TikTok Ajak Kreator Memanfaatkan Teknologi untuk Menyebarkan Pesan Positif

Walau memiliki durasi pendek maksimal 60 detik, konten video di TikTok bisa menjadi sarana menyebarkan pesan positif yang efektif.

Hal itu disampaikan oleh Donny Eryastha, Head of Public Policy, TikTok Indonesia, Malaysia and The Philippines dalam acara bincang-bincang bertajuk “Video Pendek untuk Menyebarkan Pesan Positif” di Kota Kasablanka Mall, Jakarta, Sabtu (29/02).

“Sekarang ini, banyak pengguna di berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia, menggunakan TikTok untuk membuat gerakan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat. Konten global tentang menyelamatkan lingkungan, sudah ditonton lebih dari 1,5 miliar. Sementara di Indonesia sendiri, contohnya gerakan belajar bareng sudah dilihat lebih dari 500 juta penonton,” katanya.

(Ki-Ka)​ Donny Eryastha – Head of Public Policy TikTok Indonesia, Yoris Sebastian – Konsultan Kreatif, Wulan Guritno – Founder Yayasan Hope dan Dien Limano – Kreator saat berbagi cerita tentang menyebarkan pesan positif di TikTok

Ya, tak cuma konten seru-seruan saja, konten bermanfaat pun bisa dibikin seru dan menyenangkan, entah itu lewat format dance (tarian), komedi, musik dan sebagainya. Apalagi, format video singkat dan fitur editing yang lengkap di TikTok memudahkan para kreator berkreasi membuat video dengan efisien, tanpa perlu memakai aplikasi lain.

Untuk itu, TikTok mengajak para kreator dan generasi muda untuk berkontribusi secara positif kepada masyarakat dengan ragam isu penting, misalnya saja kesadaran akan hak-hak anak, lingkungan, penyakit kanker maupun kesehatan.

“Masyarakat juga antusias untuk terlibat kampanye-kampanye positif itu. Sekarang, main di TikTok bukan hanya seru-seruan di waktu luang, tapi lebih daripada itu,” imbuh Donny.

Seperti yang dilakukan oleh Wulan Guritno, salah satu kreator TikTok. Selebriti yang juga menjadi co-founder Yayasan Hope ini fokus menyebarkan pesan kesadaran akan penyakit kanker. Dalam video-videonya, ia menyertakan tagar #HOPEchallenge yang ditujukan untuk memberikan cinta, dukungan dan harapan kepada mereka yang menderita kanker dengan memadukan gerakan dance dan lagu “Ain’t No Mountain High Enough”.

Program Sama-Sama di TikTok berlangsung mulai 28 Februari 2020 hingga 1 Maret 2020 di Main Atrium, Kota Kasablanka, yang diisi dengan berbagai kegiatan interaktif di booth

“Hope challenge adalah sarana untuk kita memberikan semangat, harapan, cinta dan pelukan bagi mereka yang berjuang terhadap kanker, melalui video. Semua orang punya masalah, tapi dengan adanya harapan, mudah-mudahan masalah itu bisa terlewati,” ujar ibu dari 3 orang anak yang dulunya sempat mengira bahwa TikTok adalah aplikasi hiburan untuk anak-anak saja.

Hal senada disampaikan pula oleh Dien Limano, pelatih olahraga yang aktif membagikan tips sederhana seputar olahraga dan kesehatan di akun TikToknya.
“Video pendek membuat kita mau nggak mau harus lebih kreatif membuat konten, bagaimana caranya agar pesan kita ngena di sasaran. Untungnya di TikTok pilihan lagu banyak banget, dari yang kekinian maupun tahun 80-an itu ada, jadi video saya gak bikin bosen, hehe…” katanya.

Bahkan, sejak membuat video kesehatan di TikTok, Dien pun kini membangun komunitas untuk gerakan melawan obesitas. “Pertumbuhannya dalam 4 bulan terakhir sudah mencapai 15.000 orang,” katanya.

Anak-anak muda tampak antusias mengunjungi booth TikTok di Main Atrium Kota Kasablanka, Jakarta

Terkait video singkat dalam menyampaikan pesan, dirasa oleh pengamat tren pemasaran, Yoris Sebastian, cukup efektif dan efisien.
“Saat ini, kecenderungan orang untuk pay attention (menaruh perhatian) terhadap sesuatu itu makin pendek. TikTok menjadi salah satu pilihan untuk generasi muda karena mereka gak perlu melihat dengan durasi yang panjang. Di tambah lagi, anak-anak muda ini kan pengennya bukan cuma menonton ya, tapi juga membuat konten. Di TikTok kan ada berbagai fitur yang mungkin gak ditemukan di platform digital lain, akhirnya mereka jadi content creator tanpa harus punya aplikasi lain,” katanya.

Donny menambahkan bahwa rata-rata orang Indonesia menonton 100 video TikTok per hari. Dan kalangan penonton terbanyak adalah dari generasi Z.

“Sebagai wadah video pendek, TikTok mengajak masyarakat, terutama generasi muda untuk memanfaatkan teknologi dan berkreativitas dalam menyebarkan pesan-pesan berdampak sosial dan positif,” tutupnya.

TikTok sendiri sudah melakukan berbagai kampanye sosial dengan bekerjasama dengan berbagai NGO dan komunitas, antara lain kampanye “Sama-Sama Aman, Sama-Sama Nyaman” bersama Komunitas Sudah Dong untuk menerbitkan panduan anti cyber-bullying,​ #EduTok dan #BelajarBareng yang mengajak pengguna membagi konten edukasi di TikTok, #SosmedCinta yang bekerjasama dengan ICT Watch untuk mendorong literasi digital, serta berbagai kampanye di tingkat internasional, seperti #SaveOurOcean yang bekerjasama dengan Conservation International untuk mendorong pelestarian laut.

Foto: Efa

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *