Syuuut..BLUK! Botol plastik kosong Medi meluncur jauh melewati sungai belakang sekolah, jatuh tepat di tepian sungai yang berumput.  “Menang!” sorak Medi senang. “Yah, kita traktir Medi,” kata Alin dan Beni, kedua temannya. “Asyik!” kata Medi.  Sudah dua hari ini sepulang sekolah Medi, Alin, dan Beni  berlomba melempar botol. Mereka bertiga akan berdiri di depan pagar. Masing-masing memegang botol plastik kosong, lalu satu persatu akan melempar botol itu. Jika botol melewati sungai berarti menang, yang botolnya jatuh di sungai kalah. Pemenangnya  ditraktir jajan yang kalah.  Lomba ini asyik dan kadang ada anak-anak kelas lain yang menonton. Tapi Pak Kalim, penjaga sekolah, tidak suka. “Itu taruhan, dan kalian mengotori lingkungan. Keduanya perbuatan jahat, ” nasihat Pak Kalim. Tapi Medi, Alin, dan Beni tak peduli.  Hari ini juga Pak Kalim melihat mereka, dia menggelengkan kepala dengan sedih.

Keesokan harinya di sekolah, Medi melihat Alin dan Beni berbicara serius dengan wajah pucat. “Medi, lihat mejamu!” kata mereka ketika melihat Medi. Medi terkejut melihat mejanya. Botol plastik yang kemarin dilemparnya diletakkan di situ. “Meja kami juga,” bisik Alin dan Beni takut.  “Prita, ketua kelas, yang melihatnya lebih dulu. Dia mengajak kami bicara. Katanya, sungai di belakang sekolah itu punya penunggu dan dia marah. Ini ulah si penunggu,” jelas Alin. “Aku tak percaya!” seru Medi.  Prita datang, dia menghampiri  Medi, “Aku pernah mengotori sungai di belakang sekolah, dan akibatnya mengerikan. Aku tak bohong,” kata Prita. “Kami tak akan berlomba lagi,” kata Alin dan Beni. Medi kesal.  Sepulang sekolah, Medi melempar botol kosongnya ke sungai belakang sekolah. “Aku tidak takut!” serunya.

Sampai di rumah, Medi bingung melihat Bi Inem basah kuyup. “Non, masa tiba-tiba keran di kamar mandi Non, rusak! Bibi jadi kesemprot air,” keluhnya.  “Kapan rusaknya, Bi?” tanya Medi. “Sejam yang lalu, Non,” jelas Bibi.  Medi terdiam. Itu bersamaan dengan waktu dia melempar botol plastik ke sungai!

Tengah malam Medi terkejut . Gadget miliknya berbunyi nyaring. “Siapa, sih?” gerutu Medi. SRRRH! Suara seperti air bah menghantam telinga Medi ketika dia mendengarkan suara si penelepon. Medi menjerit kaget. Kini dia ketakutan, dan ingat kata-kata Prita.  Keesokannya, Medi menceritakan apa yang dialaminya pada Alin dan Beni. “Perbuatan kita jahat, jadi harus dihentikan,” kata mereka. Medi melihat botol kosongnya ternyata tersangkut di tepian sungai belakang sekolah. Dia memutuskan untuk mengambil botol itu dan membuangnya di tong sampah. “Maaf, ya,” bisik Medi.  Medi bertemu dengan Pak Kalim, yang mengacungkan jempol padanya.  Jangan-jangan…ah, itu tak penting. Medi senang bisa jadi anak baik!

 

 

Cerita: Seruni     Ilustrasi: JFK

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *