Dahulu kala, hiduplah sebuah suku yang sangat terpencil di tengah hutan lebat. Mereka adalah Suku Mapoa. Suku Mapoa memiliki pekerjaan yang sangat sederhana. Para laki-laki bekerja berburu dan mencari bahan pangan di hutan, sedangkan para perempuan menjaga anak, memasak, dan mencari umbi-umbian di sekitar tanah di bawah pohon tempat rumah mereka.   (Once upon a time, there lived a tribe within a remote rainforest. They were the Mapoa Tribe. The Mapoans live a simple life. The men were hunters and gatherers, while the women take care of the children, cook, and forage for tubers around the trees near their tree-houses.)

Suatu hari, Pak Rendrikzip mengajak anak laki-lakinya yang berusia delapan tahun, pergi ke perkampungan yang berada di luar hutan. Pak Rendrikzip hendak menjual beberapa hasil tangkapannya dan menukarnya dengan hasil perkebunan dari kampung sebelah.(One day, Mr. Rendrikzip took his eight-year-old son to a village outside the forest. He wanted to sell some of his catch and trade them with the nearby village’s plantation produce.)

Sebagai orang pohon, Suku Mapoa tidak pernah mengenakan alas kaki. Sesampainya di luar hutan, Pak Rendrikzip harus menyeberangi sungai yang dasarnya batu-batu runcing. Mereka mencari sela-sela batu yang landai sebagai tumpuan. Namun, anak Pak Rendrikzip terpeleset karena batu yang dipijaknya licin sekali. (As tree men, the Mapoans never wore anything on their feet. Once outside the forest, Mr. Rendrikzip has to cross a river that has sharp pointed rocks on its bed. They look for dull gaps between the sharp rocks. However, Mr. Rendrikzip’s son falls because the rock he stepped on is very slippery.)

Anak Pak Rendrikzip menangis keras karena kakinya mengeluarkan darah. Dengan susah payah, Pak Rendrikzip mengangkat anaknya ke tepian sungai. Sementara tangannya yang lain harus memegangi rusa yang akan ditukarkan.   (Mr. Rendrikzip’s son cries hard because his leg is bleeding. Trying really hard, Mr. Rendrikzip lifts his son to the riverside with one arm, and the other arm holding the deer that’s going to be bartered.)

Sesampainya di tepi sungai, kaki sang anak tidak lagi mengeluarkan darah, tetapi meninggalkan bekas luka yang cukup lebar sehingga susah untuk berjalan. Pak Rendrikzip kemudian mencari akal agar anaknya bisa berjalan meski dengan luka yang cukup lebar. (By the riverside, the son’s leg is not bleeding anymore, but it left out a large wound that will make him hard to walk. Mr. Rendrikzip then looks for an idea to enable his son to walk with his wound.)

Pak Rendrikzip menemukan sebilah kulit pohon yang sangat kuat. Ia pun memotong kulit pohon tersebut sesuai dengan ukuran kaki anaknya. Anak Pak Rendrikzip sangat gembira karena ia bisa berjalan lagi walau tertatih. Sesampainya di pasar kampung sebelah, Pak Rendrikzip pun menukarkan hewan buruannya dengan keperluan rumah tangga. Ketika hendak pulang usai berdagang, tiba-tiba ada warga kampung yang bertanya. (Mr. Rendrikzip found a piece of tree bark that’s a match to his son’s foot size. Mr. Rendrikzip’s son is happy because he can walk again, though in small steps. Arriving in the neighboring village, Mr. Rendrikzip traded his hunt with household needs. As he was going home after trading, a villager steps up to him and asks.)

“Pak, adakah kau jual sepatu seperti yang dipakai anakmu? Aku ingin membelinya untuk anakku,” kata warga itu. “Aku tidak mempunyainya lagi. Tapi kalau kalian mau, aku bisa membawakannya bulan depan. Aku hanya butuh ukuran kaki anakmu saja,” kata Pak Rendrikzip. Beberapa orang kampung kemudian memesan sepatu pada Pak Rendrikzip. Pak Rendrikzip pulang dengan hati riang karena membawa pesanan beberapa pasang sepatu. (“Sir, would you happen to sell the shoes that your son wears? I would like to buy one for mine,” said the villager. “I don’t have them anymore. But if you want to, I can bring them next month. All I need is your son’s foot size,” says Mr. Rendrikzip. Several villagers then order the shoes to Mr. Rendrikzip.Mr. Rendrikzip goes home happily because of the shoes orders he received.)

Beberapa bulan kemudian, Pak Rendrikzip pun sudah memiliki toko sepatu kulit kayu di pasar kampung sebelah. Kehidupan keluarga dan masyarakat Suku Mapoa pun terangkat karena mereka memiliki pencaharian tambahan sebagai penghasil sepatu Mapoa (sepatu kulit kayu).   (A few months later, Mr. Rendrikzip finally has his own bark shoes store in the neighboring village. The livelihoods of the Mapoans are then lifted because they have a new source of living as Mapoan shoes (shoes made of wooden bark) crafters.)

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *