Suatu hari, Peri Novi menunjukkan sebuah miniatur kapal layar dari kertas. “Indah sekali!” seru Peri Dinda. “Terima kasih, Kakak…aku membuatnya tanpa sihir,” ujar Peri Novi. “Hebat!” seru Peri Dinda. Keindahan kapal kertas Peri Novi tersebar. Ratu Peri melihat kerajinan kapal kertas Peri Novi dan kagum. “Aku ingin memajang kapal kertas ini di tengah kota. Dan tulis nama Peri Novi di sana, agar semua peri bisa mengaguminya,” kata Ratu Peri.
( One day, Novi the Fairy shows a miniature sailboat made of paper. “So beautiful!” shouts Dinda the Fairy. “Thanks Sis… I made it without using magic,” utters Novi. “That’s great!” state Dinda. The beauty of Novi’s paper boat is spread around from mouth to mouth. The Queen Fairy looks at Novi’s paper boat in awe. “I want to put this paper boat at the town center. Write Novi’s name there so other fairies can admire it,” says the Queen Fairy.)

Suatu sore, Peri Novi bertemu seekor tupai yang melihat kapal kertas dengan sedih. “Kenapa kau begitu sedih?” tanya Peri Novi pada si tupai. “Namaku Tutu. Aku sedih kalau melihat kapal ini karena teringat sahabatku!” keluh Tutu. Tutu yang sebatang kara, bersahabat dengan seekor tupai bernama Pipi yang sudah pindah ke pulau bernama Juna. Tutu berjanji akan tinggal bersama Pipi, tapi dia tidak punya teman yang bisa membuatkan kapal layar. “Aku akan meminjamkan kapal kertasku ini. Aku bisa menyihir kapal kertasku menjadi kapal kayu yang akan membawamu pergi ke Pulau Juna,” kata Peri Novi.
( One afternoon, Novi meets a squirrel that looks at the paper boat sadly. “Why are you so sad?” Novi asks the squirrel. “My name is Tutu. I’m sad when I look at this boat because it reminds me of my best friend!” whines Tutu. Tutu, who has no one in this world, is best friends with another squirrel named Pipi who has moved to an island called Juna. Tutu promised to live with Pipi, but he doesn’t know anyone who could make him a sailboat. “I’ll lend you my paper boat. I can turn this paper boat into a wooden boat that will bring you to Juna island,” says Novi.)

Ketika Peri Dinda mendengar cerita tentang Tutu tupai dari adiknya, wajahnya cemas. “Lautan menuju Pulau Juna dipenuhi dengan sihir tua yang misterius. Kapal yang berlayar ke Pulau Juna tidak akan bisa kembali lagi,” ucap Peri Dinda. Peri Novi terkejut. Dia memikirkan kemungkinan tidak pernah lagi melihat kapal kertasnya yang indah dan dibuat dengan susah payah. Tapi dia lalu memikirkan kesedihan Tutu. “Aku senang kalau bisa membantu Tutu,” kata Peri Novi.
( When Dinda hears Tutu’s story from her sister, she becomes concerned. “The sea on the way to Juna island is filled with mysterious old magic. The boats that sail there cannot return,” tells Dinda. Novi is surprised. She thinks about how she will never see her beautiful paper boat that she made with great effort. Then she thinks about how sad Tutu is. “I’m glad I could help Tutu out,” says Novi.)

Peri Dinda dan Peri Novi menyihir kapal kertas Peri Novi menjadi kapal layar kayu yang besar. Tutu tupai tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih, lalu berlayar pergi ke Pulau Juna. Waktu berlalu dan kapal Peri Novi tidak pernah kembali. Tapi, Peri Novi merelakan kapalnya itu.Di tengah kota peri kini ada patung yang menggambarkan Tutu tupai melambai dari kapal Peri Novi. Patung ini adalah penghormatan untuk kerelaan hati Peri Novi dalam menolong Tutu tupai.
( Dinda and Novi turn Novi’s paper boat into a big wooden boat. Tutu the squirrel cannot stop saying thank you to them, and left to Juna island. Time passes by and Novi’s boat never comes back. But, Novi is fine with it. In the fairy town center, there’s a statue of Tutu the squirrel waving goodbye from Novi’s boat. This statue is a tribute for Novi’s kind heart in helping Tutu the squirrel.)

 

 

 

 

Cerita: Seruni           Ilustrasi: Agung             Translator: Listya

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *