Suara Piano

KRIIIING! Bel tanda sekolah usai, berbunyi nyaring.  “Horee! Akhirnya sore ini kita les piano bareng!” seru Dina kepada  Eli. “Iya, aku senang sekali kau juga ikut les di Rumah Musik Kutilang,” kata Eli. Dina dan Eli bersahabat sejak kecil dan keduanya sangat menyukai musik. Baru-baru ini, mereka mendapatkan piano sebagai hadiah ulang tahun. “Eh, kalian juga sekarang ikut les di Rumah Musik Kutilang?” tanya Deni teman sekelas mereka. “Iya, kami baru mendaftar minggu kemarin! Kamu juga ikut les di sana, Deni? Alat musik apa yang kau mainkan?” tanya Eli dan Dina. “Terompet. Unik kan?” kata Deni bangga. Tapi kemudian Deni terdiam. “Ada apa, Deni? Kok tiba-tiba diam?” tanya Eli penasaran. “Kalian tahu nggak kalau ada ruang kelas piano yang berhantu di Rumah Musik Kutilang? Pada hari-hari tertentu, pukul 8 malam, terdengar suara piano dari ruangan itu. Ruangan 6!” jelas Deni. “Haah? Kok aneh, sih?” seru Eli.

Sore harinya pukul 5, Eli dan Dina sudah siap di ruangan 4. Ruangan 4 terletak di lantai bawah Rumah Musik Kutilang. “Eh.. ruangan 6 di mana, ya?” tanya Dina. “Di lantai atas. Aku sudah tanya resepsionis tadi,” jawab Eli. Eli dan Dina terdiam. Eli menghela nafas. “Jujur saja, Dina, waktu belum datang ke Rumah Musik Kutilang, aku nggak takut sama cerita hantu piano. Tapi, setelah datang dan melihatnya sendiri suasana Rumah Musik Kutilang….aku jadi takut,” kata Eli. Rumah Musik Kutilang memang penuh dengan perabotan antik dan lampu kristal. Lorong di antara ruangan belajar pun dipenuhi dengan sinar kuning remang-remang lampu kristal. “Rumah Musik Kutilang kan mengajarkan musik-musik aliran klasik. Jadi, perabotannya harus yang klasik dan antik!” kata Dina kemudian. “Iya ya, harusnya kita senang, bukan malah ketakutan…,” keluh Eli. “Aduh, maaf ya, Ibu terlambat! Habis, sewaktu menuju  ke sini, hujan turun deras sekali dan jalanan macet!” kata Ibu Guru Maya, guru piano mereka yang akhirnya datang.Eli dan Dina melupakan ketakutan mereka sejenak dan berkonsentrasi pada pelajaran yang diberikan oleh Ibu Maya.

Setelah satu jam berlalu, akhirnya pelajaran selesai. Eli dan Dina sangat bahagia. “Kalau kalian mau latihan dulu dengan Grand Piano sebelum pulang, boleh, kok!” kata Ibu Maya. “Asyik! Terima kasih, Bu Guru!” ujar Eli dan Dina senang. Eli dan Dina mengulang pelajaran piano yang diajarkan oleh Ibu Maya di Grand Piano yang bersuara sangat indah. “Waah, bagusnya…,” seru Eli dan Dina. DHUARR! Tiba-tiba suara kilat membuat Eli dan Dina terkejut. “Astaga! Jam berapa sekarang?!” seru Dina. Eli melihat jam tangannya dan memekik ngeri. “…Hampir jam delapan malam!” bisiknya.

Eli dan Dina segera membereskan barang mereka dan berlari keluar. “Celaka, hujan lebat! Mobil kita pasti terjebak macet!” ujar Dina yang menggerutu duduk di kursi sambil melipat tangannya. Pada saat itu suara deras hujan mulai mereda. Ting…tang..tung…  “Itu suara piano dari lantai atas!” ucap Eli memandang Dina dengan mata membelalak. “Kau dengar itu…?” bisik Dina yang wajahnya langsung pucat. “Ha..hantu Pi..ano!” ujar Dina tergagap. Dina dan Eli lalu berpelukan ketakutan. DHUARRR! Sebuah kilat yang sangat keras menyambar, dan tepat setelah itu, listrik padam! “Tidaaaak!” jerit Eli dan Dina.

Terdengar suara langkah dari tangga, kemudian Eli dan Dina melihat seorang bapak berwajah ramah yang membawa lilin. “Pak Somad!” seru Eli dan Dina. Pak Somad adalah tukang kebun Rumah Musik Kutilang. “Untunglah kalian masih di dalam. Kilatnya besar sekali!” kata Pak Somad. “A..apakah Bapak bertemu dengan hantu piano?” tanya Eli dan Dina ketakutan. “Hantu piano?” tanya Pak Somad bingung. “Kami mendengar suara piano tadi. Kata teman kami, itu hantu piano!” seru Eli. “Ooh! Aduh, Bapak jadi malu.. Maaf sekali. Yang membunyikan piano malam-malam sampai dikira hantu itu anak Bapak, Gugun. Dia ingin sekali belajar piano, tapi Bapak belum punya uang…jadi Gugun harus bisa puas hanya dengan membunyikan piano-nya saja,” kata Pak Somad. Eli dan Dina tergerak hatinya. “Ehemmm, Pak… kalau Gugun mau, kami akan mengajarinya piano,” ujar Eli dan Dina. Pak Somad terharu, “Terima kasih! Bapak sangat berterima kasih!” “Horeee! Terima kasih ya, Kakak!” seru Gugun yang baru saja turun dari tangga. TING…..! Suara piano kembali terdengar. Pak Somad, Eli, dan Dina terkejut. Gugun senyum-senyum sambil berkata, “Ada yang ikut senang juga Gugun mau diajarin piano…” (Teks: Seruni/ Ilustrasi: Just For Kids)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *