Selepas Shubuh berlalu Ayu bergegas bangun dari tempat tidurnya. Sejurus kemudian dia langsung menuju kamar mandi membersihkan badan. Usai berganti pakaian, dia langsung menyambangi dapur. Matanya lalu menyapu setiap sudut dapur yang tak begitu luas. Beberapa perabotan yang tampak kotor dipungutnya satu persatu. Sejenak gadis berambut pendek ini mencucinya dengan air yang sudah tersedia di sebuah ember yang cukup besar. “Bu,…biar aku yang beresin dapur,” teriaknya kepada Ibunya. “Iya,…tapi kamu segera langsung berangkat ke sekolah. Jangan lupa sarapannya ada di meja,” timpal sang Ibu yang tengah mencuci setumpuk pakaian di sumur yang tak jauh dari dapur.

Kebiasaan itu memang sudah menjadi kegiatan Ayu setiap pagi. Maklum dia adalah anak tunggal. Dia tak punya pembantu. Ayahnya meninggal setahun lalu saat dia baru duduk di kelas dua SD Purnama. Ibunya menjadi tulang punggung keluarga, sehari-hari menjadi buruh cuci.

Selepas semua pekerjaan rumah selesai dikerjakan, Ayu kemudian pamit pada sang Ibu. “Bu,…Ayu pamit berangkat sekolah, ya. Doakan Ayu, ya,” katanya sambil mencium tangan Ibunya. “Kamu jangan nakal, ya. Dengarkan semua pesan pak guru dan bu guru di sekolah,” pesan Ibu. Ayu mengangguk lantas bergegas meninggalkan rumahnya yang mungil.

Meskipun sekolahnya tak jauh dari rumah, Ayu setiap hari harus berangkat lebih pagi karena mesti mendatangi beberapa pedagang kaki lima yang jadi langganan. Bukan karena dia berjualan, tetapi Ayu mesti mengambil bungkus bekas minuman mineral yang nantinya dijual untuk membantu Ibunya. Makanya selama ini Ayu mendapat julukan gadis pemulung dari teman-temannya di sekolah Purnama. Tapi hebatnya Ayu, dia tak pernah merasa malu atau minder. Malah dia bangga, kecil-kecil sudah bisa bantu orangtua.

Sesampainya di sekolah, Ayu meletakkan karung kecil yang berisi plastik bekas di belakang kelas. “Ayu, bagaimana hasil pagi ini, dapat banyak?” Ayu sedikit tersentak kaget mendapat sapaan itu. Setelah tahu, ternyata Bapak Hendra, kepala sekolah yang menyapanya. “Alhamdulillah, lumayan, Bapak,” jawabnya. Pak Hendra tersenyum bangga mendapat jawaban dari anak muridnya yang terkenal cerdas itu. Di kelasnya, meski sibuk dengan kegiatan memulung, Ayu tak mau kalah untuk masalah pelajaran.

Bersama-sama dengan murid-murid lainnya, Ayu masuk kelas. Pagi itu mereka akan belajar mata pelajaran matematika. Baru saja Ibu Yanti hendak memulai pelajaran, tiba-tiba pintu sekolah terbuka. Rupanya, Ibu Mira yang datang bersama dengan gadis perempuan yang seumuran dengan anak-anak di kelas Ayu. “Adik-adik, kenalkan teman baru kalian. Namanya Levy Kirana. Panggilannya Kirana. Dia pindahan dari sekolah di Rajasa di kota Bandung,” papar Ibu Mira. Semua anak di kelas yang berjumlah 30 anak itu pun serentak mengangguk. “Kirana kamu duduk bersama Ayu, ya,” perintah Ibu Mira. Waktu itu kebetulan teman sebangku Ayu, Laras yang duduk di barisan ketiga tak berangkat karena sakit.

Baru saja duduk, Kirana teriak gaduh. “Ihhh,…Bu Guru, Ayu kok baunya nggak enak. Aku nggak mau duduk sama dia. Aku mau pindah,”. Sejenak suasana menjadi gaduh, Ayu terdiam. Ibu Mira dan Ibu Yanti coba menenangkan, tetapi Kirana malah menjadi-jadi. “Pokoknya nggak mau…., kalau nggak boleh pindah, aku mau pulang saja,” serunya dengan nada tinggi. Ibu Yanti akhirnya menukar tempat duduk Kirana di bangku pojok bersama dengan Anti.

Hari berikutnya ketika jam istirahat tiba, Kirana menyambangi Ayu yang tengah membereskan buku. “Oh ternyata kamu itu pemulung, pantesan badannya bau,….kamu jarang mandi, ya,” tandas Kirana setengah mengejek. Sejenak Ayu terdiam, lantas menebar senyum. “Ih dibilangin kok malah senyum-senyum kayak orang gila.” Lagi-lagi Ayu tersenyum. Kirana lantas pergi dengan wajah masam dan dongkol.

Bagi Ayu, apa yang dilakukan oleh Kirana sudah pernah dirasakannya sejak setahun lalu. Makanya dia sudah terbiasa.

Sebulan kemudian, …..sikap Kirana tak juga berubah terhadap Ayu, dia tak mau mendekat apalagi berteman. Setiap hari di depan kawan-kawannya kecuali Ayu, Kirana memamerkan barang-barang baru pemberian Ayah dan Ibunya.

Satu hari, Ibu Yanti guru Matematika memberi tugas PR. Begitu juga dengan Ibu Ratih guru bahasa Inggris. Minggu depan harus dikumpulkan. Setelah dikoreksi, hasilnya semua jeblok kecuali Ayu yang mendapat nilai sempurna. Di antara murid, yang mendapat nilai terburuk adalah Kirana. Beberapa kali dia mendapat teguran dari bu guru. “Kamu sebaiknya banyak belajar kepada Ayu, kalian juga,”. Kirana bersungut-sungut mendengar nasehat itu. Ibu Ratih juga ternyata memberi pesan yang sama setelah membagikan nilai PR bahasa Inggris. “Walaupun pemulung, Ayu itu anaknya pintar di semua mata pelajaran. Makanya kami suka sama dia,” celetuk Anti teman sebangku Kirana. Kirana menunduk memendam malu.

Saat bel berbunyi tanda waktu pulang tiba, Kirana menghampiri Ayu yang tengah beranjak dari tempat duduknya. Kirana akhirnya minta maaf atas sikapnya selama ini. “Teman-teman, aku sekarang sudah jadi temannya Ayu. Kami mau belajar bersama,” teriak Kirana. Ayu dan teman-temannya tertawa ceria.

Ilustrasi: Majalah Just For Kids

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *