Coco si anjing corgi sangat gembira ketika Ana majikan barunya mengajaknya tinggal bersama. “Mulai hari ini Ana akan jadi majikan yang menyayangiku!” kata Coco. Dan mungkin saja di rumah Ana, Coco bisa mendapat teman-teman baru yang baik hati. Tapi sayang sekali ternyata teman baru Coco tidak seperti yang diharapkannya.

Di rumah Ana, tinggal dua binatang, yaitu Kuki si kucing dan Kicau si burung kenari. Kuki dan Kicau menyambut Coco dengan meledeknya. “Wah Kuki, kita mendapat teman baru! Coba kau lihat kakinya! Pendek sekali! Hahaha!” kata Kicau. “Bagaimana kalau kita beri julukan si pendek?” usul Kuki. “Setuju!” seru Kicau. “Hai Pendek, selamat datang!” sapa Kuki dan Kicau bersamaan. Coco sangat kecewa.

Pagi hari Kicau berkicau riang, membuat suasana rumah Ana jadi menyenangkan. Walaupun Coco tidak suka dengan Kicau tapi melihat Ana senang mendengar kicauan merdu Kicau, Coco jadi ikut senang. Ana lalu bermain bersama Coco dan Kuki. Ingin rasanya Coco mengadu pada Ana tentang Kuki dan Kicau, tapi tentu saja itu tidak mungkin, karena Ana tak akan mengerti bahasa Coco.

Pada suatu hari, terjadi hal yang tidak biasa. Ana berhenti bermain dengan Coco! Tidak hanya itu, Ana juga berhenti bermain dengan Kuki. Tapi, Kuki bersikap biasa saja. “Aku ini kucing yang bisa bermain sendiri, tidak sepertimu yang selalu minta diajak bermain,” kata Kuki. “Benar sekali,” kata Kicau. Rupanya Kicau bisa membuka kandangnya, dan suka terbang mengelilingi rumah tanpa sepengetahuan Ana.

Tapi, lama kelamaan Kicau juga merasa ada hal yang aneh dengan Ana. “Ana terus menerus menatap layar gadget-nya, baik pagi, siang, sore atau malam hari. Ini aneh sekali,” kata Kicau yang diam-diam memperhatikan Ana. “Aku akan mencoba mencari tahu,” kata Kuki. “Izinkan aku membantumu!” minta Coco. “Kami kira kau hanya anjing pemalas, gampang tersinggung dan manja, Coco. Ternyata tidak. Penilaian kami terhadapmu berubah. Maafkan kami sudah meledekmu,”  kata Kuki dan Kicau. Mendengar itu, Coco jadi gembira. Akhirnya mereka bertiga benar-benar menjadi teman.

Setelah mencari tahu, ternyata kelakuan aneh Ana selama ini disebabkan oleh kesukaan yang berlebihan terhadap dunia maya di gadget. Ana mempunyai teman-teman dan pengikut di dunia maya dan tidak bisa lepas dari mereka. “Katanya jika berlebihan, hal ini bisa menyebabkan sakit secara jiwa dan raga,” kata Kuki. “Dan bagaimana dengan teman-teman Ana yang ditemuinya sehari-hari?” tambah Kicau. “Ini tidak bisa dibiarkan!” kata Coco.

Coco, Kuki, dan Kicau lalu memutuskan untuk belajar menulis bahasa manusia dan menuliskan surat untuk Ana. Sementara mereka bertiga belajar menulis, Ana rupanya mengalami kekecewaan di dunia maya. Teman dan pengikutnya di sana berkurang banyak, membuatnya sangat sedih.

Suatu hari, Ana menemukan sebuah surat dan membacanya. Surat itu berantakan sekali penulisannya, tapi isinya sangat menggugah! “Jangan sedih karena kehilangan teman-teman dalam gadget. Jika kau sakit dan sedih, mereka tidak bisa menolong dan  menghiburmu. Lebih baik bermain bersama kami saja, yang selalu kau jumpai setiap hari dan selalu siap membantumu!” begitu bunyi surat itu. Ana tersenyum dan menjadi semangat lagi, dan dia kembali bermain bersama Coco dan Kuki, serta memuji kicauan Kicau.

 

 

 

 

 

 

Cerita: Seruni     Ilustrasi: Agung

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *