Adnan senang membantu Ibunya berbelanja di pasar dan memasak. Kesenangannya itu menjadi bahan ejekan di sekolah. Ia sering menjadi korban Rayi, anak kelas 5 SD yang suka mengejek.

“Masa, anak laki-laki ke pasar dan memasak? Itu kan pekerjaan perempuan!” ejek Rayi. Aku mendekati Adnan dan membesarkan hatinya. “Kamu baik sekali,” ucapnya sambil mengusap air mata.

Esok harinya di kelas. Adnan menghampiriku. “Apa Rayi mengincarmu?” tanya Adnan. “Aku?” seruku kaget. Adnan mengangguk-angguk. “Iya. Tadi Rayi memaksaku cerita tentang kegiatanmu,” tuturnya panik. “Tapi aku bungkam. Kamu harus berhati-hati, ya!” kata Adnan padaku.

“Waduh, bagaimana, nih?” kataku yang jadi ikutan panik. “Maaf, pasti Rayi tak suka karena kemarin kamu baik padaku,” ujar Adnan.

Aku jadi tak tenang. Dadaku berdebar tak karuan saat mengantar kue jualan Ibu ke warung-warung langganan di pasar. Takut kepergok Rayi di tengah jalan. Dan…

“Hwuahahaha…,” tawa Rayi mengejek menghadangku. Ia berdiri sambil bertolak pinggang. “Sedang apa kamu? Jualan gorengan, kan pekerjaan perempuan!” kata Rayi padaku. Aku terkejut, langsung berkeringat. Rayi muncul begitu tiba-tiba. Akibat kepergok Rayi, esoknya aku jadi korban ejekannya.

Sebenarnya, aku tak malu membantu Ibu berjualan. Malah aku bangga, karena aku bisa membantu orangtuaku. Namun, ejekan Rayi memang sangat menyakitkan. Pantas saja Adnan sampai menangis dibuatnya.

“Kenapa nggak sekalian jualan di sekolah saja?” ejek Rayi. “Sekalian pakai kain, biar seperti ibu-ibu penjual di pasar!” ejeknya lagi.

Wajahku memerah. Rasa malu dan marah bercampur aduk. Kalau capek, pasti dia akan berhenti sendiri, batinku. Tetapi, aku keliru. Semakin lama, ejekan Rayi semakin menjadi-jadi.

Esoknya, Ibuku tampak kurang sehat. Wajahnya pucat. “Kamu bisa membantu Ibu berbelanja ke pasar, kan? Bahan-bahan untuk membuat kue sudah habis,” tanya Ibu. “K..ke pasar?” jawabku kaget. Bayangan Rayi akan mengejekku habis-habisan, langsung menghantui. “Ibu tak kuat berjalan,” ujar Ibu lirih.

Hmm.. aku menghela nafas, menguatkan diri. Ah, biarlah kalau nanti Rayi memergokiku berbelanja di pasar. Aku lebih peduli pada kesehatan Ibu. “Iya, Bu,” kataku.

Aku was-was sepanjang jalan. Kukebut sepedaku ke pasar. Kuparkir di sudut yang tak mudah terlihat. Aku berjalan mengendap-endap, hingga seluruh pesanan Ibu kudapat. Huh.. capeknya!

Tiba-tiba, kakiku tersandung, aku jatuh terjerembab. Belanjaanku jatuh berserakan. Kini, aku jadi pusat perhatian. Lalu, kulihat wajah menyeramkan itu… Rayi!

Ia juga tampak kaget dengan wajah memerah malu. Terlebih saat seorang Bapak menyuruhnya segera memberikan bungkusan yang dipegangnya kepada pembeli. Ooo… kini aku mengerti. Ternyata Rayi harus membantu orangtuanya berjualan di pasar. Berjualan pakaian wanita!

“Awas, kalau kamu berani menceritakan semua ini pada teman-teman!” ucap Rayi mengancamku. Tiba-tiba, rasa takutku hilang. “Jadi, ini sebabnya kamu tidak suka kalau ada teman yang ke pasar?” kataku. “Karena kamu tidak mau ketahuan membantu orangtuamu disini kan?” kataku lagi.

Seketika wajah Rayi memucat. “K..kau tak akan bilang pada siapa pun, kan?” ujar Rayi tergagap. Sebenarnya, aku sangat ingin membalas sakit hatiku, Adnan, dan teman-teman korban ejekan Rayi lainnya. “Aneh, membantu orangtua sendiri kok malu? Harusnya kamu malu pada kebiasaan burukmu itu yang suka mengejek teman-teman!” kataku kemudian. “Tolong, ya…,” kata Rayi mulai memohon. “Maaf…,” kataku yang langsung meninggalkannya.

Saat bertemu Rayi di sekolah, ia jadi pendiam sekali. Adnan dan teman-temanku lainnya jadi heran dan bertanya-tanya. “Apa kamu tahu apa yang terjadi dengan Rayi?” tanya Adnan penasaran.  Aku hanya tersenyum. Setidaknya, mulai saat ini, tidak ada lagi ejekan dari Rayi.

 

 

Cerita: JFK       Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *