Ngomongin bullying (perundungan), sepertinya tidak ada habisnya, ya, Kids. Tanpa kalian sadari, tindakan bullying ini sangat dekat dengan kita. Kalian tidak hanya menjadi korban, tapi bisa juga sebagai pelakunya, lho, Kids. Nah, agar kasus perundungan ini tidak bertambah, yuk, Stop Bullying!

Bullying adalah tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok yang merasa lebih kuat, untuk menyakiti, mempermalukan, dan menindas seseorang. Dilakukan secara berulang-ulang (dari waktu ke waktu) dengan tujuan untuk membuat korban menderita dan merasa tidak berdaya.

Kak Jane Cindy Linardi, M.Psi, Psikolog Anak dari RS Pondok Indah – Bintaro Jaya menyebutkan bahwa suatu perilaku dapat dikategorikan sebagai bullying jika memenuhi 3 syarat: yaitu niat pelaku untuk menyakiti korban, adanya ketidakseimbangan kekuatan; baik secara fisik, maupun popularitas, dan dilakukan secara berulang-ulang. Menurut Data KPAI 26.000 kasus bullying dari tahun 2011-2017 yaitu 4.300 kasus setiap tahun, 358 kasus setiap bulannya. Bisa jadi jumlah kasusnya setiap tahunnya makin bertambah.

Ditemui disela-sela small media discussion yang diadakan oleh RS Pondok Indah Group, Kak Jane menjelaskan ada 4 jenis bullying, yaitu;

  1. Bullying Fisik. Penindasan yang dilakukan dengan melibatkan kekerasan fisik (seperti; memukul, mencekik, meninju, menendang, meludahi, dsb). Termasuk merusak barang milik korban bullying.
  2. Bullying Verbal. Kekerasan verbal berupa naming (memberi julukan nama), celaan, fitnah, penghinaan, menyebarkan tuduhan yang tidak benar.
  3. Bullying Sosial. Pelemahan harga diri korban secara sistematis melalui pengucilan, pengabaian, penyingkiran (termasuk menghasut orang lain untuk ikut mengasingkan korban bullying).
  4. Bullying Cyber. Muncul seiring perkembangan teknologi. Korban terus mendapat pesan negatif, baik berupa sms, pesan di chat, internet (website), maupun media sosial.

Apa saja sih, penyebab bullying itu? Ternyata faktor keluarga, sekolah, kelompok pertemanan, dan tontonan televisi bisa menjadi penyebabnya lho Kids. Di keluarga misalnya, pola pengasuhan yang buruk seperti orangtua sering melakukan kekerasan fisik seperti memukul, menampar, meninju, dsb. Atau orangtua yang sering melakukan kekerasan verbal kepada anaknya seperti berbicara kasar, penuh makian dll. Tidak adanya perhatian serta tidak adanya attachment yang positif antara orangtua ke anak. Selain itu, situasi rumah yang penuh dengan konflik, permusuhan atau KDRT. Selain itu, pihak sekolah yang kerap mengabaikan tindakan bullying juga bisa menjadi salah satu faktornya lho Kids. Pihak sekolah yang kurang mengawasi, kurang tegas menangani tindakan perundungan, sehingga pelaku kurang jera dan berani mengulanginya lagi. Begitu juga dengan kelompok teman sebaya (pertemanan), dengan membuktikan diri mereka ‘kuat’ agar tidak dianggap payah dan lemah oleh teman-temannya. Tindakannya tersebut dimaksudkan agar diterima oleh suatu kelompok pertemanan. Kalian suka nonton adegan atau ucapan kasar di tayangan televisi? Nah, hal ini juga bisa sebagai penyebab tindakan bulliying. Ternyata, 56,9 persen anak meniru adegan film yang ditontonnya. Mereka meniru gerakan yang diperlihatkan (sebesar 64 persen) dan kalimat atau kata-kata yang diucapkan dalam dialog film (sebesar 43 persen).

(Foto : Ist)

 

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *