“Mainan baru ya, Im?” suara Aris mengangetkan Baim yang sedang asyik memainkan mainan barunya. “Pinjam dong!” pinta Aris setengah memaksa. Baim yang kecil terlihat agak takut.
“Tapi…aku belum selesai memainkannya…,” kata Baim.

“Terserah! Kalau aku bilang pinjam, kamu harus meminjamkannya!” bentak Aris. Dengan kasar direbutnya mainan itu dari tangan Baim.
“Baim, kamu kenapa? Kok kelihatannya sedih sekali?” sapa Mita.
“Mainan terbaruku direbut Aris. Padahal aku belum selesai memainkannya,” jawab Baim.
“Ah, lagi-lagi si sok jagoan itu!” Mita mendecakkan lidahnya dengan kesal. Lalu Mita pun menceritakan pengalamannya dengan berapi-api.
“Tahu nggak! Kemarin aku beli permen di kantin. Tahu-tahu Aris datang dan minta dibelikan permen juga. Aku nggak mau karena uangku pas-pasan. Eh, dia memaksa, bahkan pakai mengancam segala,” cerita Mita.
“Anak itu memang keterlaluan, benar-benar sok jagoan!” komentar Selly.
Aris memang terkenal di sekolahnya. Ia sering memaksa minta ditraktir teman-temannya. Kalau ia menginginkan sesuatu, ia akan merebutnya. Sebenarnya teman-temannya sudah sebal sekali dengan ulah Aris. Namun mereka tidak berani melawan. Selain Aris bertubuh besar, katanya Aris juga jago karate.
Suatu hari Bapak Kepala Sekolah mengumumkan bahwa akan diadakan lomba kebersihan antar sekolah. Anak-anak diminta kerja bakti untuk membersihkan sekolah. Semua anak bekerja dengan ceria.
Setelah membersihkan taman, Mita mencuci tangan di toilet belakang sekolah. Tiba-tiba ia tertegun melihat wajah Aris yang pucat.
“Kenapa Aris?” tanyanya heran. Dengan agak gugup Aris menjawab, “Ke..ke..kecoa! Di dekat toilet itu banyak kecoanya!” Aris menunjuk pohon yang ada di dekat mereka dengan tangan gemetar.
“Kecoa? Memangnya kenapa?” tanya Mita.
Aris tidak menjawab. Namun Mita mengerti. Rupanya Aris takut pada kecoa. Mita tersenyum sendiri.

“Hei! Kalau jalan pakai mata!” bentak Aris. Baim yang baru saja keluar dari kamar mandi sangat terkejut. Ia memang hampir saja menabrak Aris.
“Maaf, aku nggak sengaja,” kata Baim.
“Nggak sengaja apa? Kamu memang mau menabrakku, kan? Kalau berani, kita nanti ketemu di lapangan dekat sekolah jam empat sore. Awas kalau sampai kamu nggak datang!” ancamnya. Baim langsung menciut ketakutan.

Ia menceritakan masalahnya pada Mita dan Selly. “Kamu nggak perlu takut, Im. Hadapi saja!” komentar Mita penuh semangat. Baim terkejut. “Memang aku bisa melawan dia?” tanya Baim.
“Iya. Idemu gila, Mit!” kata Selly.

“Aris pasti menang. Badannya kan jauh lebih besar daripada Baim. Kasihan Baim kalau sampai babak belur,” tambah Selly.
“Sudah, santai saja. Aku punya rencana hebat!” bisik Mita. Ia lalu menceritakan rencananya pada kedua temannya. Baim dan Selly cekikikan mendengar rencana Mita.

Waktu menunjukkan pukul empat kurang lima menit. Baim berjalan pelan menuju ke lapangan, diikuti Mita, Selly, dan beberapa teman lain. Sebenarnya Baim agak cemas juga. Ia takut jika rencana mereka gagal. Namun berkat dukungan teman-temannya, ia pun memberanikan diri.
Sampai di lapangan, ternyata Aris sudah menunggu. “Wah, rupanya kamu nggak berani maju sendiri ya? Banyak juga pasukanmu,” sindir Aris. “Jadi, kalian mau maju satu-satu atau bersama-sama?” ejek Aris lagi.
“Bukannya aku tidak berani. Teman-teman ini akan menjadi saksi, siapa yang lebih hebat di antara kita,” jelas Baim.
Aris tertawa sinis. “O…begitu ya? Jadi kita punya banyak saksi. Baguslah! Sekarang kamu sudah siap?” tantang Aris. Baim mengangguk.
Buuk! Sekali pukul, Baim yang bertubuh kecil terjatuh dan meringis kesakitan. “Baru sekali pukul sudah KO?” ejek Aris. “Ayo bangun! Pengecut!” katanya lagi.
Sambil masih meringis menahan sakit, Baim berusaha bangkit. Tiba-tiba ia merogoh kantongnya dan melemparkan sesuatu ke arah Aris sambil berteriak, “Aris, awas! Ada kecoa di bajumu!”
Aris terkejut dan melihat kecoa yang baru saja dilemparkan Baim menempel di bajunya. Aris memejamkan matanya dan berteriak-teriak histeris.
“Tolong! Tolong! Tolong singkirkan kecoa itu! Ampun…,” teriak Aris.
Tentu saja semua teman yang menonton, tertawa melihat kejadian itu. Mereka berteriak-teriak mengelu-elukan Baim.
“Hidup Baim! Ternyata Baim lebih hebat!” kata mereka.
“Biar badan kecil, yang penting otaknya besar!” kata mereka lagi.
“Makanya, jangan berlagak sok jagoan! Jagoan kok takut kecoa!” komentar Mita disambut tawa teman-temannya. (Cerita dan Ilustrasi : JFK)

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *