“Tir, lewat situ saja, biar cepat,” seru Eja menunjuk ke arah kirinya. “Tapi, di situ banyak anjingnya, Ja,” tolak Tirta. “Tenang saja, jam segini biasanya anjingnya dirantai sama pemiliknya,” ucap Eja berusaha meyakinkan. “Tapi…,” belum selesai Tirta berbicara, Eja sudah duluan menggowes sepedanya. Tirta pun mengikuti dari belakang.

Ketika sedang asyik menggowes, tiba-tiba, rantai sepeda Eja putus. “Kok berhenti, sih, Ja? Tuh, sudah mulai kedengaran gonggongan anjingnya,” ucap Tirta khawatir. “Rantai sepedaku putus, Tir. Sepedanya harus dituntun, nih,” jelas Eja sembari mengelap keringat dengan tangannya yang penuh bekas oli. “Sudah, tenang saja. Anjingnya di dalam rumah semua, kok. Nggak bakal ngejar kita,” tandas Eja seakan bisa membaca pikiran Tirta.

Tirta memang memiliki trauma terhadap anjing. Dulu, ia pernah digigit karena tak sengaja menginjak buntut seekor anjing. Semenjak itu, setiap melihat anjing, ia selalu ketakutan, keringat dingin, dan langsung mengeluarkan jurus “seribu langkah” alias lari terbirit-birit.

Karena sudah setengah jalan, Tirta tak mungkin kembali dan berputar arah. “Hufh, ya sudah,” ucap Tirta tampak pasrah karena tak ada pilihan. Eja berjalan duluan sambil menuntun sepeda. Tirta pun akhirnya turun dari sepeda dan menuntun sepedanya juga, walaupun tak ada yang rusak.

“Sstt…Ja,” panggil Tirta setengah berbisik. Ia berusaha memanggil Eja yang jalan terlalu cepat, tapi tak mau membangunkan anjing yang sedang tidur pulas. Ketika Eja menengok, Tirta mengisyaratkan dengan tangan untuk menunggunya.

“Kamu jalannya lama banget, sih, Tir,” protes Eja. “Ssstt…pelan-pelan, Ja. Nanti anjingnya bangun,” bisik Tirta. “Walaupun aku ngomong pelan, sudah ada yang bangun, tuh,” ujar Eja santai. Perlahan Tirta menoleh ke belakang. Ternyata, sudah ada anjing jenis Labrador yang duduk manis sambil memerhatikan mereka berdua.

“Hwaaa….!!!” Seketika Tirta lari terbirit-birit meninggalkan sepedanya dan Eja. Anjing yang tadinya duduk manis, kemudian mengejar Tirta karena mengira sedang diajak bermain. “Tir, jangan lari!” seru Eja. Eja melihat sepeda Tirta yang tergeletak tak bertuan. “Haduh, Tirta bikin repot saja, sih,” keluh Eja sambil menuntun dua sepeda.

Tiba-tiba, dari kejauhan ia melihat Tirta berjalan dengan santai sambil melambaikan tangan padanya. Namun, Tirta tidak sendiri. Dari belakang, ada anjing Labrador yang setia mengikutinya. “Maaf, ya, Ja, kamu jadi bawain sepedaku, deh,” sesal Tirta.

“Kok, kamu bisa nggak takut lagi sama anjing yang tadi ngejar kamu?” tanya Eja. “Iya, pas aku capek dan berhenti lari, dia nggak gigit aku. Tapi, malah mengendus kakiku. Kayaknya dia mau ngajak bermain, deh,” cerita Tirta. Akhirnya, ketakutan Tirta akan anjing pun hilang. Bahkan, ia jadi bersahabat dengan anjing yang mengejarnya dan memberinya nama Bruno.

(Cerita: Just For Kids/ Ilustrasi: Just For Kids)

 

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *