Hari Minggu, Tika baru selesai makan siang. Kemudian, ia mengambil agenda sekolah dan membacanya. Apa yang tertulis di dalam membuatnya terkejut: Hari Senin, bawa tanaman untuk pelajaran IPA. “Gawat! Aku lupa! Kapan aku bisa cari tanaman?” keluhnya. Papa dinas ke luar kota, dan Mama bekerja sampai malam. Tidak ada yang bisa menolongnya untuk mencari tanaman.

Tika lemas membayangkan hari Senin nanti dia mendapat hukuman dari Ibu Guru. “Huh! Coba aku bisa sihir, tanaman pasti langsung ada,” gumamnya kesal. BRAK! Suara pintu ruang tamu yang ditutup dengan keras, membuat Tika terkejut. Rupanya, itu ulah adik laki-laki Tika, Max. “Max, jangan bikin kaget, dong!” seru Tika. Tapi, Max tak mengindahkannya dan masuk ke kamar. “Kenapa, sih, dia?” tanya Tika.

Belum lagi kebingungan Tika hilang, Bi Ina datang terburu-buru sambil menenteng belanjaan dari tukang sayur. “Non, gawat! Max tadi main bola di luar dan mengenai pot tanaman tetangga sebelah!” seru Bi Ina panik. “Apa? Aduh kacau, deh,” keluh Tika sambil menggaruk-garuk kepalanya kesal.

“Kamu harus minta maaf sama tetangga sebelah,” kata Tika pada Max. “Tapi, aku takut,” bisik Max. “Makanya jangan bandel!” seru Tika. “Aku mau minta maaf tapi temenin aku, ya, Kak Tika,” pinta Max. “Ya, ampun. Iya, deh!” tutur Tika sambil menggandeng tangan Max.

Mereka pun menekan bel rumah tetangga dengan takut-takut. Tak lama kemudian, si pemilik rumah keluar. Seorang kakak perempuan berwajah cemberut.  “Si..siang, Kak. Aku Tika dan ini adikku, Max. Adikku mau minta maaf karena sudah memecahkan pot tanaman kakak,” ujar Tika sambil menarik tangan Max. “Ayo masuk, tunjukkan yang mana,” jawab si kakak cemberut, membuka pintu pagar.

“Tanaman yang ini, Kak,” ucap Max menunjuk pot yang jatuh dan pecah, sehingga tanahnya berhamburan. Untung tanamannya tidak ikut rusak. Tetap saja, hal itu membuat Tika takut. “Oh, ini cabai. Tidak apa-apa, karena adikmu jujur dan mau minta maaf. Dan kau juga kakak yang baik, aku tidak marah,” kakak perempuan itu tidak cemberut lagi.

“Bagaimana kalau kalian bawa saja tanaman cabai ini? Sebagai kenang-kenangan,” tawar si kakak sambil tersenyum. “Terima kasih, Kak!” seru Tika dan Max. “Apa itu, Non?” tanya Bi Ina ketika Tika sampai di rumah. “Ini tanaman cabai dari kakak tetangga sebelah, Bi,” jawab Tika. Tiba-tiba, Tika teringat sesuatu. Oh, iya! Hari Senin, kan, dia diminta membawa tanaman dan sekarang di tangan Tika ada tanaman cabai! “Hore!” Tika berseru gembira, membuat Max dan Bi Ina kaget. “Kenapa, sih, Kak?” tanya Max. “Sihir tetangga sebelah,” jawab Tika tersenyum lebar.

 

 

 

 

 

Cerita: Seruni     Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *