Sepulang sekolah, Nadia memilih berjalan kaki pulang. Ada alasan sendiri kenapa dia memilih berjalan kaki. Alasan pertama, tentu saja karena sehat dan alasan kedua, Nadia bisa melihat rumah Bu Ani. Rumah Bu Ani tidak besar, tapi punya taman yang bagus. Di taman itu ada bunga melati, lidah buaya, daun pandan, kuping gajah, dan masih banyak lagi. Semuanya tumbuh dengan sempurna dan indah! Hal ini membuat Nadia iri.

Kakek Nadia dari desa, tinggal bersama Nadia, Papa, dan Mamanya. Kakek sangat suka berkebun dan dia membuat taman rumah Nadia yang tadinya gersang jadi cantik. Dulu waktu Kakek masih tinggal di desa, dia suka beternak. Nenek Nadia yang sudah meninggal, suka dengan tanaman dan suka berkebun. “Di Jakarta, Kakek akan mencoba berkebun untuk mengenang Nenek,” kata Kakek pada Nadia. Nadia jadi tersentuh.  Sayang sekali semua tak berjalan sesuai rencana.  Kakek sudah bersusah payah menanam tumbuhan di kebun, tapi tumbuhan yang ditanam Kakek selalu layu atau mati. “Karena itu, aku harus bertanya pada Bu Ani, bagaimana cara dia menumbuhkan tanaman yang bagus-bagus di kebun rumahnya!” tekad Nadia, ingin membuat Kakek bahagia.

Hari Minggu, Nadia berkunjung ke rumah Bu Ani. Sejujurnya dia ketakutan. Nadia bukan anak yang suka bertemu dan berbicara dengan orang, dia sangat tertutup. Tapi untuk Kakek, dia harus berusaha! Nadia memberanikan dirinya menekan bel. Tapi setelah beberapa kali, Bu Ani tidak keluar. “Aduh, dia sedang pergi!” keluh Nadia. Padahal dia sudah gugup! Lelah rasanya. Dengan langkah lunglai Nadia meninggalkan rumah Bu Ani. Belum sampai berjalan jauh, Nadia melihat seorang ibu-ibu menenteng kantung plastik. BRUK! Tiba-tiba, salah satu kantung plastik itu sobek dan barang-barang belanjaan si ibu jatuh di jalan. Ternyata itu Bu Ani! Nadia segera menolong Bu Ani.

“Terima kasih, ya, Nadia, kamu mau membantu,” kata Bu Ani. “Sama-sama, Bu Ani, sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu,” ujar Nadia lalu menceritakan kesulitan yang dihadapi Kakek dan kebunnya. “Oh, itu mudah! Ajak bicara saja tanaman yang ditanam Kakekmu,” saran Bu Ani tersenyum. Nadia bingung.

Sepulang dari rumah Bu Ani, Nadia berbicara pada Kakek. “Aku tidak mengerti, Kek! Maaf ya, padahal Nadia ingin membantu Kakek,” keluh Nadia. Tapi Kakek tidak menunjukkan wajah bingung, dia tersenyum penuh pengertian. “Jadi Nenekmu benar, ya. Kakek baru ingat, dulu Nenek sering berbicara pada semua tumbuhan yang ditanamnya. Kakek selalu tertawa geli, tapi sekarang Kakek mengerti bahwa itu masuk akal. Karena biasa beternak, yang Kakek anggap memiliki nyawa hanya binatang saja!” kata Kakek tertawa. Tiba-tiba, pikiran Nadia terbuka. “Kakek, tanaman juga bertumbuh besar, kan? Sama seperti hewan dan manusia!” serunya. “Benar sekali, kita semua sama,” ujar Kakek mengelus kepala Nadia.

Kakek dan Nadia menanam bersama-sama. “Ayo, tumbuhlah dengan cantik kalian semua! Kalian harus menjadi tanaman istimewa, sama seperti setiap makhluk hidup istimewa!” kata Kakek dan Nadia sambil menyirami tanaman-tanaman di kebun. Waktu berlalu, dan Bu Ani kini jadi sering melihat tanaman di kebun rumah Nadia, karena keindahan tanaman di kebun itu sama seperti tanaman di kebunnya!

 

 

Cerita: Seruni      Ilustrasi: Agung

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *