ijah. “Iya Non, sebentar ya!” seru Bi Ijah dari dapur. KLANG! Ada suara benda jatuh. Rupanya Bi Ijah tak sengaja menjatuhkan sendok sayur. “Aduh Bi, hati-hati, nanti Bibi celaka,” kata Mama Mina yang sudah siap berangkat ke kantor.  Mama melihat Mina yang sepatunya dipakaikan oleh Bi Ijah. Mama geleng-geleng kepala dan berkata, “Bagaimana bisa puasa dengan benar, Mina?”

Mina bengong. “Kenapa Mama mengatakan hal yang sama dengan Kak Ana?” gumamnya.

Di sekolah, untung saja Mina bisa berkonsentrasi.  Waktu berangkat tadi, Mina memikirkan kata-kata Kak Ana dan Mama sampai pusing! KRIIING! Tidak terasa bel pulang sekolah berbunyi. Konsentrasi Mina hilang dan kata-kata ‘Puasa dengan benar’ Kak Ana dan Mama kembali memenuhi pikiran Mina.

Mina tenggelam dalam pikirannya sehingga tak sadar kalau dia tinggal sendiri di kelas. “Kenapa Mina, ada masalah?” tanya Bu Guru Ida. Ibu Ida adalah guru kesenian yang disukai anak-anak sekelas. “Mina bingung, Bu Guru,” jawab Mina. Lalu dia menceritakan sikap Kak Ana dan Mama, dan pengalaman puasa-nya selama ini. “Tak ada yang salah dengan puasa Mina, hanya saja ada sifat Mina yang harus diubah. Puasa itu harus menyucikan hati, perbuatan, dan pikiran, jadi harus membuang sifat-sifat buruk kita. Mina punya sifat manja, itu harus dibuang. Itulah yang dimaksud Kakak dan Mama Mina dengan puasa dengan benar,” jelas Bu Guru Ida. Dan Mina pun baru mengerti sekarang!

Malamnya di rumah, Bi Ijah sudah siap dengan piring makan Mina. “Yuk Non, Bibi suapin,” kata Bi Ijah. Tapi Mina menggelengkan kepalanya. “Bi Ijah, maaf ya aku selama ini manja, makan selalu disuapin Bi Ijah, sepatu juga diiketin sama Bibi! Mina janji nggak akan manja lagi!” kata Mina. Dari meja makan, Papa, Mama, dan Kak Ana bertepuk tangan. “Hebat, Mina!” kata mereka. Bi Ijah tertawa senang. Mina tersenyum bangga. Selamat tinggal manja! Bulan puasa ini Mina bertekad jadi anak mandiri.

 

 

 

 

Cerita: Seruni        Ilustrasi: JFK

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *