Setahun sudah ya Moms, kita hidup ditengah-tengah pandemi. Bagaimana Moms, pertahanannya masih kokoh atau sudah mulai goyah nih? Sebenarnya berapa lama sih manusia itu bisa bertahan pada perubahan situasi seperti Covid-19 ini?

Ibu Daisy Indira Yasmin, sosiolog yang ditemui pada acara virtual yang diadakan Forum Ngobras Bersama Frisian Flag, menyebutkan secara sosiologis pandemi berdampak pada tiga bidang yaitu kesehatan, ekonomi, dan sosial budaya. “Selama pandemi kita menjadi bagian kultur digital karena itu salah satu solusi yang ditawarkan dan strategi untuk beradaptasi perubahan situasi. Kita berubah dalam konteks bahwa pusat kehidupan ada di rumah tangga dan keluarga. Akhirnya kedua hal tersebut menjadi faktor penentu apakah kita bisa beradaptasi dengan perubahan ini dan berapa lama kita beradaptasi,” kata Ibu Daisy.

Ibu Daisy menyebutkan sebenarnya manusia dibekali kemampuan beradaptasi pada situasi yang ada, tetapi tiap orang memiliki cara dan tingkat adaptasi yang berbeda-beda. Hal tersebut tergantung pada empat hal pertama motivasi: kenapa harus beradaptasi hingga apa yang harus kita ubah. Kedua, dukungan orang terdekat: ini berpengaruh apakah kita bisa bertahan dalam perubahan-perubahan pada masa pandemi Covid-19. Ketiga, dukungan regulasi: peraturan pemerintah bisa mempengaruhi seberapa lama warga bertahan dalam perubahan-perubahan ini. Keempat, kemampuan diri sendiri: untuk melakukan tindakan-tindakan baru berarti kita sebenarnya mampu memakai masker untuk bertahan.

Dari sini muncul juga kelompok sosial yang lebih sulit beradaptasi yaitu kaum non-digital netizen, kaum muda terkait dengan perubahan kebiasaan berteman dan berkumpul, dan warga yang tinggal dipemukiman padat. Kalau ditanya berapa lama manusia bisa bertahan? Jawabannya beragam, tergantung pengalaman-pengalaman yang dirasakan terkait pandemi. Walau ada yang sebentar, ada yang lama, tetapi pasti ada batas kemampuan bertahannya. Ada satu titik kita merasa jenuh terhadap perubahan-perubahan yang ditawarkan atau diminta dilakukan. Itu disebut pandemic fatique. Kejenuhan sosial, akan pengaruhi angka kepatuhan. Menurut WHO pandemic fatique adalah demotivasi atau kejenuhan untuk mengikuti prokes yang dianjurkan, muncul secara bertahap dari waktu ke waktu. Datang dan pergi. Bisa sebulan mulai jenuh, lalai, lalu kalau dengar informasi baru, patuh lagi.

Bagaimana menghadapi Pandemi Fatigue? “Untuk satu tahun kita mengalami pandemi saya lihat fluktuatif. Sekarang lagi menurun nanti naik lagi itu tanda bahwa sebenarnya kita mungkin sudah punya gelombang pandemic fatigue. Misal saat Hari Raya orang Indonesia paling sulit untuk mempertahankan protokol kesehatan. Lebih mengutamakan relasi keluarga dan kesenangan,”kata Ibu Daisy.

Bagaimana menghadapinya? Pertama, tetap harus ada regulasi kalau secara sosiologi harusnya regulasinya ada berbasis data, penelitian, tidak bisa pukul rata, dan disesuaikan oleh kelompok-kelompok sosial yang ada. Kedua, community based solution. Melibatkan anggota masyarakat dan komunitas sebagai bagian dari solusi bukan sebagai objek kebijakan. Ketiga, membuat manusia tetap bisa menjalankan kehidupan sehari-hari tapi mengurangi risiko penularan atau tertular dan memahami kesulitan.

Ketahanan Keluarga Dimasa Pandemi
Ketahanan keluarga adalah kemampuan keluarga menjaga keseimbangan antara faktor-faktor kerentanan / pengalaman negatif yang akan menghasilkan dampak negatif dengan besarnya pengalaman positif. “Pandemi menyumbang kerentanan dalam keluarga misalnya ekonomi karena kekurangan pendapatan, emosional karena kehilangan anggota keluarga, perubahan relasi antar keluarga, peran, kesehatan fisik dan mental termasuk di dalamnya tumbuh kembang anak,” jelas Ibu Daisy.

Bagaimana Membangun Ketahanan Keluarga?

  1. Mengurangi sumber beban yang negatif atau stressful, adanya daya dukung pemenuhan basic need, pekerjaan, dan aktivitas anak.
  2. Menambah hal-hal positif: membangun relasi yang suportif dan responsif di antar anggota keluarga, membangun relasi dengan komunitas atau ketetanggaan, dan menggunakan virtuality untuk meningkatkan engagement antar anggota keluarga.
  3. Memindahkan titik tumpu: memberi ruang pada kemampuan kita membangun skill managing daily life dengan fokus mengenali cara mengatasi sumber-sumber negatif sehingga mudah menjalani hidup selama pandemi.

(Ilustrasi : Ist)

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *