webinar Gotong Royong #JagaUMKMIndonesia; Tantangan Perempuan di UMKM, Dari Akses Pendidikan Hingga Modal

Banyak pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) adalah perempuan. Bahkan, berdasarkan data, 65 persen perempuan mengelola UMKM di Indonesia. Jumlah itu sangat berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Hal itu disampaikan oleh Ira Noviarti, Direktur Beauty and Personal Care PT. Unilever Indonesia, TBK dalam webinar Gotong Royong #JagaUMKMIndonesia dengan tema “Mendorong peran Perempuan di UMKM”, Selasa (11/08) lalu yang diselenggarakan bersama Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia (Kemenkop UKM RI) dan Katadata.id.

Sungguh benar, kekuatan perempuan tak bisa dipandang sebelah mata. Di balik sosoknya yang terlihat ‘lemah’, perempuan memiliki ketangguhan luar biasa. Dalam rumah tangga, perempuan (dalam hal ini ibu) memiliki peran ganda bahkan multi, mulai dari mengurus anak dan suami, mengurus rumah tangga, bahkan juga bekerja.

Ira Noviarti, Direktur Beauty and Personal Care PT. Unilever Indonesia, TBK

Mayoritas UMKM Dikelola Perempuan

“Ada 3 fakta mengapa Unilever Indonesia menganggap penting peran perempuan di UMKM. Pertama, mayoritas UMKM di Indonesia dikelola perempuan. Lalu, 30 persen pedagang eceran yang menjual produk-produk kami adalah perempuan. Dan, yang tak kalah penting, perempuan adalah sosok yang kuat dalam menghadapi tantangan, ia bisa menjadi problem solver . Tak jarang, kita lihat naluri perempuan untuk bertahan sangat besar,” ungkap Ira.

Hal senada disampaikan oleh Dian O. Wulandari, Co-Fouder Instellar & Womenwill Lead GBG Jakarta. Ia mengambil contoh, di masa sulit pandemi Covid-19, banyak bermunculan wirausaha perempuan. “Saya melihat di tengah pandemi ini, banyak yang malah jadi kreatif. Bahkan dari yang tidak ada kebutuhan untuk membuat usaha malah justru menciptakan peluang usaha. Makin banyak bermunculan ide-ide kreatif, terutama di bidang kuliner dan fashion. Mereka menjahit di rumah, bikin masker lalu dijual. Kadang, kita butuh tantangan atau tekanan untuk melahirkan inovasi. Tapi, memang kebanyakan usaha itu masih mikro. Saya nggak tahu, apakah nanti usaha itu akan berkelanjutan atau berhenti begitu saja setelah selesai pandemi,” pungkas Dian.

Ya, pasti Moms sering melihat banyak ibu-ibu yang jadi berjualan di masa pandemi ini, ya. Atau mungkin, Moms termasuk di antaranya? Nah, para Mompreneur “dadakan” ini kreatif menjual berbagai karyanya, mulai dari makanan, minuman, masker, dan sebagainya. Sebagian di antara mereka terjun di dunia UMKM karena kebutuhan, namun sebagian ada pula yang memang mencari kesempatan/peluang usaha yang menjanjikan di tengah pandemi.

Di satu sisi, hal ini sangat bagus. Namun, di sisi lain, bila tidak dikelola dengan benar,  maka usaha ini akan ‘mandeg’ atau berhenti di tengah jalan. Hal ini ungkap Dian, merupakan salah satu kendala atau tantangan yang masih dihadapi wirausaha perempuan di Indonesia.

Tantangan Utama Wirausaha Perempuan

Menurut ia, ada 3 tantangan utama yang dihadapi wirausaha perempuan: yakni akses pendidikan, akses pembiayaan (modal), dan akses pelatihan.

Dian O. Wulandari, Co-Fouder Instellar & Womenwill Lead GBG Jakarta

“Dari akses pendidikan, banyak wirausaha perempuan yang tidak menempuh pendidikan tinggi, apalagi pendidikan formal di bidang bisnis. Lalu, dari segi modal, para wirausaha perempuan belum banyak yang mendapatkan akses pembiayaan modal/kredit dari institusi/lembaga keuangan. Hanya 20 persen wirausaha perempuan yang mendapatkan akses ini. Selain itu, dari segi akses pelatihan, ini juga masih kurang. Banyak di antara mereka yang belum tahu cara mengelola bisnis dengan benar dan tepat. Sebab, tak sedikit yang ‘nyemlung’ di dunia UMKM atau terjun langsung karena kebutuhan. Jadi, mereka belum tahu bagaimana cara mengelola keuangan yang baik, bagaimana memasarkan produk, bagaimana menetapkan keuntungan, dan sebagainya. Percuma juga, kan, misalnya ada/diberikan modal besar tapi tidak bisa mengelola dengan baik?,” jelas Dian panjang lebar.

Di luar itu, ada pula tantangan lain yang mesti dihadapi oleh wirausaha perempuan, yakni dari segi confidence level atau tingkat kepercayaan diri. Menurut Dian, hal ini terutama ditemukan pada wirausaha perempuan di kota-kota kecil atau daerah. Pandangan masyarakat yang menganggap bahwa perempuan tidak cakap dalam mengelola usaha bisa memengaruhi kepercayaan diri mereka dalam bernegosiasi, memperluas usaha, dan sebagainya.

“Kalau di kota-kota besar, mungkin hal ini jarang ditemui karena wirausaha perempuan rata-rata percaya diri. Tapi bagi wirausaha perempuan yang masih konvensional atau tradisional, hal ini cukup sering terjadi.Di satu sisi, terkadang perempuan juga tidak terlalu ambisius dalam mengembangkan bisnisnya.ketika kebutuhan mereka tercukupi dengan usaha yang dijalankan, maka mereka merasa cukup, tidak ada keinginan untuk memperluas usaha, misalnya menambah pegawai, memperluas jangkauan usaha, dan sebagainya. Hal ini juga sering berhubungan dengan posisi perempuan  yang menjalankan multiperan, sebagai ibu, istri dan juga wirausahawati, sehingga mereka sulit untuk membagi waktu,” pungkasnya.

Keterbatasan Akses

Kendala atau tantangan dalam hal akses pendidikan, pelatihan dan modal bagi perempuan di UMKM ini, diamini oleh Agustina Erni, Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). Ia mengatakan potensi wirausaha perempuan di Indonesia sangat besar, mereka hanya kesulitan mendapatkan akses tersebut.

Agustina Erni, Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA)

“Sebenarnya ada banyak program dari pemerintah, maupun dari pihak swasta, namun mereka tidak terpapar akses tersebut. Misalnya, mereka lebih banyak kerja di rumah dan mengurus keluarga. Di sinilah tantangannya, terutama di daerah atau kota kecil. Adalah usaha kita bersama bagaimana mengupayakan agar akses tersebut bisa masuk ke dalam rumah mereka. Di kota besar mungkin nggak masalah karena ada gadget, teknologi sudah hampir merata. Tapi kalau di pedesaan, ini masih sulit. Banyak juga yang belum terpapar digital, padahal kalau mereka diberikan akses, wah, perempuan wirausaha itu bisa berkembangnya luar biasa, lho!” papar Erni.

Ia mengatakan, pihak PPPA sendiri sudah melakukan koodinasi dengan beberapa kementerian terkait seperti kementerian koperasi, pertanian, kelautan, dan sebagainya dalam hal pelatihan, pendampingan, maupun modal. “Kami sedang dalam tahap mengembangkan konsep pendampingan ‘ibu angkat’. Dalam hal ini, pelaku usaha mikro dibantu sama pelaku usaha makro atau yang lebih besar. Saat ini, kondisinya, perempuan pelaku usaha mikro itu banyak yang bekerja sendiri-sendiri, tidak membentuk kelompok atau komunitas, sehingga mereka tidak mendengar atau kurang terpapar akses program dari pemerintah,” ucapnya.

Upaya Unilever Indonesia Memberdayakan Wirausaha Perempuan

Kondisi di atas rupanya juga sudah mendapat perhatian dari PT. Unilever Indonesia, TBK. Guna merayakan Hari UKM Nasional 2020, Unilever Indonesia meluncurkan  kampanye “#UnileverUntukIndonesia” untuk mendorong kebangkitan UMKM, khususnya pedagang warung. “Selama pandemi Covid-19, usaha para pedagang warung kecil berimbas luar biasa. Untuk itu, kami memberikan bantuan konkret berupa tambahan modal hampir 147.000 pedagang warung yang masuk dalam ekosistem Unilever Indonesia,” imbuh Ira. Selain itu, Unilever Indonesia juga memberikan bantuan peralatan kesehatan seperti masker, hand sanitizer atau produk-produk kesebersihan seperti Wipol, Lifebuoy, dan sebagainya.

Program ‘Ibu Bersinar” Sunlight menyasar tiga pilar utama yaitu; konsumen, komunitas, dan Ibu pemilik warung (retailer)

Unilever Indonesia sendiri sudah melakukan pemberdayaan UMKM perempuan melalui berbagai brand. Contohnya brand Sunlight lewat program ‘Ibu Bersinar” sejak tahun 2017. Program ini menyasar tiga pilar utama yaitu; konsumen, komunitas, dan Ibu pemilik warung (retailer). “Bagi konsumen, kami mengadakan Kelas edukasi memulai bisnis dibidang fashion dan kuliner. Bagi Ibu Pemilik Warung, Sunlight menjalankan “Warung Ibu Bersinar” untuk mentransformasi keterampilan usaha pemilik warung dan melakukan makeover toko dan penataan ulang warung agar lebih menarik. Sementara untuk komunitas, Sunlight menyelenggarakan arisan mapan yang menggandeng 900.000 Ibu dan juga memberikan pelatihan kewirausahaan kepada para ibu,” ujar Ira.

Selain itu, ada pula program lain seperti platform belajar online “WeLearn” yang dikembangkan Sunlight bersama UN Women pada tahun 2019, program edukasi “Rahasia Usaha Lebih Cepat Untung” bekerja sama dengan Amartha, Program “Juragan Seru” dimana UMKM memainkan peran penting dalam membawa es krim “Seru” lebih dekat dengan konsumen melalui ketersedian produk di toko-toko tradisional di tengah pemukiman padat. Para ‘juragan’ itu juga dibekali pelatihan dan mentoring di bidang bisnis dan keuangan, operasional, dan teknologi.

Lalu ada pula Festival Jajanan Bango. Gelaran kuliner tahunan yang digelar sejak tahun 2005 ini merupakan salah satu upaya Bango, untuk memajukan usaha para pelaku UMKM di bidang kuliner di berbagai penjuru Indonesia. Ada juga program Saraswati Saraswati, program untuk mengembangkan petani perempuan kedelai hitam.

“Semakin tinggi tingkat wirausaha suatu negara, maka semakin maju negara tersebut. Komitmen kami, ingin memberikan kesempatan belajar dan mendorong potensi wanita di bidang usaha sehingga tahun 2022 kita bisa menambah sekitar 5 juta perempuan yang siap berkarir dan membuktikan kesuksesan dalam mengelola UMKM,” tutup Ira.

Capture Photo: Efa

 

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *