Syifa dan Syafa

Syifa dan Syafa bukanlah manusia, melainkan dua ekor kelinci yang sangat lucu. Namun sayang, mereka tidak bersyukur atas semua yang mereka miliki. Selama ini, mereka mengharapkan diri mereka menjadi seorang manusia.

Pada suatu hari, mereka bertemu dengan seorang Peri cantik. Peri tersebut bermaksud membantu Syifa dan Syafa menjadi manusia, meski hanya dalam waktu semalam. Tapi, ada syaratnya. “Apa itu syaratnya, Peri?” tanya Syifa disusul anggukkan Syafa. “Syaratnya adalah, kalian harus menjadi manusia yang baik dan selalu membantu sesama. Jika kalian mengingkari, wujud kalian akan menjadi kelinci kembali secara tiba-tiba,” jelas Peri.

Syifa memang terkenal dengan kesombongannya. Walau ia pernah berjanji untuk berubah, namun ucapannya tak pernah terbukti sampai sekarang.
“Baiklah kalau begitu, sekarang kalian hanya perlu menutup mata kalian,” jelas sang Peri dengan suaranya yang anggun. Syifa dan Syafa pun menutup mata mereka berdua dengan senyum mengembang.

“Nah, sekarang kalian boleh membuka mata kalian,” ujar sang Peri sesaat setelah ia mengubah Syifa dan Syafa menjadi manusia. “Waw!” seru Syifa dan Syafa. Mereka berdua menjadi manusia remaja berwajah manis. Mereka berpelukan dan tertawa riang. Sang Peri pun ikut bahagia melihat kebahagiaan kedua kelinci yang sekarang telah menjadi manusia.

“Nah…ingat! Waktu kalian menjadi manusia hanya semalam. Lebih tepatnya lagi, pukul dua belas tengah malam, kalian harus kembali ke tempat tinggal kalian sebagai kelinci,” ujar Peri. Syifa dan Syafa hanya mengangguk tanpa melepas pelukan mereka. Seketika itu, Peri pun menghilang.

Syifa dan Syafa ternyata sangat mudah bergaul dengan manusia lainnya. Hanya dalam waktu sekitar 5 jam, mereka sudah mendapat teman.
“Syifa, Syafa, bagaimana kalau nanti malam kalian ikut kita ke pesta kembang api?” ajak salah seorang teman dari Syifa dan Syafa.

“Benarkah? Aku ikut! Aku pasti akan menjadi orang yang paling cantik di sana!” ujar Syifa menyombongkan diri. “Pesta kembang api itu diadakan pukul dua belas! Dan akan selesai pukul tiga dini hari,” kata temannya itu lagi. “Hmmm… sepertinya aku tidak bisa ikut jika harus pukul dua belas!” ucap Syafa. “Hah?! Dasar aneh! Sudahlah, Teman-teman! Kita tinggalkan saja dia! Memang ketinggalan zaman sekali dia!” cela Syifa.

“Tapi, Syifa…kamu kan…,” Syafa mencoba mengingatkan Syifa kalau ia sudah berjanji pada Peri agar tidak pergi lewat dari jam 12. Namun, Syifa sudah terlanjur pergi dengan teman-teman barunya.

Sekarang, Syafa hanya tinggal sendiri. Ia mencoba mencari teman di tempat lain. Ia mengunjungi sebuah gubuk kecil yang letaknya tak jauh dari tempat Syifa dan teman-temannya berkumpul.

“Permisi…,” ujar Syafa pelan. Kepalanya mengintip ke dalam gubuk kecil yang terbuat dari kardus. “Iya. Kakak siapa ya?” tanya seorang anak perempuan berwajah imut. “Hai! Perkenalkan, namaku Syafa… kamu siapa? Bisa kamu kenalkan aku dengan teman-temanmu?” jawab Syafa ramah.
“Hai! Kak Syafa! Aku Ratih… dan ini, Reza, ini Raka, dan ini Putri,” ujar anak itu. “Hmmm… boleh aku bermain dengan kalian?” tanya Syafa polos.
“Apa, Kak? Kakak ingin bermain dengan kita? Kakak tidak lihat penampilan kita? Kotor, dekil, kumuh… tidak seperti Kakak! Bersih dan cantik!” ujar salah seorang teman Ratih, Putri. “Apa masalahnya? Sejak kapan penampilan menjadi suatu hal yang tidak memperbolehkan kita untuk bermain?” jawab Syafa tersenyum.

Lalu, mereka berlima pun bermain dan bercanda ria di sebuah gubuk yang sederhana. “Terima kasih ya. Kalian akan menjadi teman yang terbaik untukku!” ujar Syafa senang. Mereka pun menghabiskan waktu dengan bermain bersama.

Waktu berjalan, sampai akhirnya menunjukkan pukul 11.55. Syafa merasa dirinya harus segera kembali ke tempat asalnya. Semua teman barunya sudah tertidur pulas. Syafa pergi tanpa pamit karena tidak enak membangunkan mereka. Syafa mencari Syifa yang masih asyik bermain bersama teman-temannya.

“Syifa! Ayo, kita pulang!” seru Syafa ketika ia mendapati Syifa. “Apa? Untuk apa aku pulang?” jawab Syifa. “Tapi, waktu kita tinggal sebentar lagi! Ayo, kita pulang!” jelas Syafa, kali ini nada suaranya lebih tegas.
“Tidak mau! Aku ingin tetap di sini! Kalau kamu mau pulang, ya pulang saja sendiri! Sana! Jangan ganggu aku!” teriak Syifa seraya mendorong tubuh Syafa.

Karena merasa tidak dapat melakukan apa-apa lagi, Syafa pun pulang ke tempat asalnya. Tepat pada pukul 12.00 tengah malam, tubuh Syafa berubah menjadi kelinci. Hatinya merasa puas karena ia dapat menjadi manusia yang memiliki banyak teman. Sedangkan Syifa, ia terlihat tegang ketika tubuhnya mulai mengecil dan mengeluarkan bulu. Teman-temannya merasa takut melihat perubahan pada tubuh Syifa. Mereka pun lari terbirit-birit ketakutan. Dan Syifa hanya bisa bersedih karena belum puas dengan kebaikan yang diberikan Peri. Ia belum sempat bersenang-senang dengan teman-temannya. Sekarang, ia hanya bisa bersedih dan meratapi kesendiriannya.

 

Cerita: JFK    Ilustrasi: JFK

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *