Dunia anak adalah bermain. Dengan bermain, anak sekaligus belajar banyak hal. “Tak hanya penting bagi tumbuh kembang anak, bermain berikan banyak manfaat, seperti memperkaya wawasan tentang solusi masalah, meningkatkan rasa keberhasilan, mengasah koordinasi motorik, dan mengasah kemampuan sosial,” ujar Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psi., psikolog dan Ketua Ikatan Psikologi Klinis Jakarta pada acara diskusi visual bertajuk #MainYuk dari Rumah Bareng Paddle Pop, Selasa (22/07).

Namun, tak semua orangtua berpandangan serupa. Beberapa orangtua justru menganggap kegiatan bermain hanya membawa kesenangan semata, tanpa manfaat lain, terutama bagi anak yang memasuki usia sekolah. Sehingga akhirnya bukan membebaskan anak berekplorasi, melainkan membatasi anak bermain. Ups, jangan keburu menyimpulkan seperti itu ya, Bunda.

“Proses bermain bisa memberikan banyak manfaat yang bahkan kadang-kadang tak diajarkan di sekolah. Misalnya, saat anak bermain peran (role play), tokoh yang ia mainkan bertengkar. Maka anak akan punya ide bagaimana cara menyelesaikan masalah. Bermain juga bisa meningkatkan kepercayaan diri anak. Contohnya, saat anak bermain susun balok, ia berhasil membuat menara tinggi, lalu setelah itu ia membuat menara yang lebih tinggi dari semula, maka anak akan merasa dirinya berhasil, dan kepercayaan diri-nya pun meningkat,” urai Nina menjelaskan sebagian manfaat bermain bagi anak.

Bisa Menjadi “Coping Stress”

Apalagi, selama pandemi Covid-19 ini, anak-anak menjalankan sekolah virtual dan disarankan untuk tetap di rumah, waktu bermain pun menjadi semakin penting. “Sekolah virtual telah menuntut anak untuk selalu on screen, sehingga bermain menjadi momen tepat untuk mengurangi screen time anak. Jadi, saya dan Mas Baim sangat membebaskan anak bermain, bahkan kami yang menginisiasi waktu bermain yang berkualitas bersama anak”, ujar Puteri Indonesia 2004, Artika Sari Devi yang merupakan Ibu dari Abbey (10 tahun) dan Zoey (7 tahun).

Anna Surti Ariani Menjelaskan Seputar Pentingnya Bermain

Ya, sekolah virtual selama pandemi ini, bukan hanya mendatangkan tantangan bagi orangtua saja, melainkan juga anak. “Dari sisi orangtua, tantangannya mungkin dari bagaimana menyediakan fasilitas yang dibutuhkan anak, apakah butuh laptop, masalah bayar kuota, masalah sinyal, masalah kerja tambahan menyediakan waktu sekaligus mengajar anak. Di sisi anak, ragam tantangan pun mereka hadapi, seperti menumpuknya tugas sekolah, bosan di rumah, pengin main sama teman di luar rumah, bingung sama pelajaran, kesal karena dimarahi terus sama orangtua, dan sebagainya,” pungkas Nina.

Dikatakan Nina, berbagai faktor di atas itu bisa membuat anak stres atau tertekan. “Ketika anak terus-terusan ditekan dengan tuntutan tersebut, maka ibarat karet yang ditegangkan akan menjadi kendor, akibatnya karet jadi tidak efektif lagi untuk mengikat sesuatu. Begitu pula dengan anak. Bila ia tegang, maka belajar menjadi tak efektif. Namun bila anak jadi santai, ia justru akan belajar dengan efektif,” ujarnya.

Nah, tahukah Bunda, ternyata bermain itu bisa dimanfaatkan sebagai ‘coping stress’ bagi anak. Coping stress adalah bagaimana cara kita mencari jalan keluar untuk mengatasi tekanan atau stres yang kita hadapi sehari-hari. “Nah, anak bisa bisa mengatasi masalah yang ia hadapi dengan melakukan proses bermain. Misalnya, anak habis dimarahin orangtuanya, pasti kesal. Ia lalu bermain peran dengan menggunakan boneka/mainannyadan memarahi boneka-nya. Itu sebenarnya proses anak mengekspresikan emosinya secara sehat, jadi tidak memendam di dalam (hati). Hal ini justru baik bagi kesehatan mentalnya, sehingga anak tidak mengalami efek dari stres,” jelas Nina.

Wah, ternyata bermain bagi anak bisa juga meningkatkan kemampuan-nya untuk menghadapi dan mengatasi tantangan atau masalah dengan baik dan tenang, ya Bun. Apalagi, tantangan yang akan dihadapi anak-anak di masa depan tidak sama dengan yang kita hadapi sekarang. “Mereka perlu dibekali bukan saja dari segi akademis, tapi juga dari segi kreativitas, karakter dan kemampuan bersosialisasi yang bisa didapat dari bermain,” tutup Anna.

Tunggu apalagi, bebaskan si kecil bermain, ya Bunda. Tentu saja dengan pengawasan dan jadwal yang telah disepakati bersama. Dengan begitu, anak tetap dilatih disiplin sambil belajar lewat bermain!

Foto: Freepik, Ist

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *