“Ayo cepat jalannya!” teriak Seno kepada temannya, Hari. “Kata orang, rumah itu banyak hantunya,” ucap Seno. Seno menunjuk sebuah rumah di komplek yang sama dengan rumah Seno dan Hari. Rumah itu terlihat kotor dan tak terurus.

Hari yang baru saja pindah dan menempati rumah baru di komplek, memang baru tahu soal rumah hantu itu. “Ah, masa sih ada hantunya?” tanya Hari penasaran. “Iya, kalau sore menjelang malam, sering terdengar suara anak tertawa seperti sedang bermain,” ujar Seno. “Padahal di rumah itu cuma tinggal seorang Kakek tua saja,” lanjut Seno.

“Mungkin ada cucunya yang datang,” timpal Hari yang masih tak percaya. “Aduh, kamu masih saja tak percaya. Kakek tua itu tak punya keluarga di kota ini, dia tinggal seorang diri sejak istrinya meninggal 10 tahun lalu,” tutur Seno geregetan karena Hari masih saja tak percaya.

“Ha..ha..ha.. hi..hihi…hi,” samar-samar terdengar suara anak kecil tertawa dari dalam rumah itu. Hari dan Seno pun saling berpandangan. Keduanya langsung lari terbirit-birit. Tak disengaja, bola yang dibawa Hari terjatuh dan menggelinding ke dalam halaman rumah itu.

“Seno, bola kita jatuh,” teriak Hari memanggil Seno yang sudah lari jauh di depan. “Biarkan saja, kamu mau ketemu hantu apa?!” jawab Seno sambil berlari kencang.

Keesokan harinya, Seno dan Hari kembali melewati rumah itu. Mereka hendak bermain sepakbola di lapangan. “Bagaimana kita bisa bermain sepakbola kalau bolanya hilang?!” gerutu Seno. “Hei Seno, coba lihat!” teriak Hari.

“Bola kita sudah tidak ada di halaman,” ujar Hari. “Jangan-jangan diambil oleh hantu,” Seno pun ketakutan. Keduanya memutuskan masuk ke dalam pekarangan rumah itu untuk mencari bola. “Hei, kalian!” teriak seorang Kakek tua yang tiba-tiba hadir di depan pintu rumah sambil memegang sebuah bola.

Seno dan Hari langsung ketakutan dan bersiap ambil langkah seribu. “Ini bola kalian, bukan?” tanya Kakek itu sambil tersenyum. “Iiiii….iya… Kek,” jawab Seno dan Hari berbarengan dengan terbata-bata.

“Ayo sini ambil bola kalian,” ujar Kakek dengan ramahnya. Kedua bocah kelas 5 SD itu pun menghampiri sang Kakek dengan ragu-ragu. “Lain kali, hati-hati bila menjatuhkan barang,” saran si Kakek. “Kalian mau masuk dulu ke rumah Kakek?” ajak Kakek itu.

Seno dan Hari merasa kebingungan menjawab ajakan si Kakek. Belum sempat menjawab, Kakek itu lantas menarik tangan Seno dan Hari ke dalam rumah. Suasana di dalam rumah sangat rapi dan bersih, sangat berbeda jauh dengan kondisi di luar rumah yang tak terurus.

Sang Kakek mengajak Seno dan Hari masuk ke dalam ruang keluarga. Di ruangan tersebut, ada meja panjang yang dihiasi dengan foto-foto seorang anak laki-laki yang sepertinya seumuran dengan Seno dan Hari. Mereka memperhatikan satu demi satu foto yang terpajang di atas meja itu. “Anak kecil itu siapa, Kek?” tanya Hari memberanikan diri. “Oww, dia itu cucu Kakek, namanya Ridho,” cerita Kakek yang bernama Wongso ini.

“Ridho sekarang tinggal bersama kedua orangtuanya di luar negeri, tepatnya di Amerika Serikat. Jadi, Kakek jarang bertemu dengan dia. Padahal, Kakek rindu sekali dengan Ridho. Hampir tiap malam, Kakek menonton video rekaman Ridho saat bermain dan berkunjung ke sini,” Kakek bercerita panjang soal cucu satu-satunya itu. “Kakek memang tinggal sendiri setelah Nenek meninggal 10 tahun yang lalu, jadi Kakek senang sekali kalau ditemani rekaman Ridho, suasana rumah jadi ramai,” tambah Kakek Wongso.

Seno dan Hari saling berpandangan dan tersenyum kecil. “Kenapa kalian tersenyum?” tanya Kakek. “Ah, tidak kok, Kek.. Pantas saja, hampir tiap sore dan malam, sering terdengar suara anak kecil tertawa riang,” jawab Seno. “Oh iya, itu suara dari rekaman video Ridho yang sering Kakek setel kencang-kencang,” timpal si Kakek.

Seno dan Hari kini menjadi dekat dengan Kakek Wongso. Hampir setiap hari, keduanya sering berkunjung ke rumah Kakek Wongso. Bahkan, mereka juga membantu memotong rumput dan halaman rumah Kakek. Kakek Wongso pun menjadi bahagia karena rumahnya kini tak lagi sepi, berkat hadirnya Seno dan Hari.

(Cerita: JFK, Ilustrasi: Agung)

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *