Di suatu siang, di rumah Ray terdengar bunyi aneh. Gludug-gludug! Gludug-gludug! Bunyi apa, ya? Pikir Ray saat mau ke kamar mandi. Kebetulan ini adalah hari pertama Ray menempati rumah barunya. Ray menebak mungkin itu bunyi guntur. Mudah-mudahan saja turun hujan lebat, supaya udara agak sejuk. Ketika Ray keluar, eh ternyata langit terang benderang. Tidak ada gejala akan hujan.

Gludug-gludug! Ih, bunyi apa, sih? Apa ada orang berlari-lari di atas atap? Ah, itu kan cuma terjadi dalam film silat. Dalam kehidupan nyata, mana mungkin? Bisa rontok gentengnya dan orangnya terjeblos.

Namun, Ray masih penasaran. Ia menyeberangi jalan untuk memandang ke atas atap rumahnya. Tidak ada apa-apa! Atap garasinya yang terbuat dari plastik tebal itu berkilau memantulkan cahaya matahari.

Tiba-tiba, Ray merasa pundaknya ditepuk. Ia menoleh dan melihat seorang pria dengan brewoknya yang kusut. Sejenak Ray tertegun. “Aku penghuni rumah itu!” kata pria itu memperkenalkan diri. Ia menunjuk ke sebuah rumah besar tapi kumuh. “Ada apa, Nak?” tanya pria itu.

“Ada bunyi gludug-gludug di atas atap, Pak!” jawab Ray. “Aaaaaah!” seru pria itu seperti tercekik. Ray kaget. “Kenapa, Pak?” tanya Ray seketika. Pria itu mendekatkan kepalanya ke telinga Ray. Tidak terasa Ray mundur dua langkah, sebab…maaf ya, mulut pria itu berbau tidak enak. Bukan bau petai, entah bau apa. “Aku kan sudah memberitahu Ayahmu!” bisik pria itu dengan suara serak. Seperti mempercayakan suatu rahasia besar. “Jangan beli rumah aneh ini!” kata pria itu lagi. Ray jadi penasaran. Lalu ia cepat-cepat pulang.

“Ah, jangan percaya!” komentar Ayah, ketika Ray menceritakan apa yang dikatakan pria tetangganya itu.

Malam harinya, Ray sedang belajar Matematika sendirian di kamar. Ia merasa agak takut. Ray sangat berharap Ibu dan Ayahnya lekas pulang dari kondangan. Saat itu Mbok Ijah dan putranya, Zaenal, sudah masuk ke kamar mereka di belakang. Ray sudah mengantuk ketika tiba-tiba anjing tetangga seberang menyalak, lalu melolong…hauuuuunghauuuung..

“Ih… kenapa anjing itu? Lalu..eh, bunyi apa itu?” gumam Ray. Gludug-gludug-gludug! Gludug-gludug-gludug! Setan geluduk? Hiii… Ray terpaku di kursinya. Ia ingin berteriak memanggil Mbok Ijah dan Zaenal, tetapi suaranya tidak bisa keluar. Gludug-gludug-gludug! Gludug-gludug-gludug! Bagaimana kalau setan itu tiba-tiba memperlihatkan diri di jendela? Atau bahkan muncul di kamar? Jantung Ray berdegup keras, deg-deg-deg…Ia memejamkan matanya. Tiba-tiba saja terbayang wajah pria bermata merah itu. Yang menyeringai memperlihatkan giginya yang kuning-kuning panjang! Jangan-jangan dia setannya! Badan Ray lemas. Ia membuka matanya untuk mengusir gambaran wajah itu dari otaknya dan berdoa khusyuk dalam hati.

Rasanya lama sekali. Akhirnya bunyi gludug-gludug itu lenyap juga. Ray mengerahkan tenaganya untuk bangkit dan berlari ke arah kamar Mbok Ijah. “Mbok! Hhh! Hhh! Hhh!” teriak Ray terengah-engah.

“Ada apa? Ada apa?” tanya Mbok Ijah kaget.

“Hhh! Hhh! Ada..se..eh, bunyi gludug-gludug!” ucap Ray gemetar. “Di mana?” tanya Mbok Ijah. Ray menunjuk ke arah atap garasi dekat kamar kecil sebelah kamarnya. “Jangan-jangan maling!” kata Mbok Ijah. Zaenal segera menyambar lampu senter. “Bawa ini!” kata Mbok Ijah sambil mencabut dua stik golf Ayah dari wadahnya. Dengan mengendap-endap, mereka bertiga menuju garasi. Zaenal dan Mbok Ijah bersenjatakan pemukul bola golf. Gludug-gludug-gludug! Gludug-gludug-gludug! “Jangan buka pintu dulu!” bisik Mbok Ijah yang cerdik. “Telepon Dadang. Minta bantuan!” bisiknya lagi.

Mang Dadang adalah teman Zaenal yang bekerja di rumah seberang. Mang Dadang mengintip dari rumah seberang. Ke arah atap rumah Ray. Katanya tidak ada siapa-siapa. Jadi serempak ia dan Zaenal keluar. Tidak kelihatan apa-apa di atas atap. Namun anjing hitam milik majikan Mang Dadang menyalak-nyalak seru. Para tetangga, mengintip dari rumah masing-masing. Mang Dadang datang membawa tangga bambu yang disandarkannya ke atap garasi. Zaenal dengan gagah berani memanjatnya. “Hati-hati! Hati-hati!” pesan Mbok Ijah khawatir. Zaenal menyorotkan senter ke permukaan atap. Lalu kedengaran ia berseru keras, mengusir sesuatu, sambil mengayun-ayunkan pemukul bola golf. “Husss! Husss!” terdengar suara Zaenal.

Gludug-gludug-gludug! Gludug-gludug-gludug! Meong! Meong! Huh! Ternyata cuma dua ekor kucing berlari-lari di atas atap plastik! Begitu saja heboh! Aku mengusap dada lega.

Ilustrasi: Just For Kids Magazine

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *