Steven mengerutkan kening. Ia menemukan surat beramplop sama dan tak berperangko. Anehnya, ini sudah ketiga kalinya ia mendapatkannya. Di surat itu tertera “Buat Si Pirang”. Hmm, padahal di rumah ini tidak dia sendiri yang berambut pirang. Ada Alex, Mark, dan dia sendiri. Lalu surat itu buat si pirang yang mana? Steven bingung.

Steven membawa masuk surat misterius itu. Lagi-lagi tidak ada nama pengirimnya. Amplop surat juga selalu sama, berwarna cokelat. Sebenarnya tak akan membuat Steven bingung jika dua pirang yang lain ada. Mereka bisa membuka surat itu bersamaan. Namun sayangnya, saat ini dua pirang lainnya tidak berada di tempat. Hari Sabtu kemarin, Alex, sepupunya pulang ke rumahnya. Alex libur sekolah dua minggu ini.

Sementara Mark, kakaknya, ikut menemani Nenek ke luar kota selama sepekan. Ya, sungguh tak sopan bila membuka surat-surat itu selama ketiga pirang tidak bersama-sama. “Buka saja,” saran Antony, teman Steven ketika menelepon. “Kalau ternyata untuk Alex atau Mark, bagaimana?” tanya Steven. “Hm, kenapa tidak telepon Alex dan Mark saja? Beres kan?” kata Antony lagi.

“Aha, ide cemerlang!” kata Steven. Ternyata Alex tak keberatan jika surat-surat itu dibuka. Sayang, Mark bersikeras meminta Steven menunggunya. Mark pulang hari Minggu depan. Steven pun memperhatikan surat di tangannya dengan mengernyitkan dahi. “Pasti bukan untukku,” katanya.

Suka tidak suka, Steven harus menunggu. Namun, keadaan menjadi lebih rumit. Pada hari Senin, Steven mendapatkan surat dengan amplop yang bertuliskan, “Segera balas. Tempatkan balasan di atas kotak surat.”

Steven menggerutu. Si pengirim mulai main perintah. Selasa, hal yang sama terulang. “Cepat balas!” Keesokan harinya lebih kacau. “Awas kalau tak balas!!!” Steven tidak tahan lagi. Ia bercerita pada Alex. “Buka saja suratnya!” perintah Alex.

Karena takut membuka sendiri, Steven mengajak Antony untuk menemaninya. Dengan gemetar, Steven mengambil sebuah surat. Ada sepotong kertas di dalam surat tersebut. Waktu dibuka, kosong! Tidak ada tulisan apa-apa.

Surat kedua sama saja. Hanya ada selembar kertas tak bertuliskan apa-apa di dalamnya. Steven akhirnya membuka surat yang ada ancamannya. Isi surat itu ada kertas bertuliskan AWAS, dengan tinta berwarna biru.

Isi surat berikutnya semakin mengerikan. Empat huruf berbunyi AWAS!!! Dengan tinta hitam.

Yang terakhir lebih menciutkan hati. Ditulis dengan tinta merah : AWAS!!!!! Ada deretan kata di bawahnya, “Pirang, ketemu di taman. Besok jam 16.00. Datang sendiri. Kode:merah.” Steven gemetar. Yang ini tidak main-main. “Jangan takut. Aku akan bayangi kamu,” Antony menenangkan. “Jika terjadi sesuatu, aku akan menolongmu,” kata Antony lagi.

Hampir semalaman Steven tidak bisa memejamkan mata. Esok paginya, ia bangun dengan kepala pening. Sepanjang hari tak ada yang dapat ia kerjakan dengan benar. Ia menunggu sampai pukul 15.45. Tepat jam tersebut, Steven meninggalkan rumah. Sesampainya di taman di ujung jalan, ia melihat beberapa anak sedang bermain. Ada seorang yang memakai topi merah. “Pasti bukan dia,” pikir Steven. Anak itu baru berusia sekitar lima tahun. Steven melirik arloji yang dipakainya. Tiga menit sebelum pukul 16.00. Ia memutuskan untuk menunggu.

Tepat jam 4 sore, Steven melihat seorang anak memasuki taman. Ia memakai jaket, celana panjang, dan topi. Semua serba jeans. Tidak ada yang berwarna merah. Anehnya, anak itu berjalan ke arah Steven. Steven tegang. Ia tak tahu mesti diam saja atau menyapa anak laki-laki tersebut. Steven lebih tegang lagi sewaktu anak itu melepas topinya. Rambut pirang panjang meluncur turun. Wow, ternyata anak perempuan! Anak itu lalu membuka jaketnya. Steven benar-benar terkejut. Ah, kaos merah! “Hai, Steven. Aku Jeselyn. Aku tinggal di rumah Bibi Sisi. Aku sepupu Antony. Kita akan jadi teman sekelas usai liburan nanti,” kata anak perempuan itu.

“Rumah Bibi Sisi? Sepupu Antony?! Tetangga depan rumahnya? Astaga! Kamu yang mengirim surat-surat itu padaku?” tanya Steven gugup.

Jeselyn mengangguk. “Mengapa tidak langsung mengajakku kenalan saja?” tanya Steven lagi. “Ah, kurang seru! Aku tahu, liburanmu tak begitu asyik. Mark sibuk, dan Alex pulang. Makanya, aku merancang perkenalan yang penuh misteri,” kata Jeselyn sambil tertawa.

Steven tidak tahu mesti berkata apa? Ia juga tak tahu apa perlu marah pada Antony. Hm, mungkin jangan. Sebab ternyata dengan surat itu ia mempunyai teman baru yang menyenangkan!

 

Cerita: JFK   Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *