Sepulang sekolah, Nanda yang masih duduk di bangku kelas 2 SD berteriak kepada ibunya, “Ibu! Ibu! Lihat ini! Tadi Nanda di sekolah dikasih uang Rp 1.000 sama Sari teman sekelas Nanda.”

“Benarkah? Kalau begitu, kamu juga harus jadi orang baik, biar Nanda punya banyak teman,” kata ibu sambil menyapu rumah.

Nanda memang berasal dari keluarga yang serba kekurangan. Ayahnya seorang kuli bangunan dan ibunya hanya seorang penjual kue keliling. Jika ayahnya sedang tidak bekerja, tak jarang untuk biaya makan sehari-hari, mereka kekurangan.

“Nah, sekarang mau kamu apakan uang itu?” tanya ibu. “Ah, mau Nanda simpan saja uangnya. Supaya Nanda bisa beli sepatu baru. Dan Ibu tidak perlu susah-susah mencari uang lagi untuk membeli sepatu Nanda,” jawab Nanda dengan polosnya.

Ibu kemudian memeluk Nanda dengan haru. Ia bahagia punya anak seperti Nanda, meski kehidupan sangat tidak adil baginya.

Beberapa hari kemudian, uang tabungan Nanda telah mencapai Rp 2.500. Masih jauh dari yang ia harapkan memang. Terlebih untuk sekadar membeli sepatu baru, pengganti sepatu lamanya yang sudah mulai sobek, dan tak layak lagi untuk dipakai. Tapi Nanda tetap semangat.

Suatu hari sepulang sekolah, Nanda berjalan pulang bersama teman-temannya. Matanya pun tertuju pada seorang pengemis tua yang duduk lemas di pinggir jalan. Teman-teman Nanda hanya melewatinya seakan-akan tak menghiraukan pengemis tua itu. Hati Nanda menaruh belas kasihan pada pengemis itu. Nanda terus berjalan hingga ia ingat kata-kata ibunya, “Nanda harus jadi anak baik biar punya banyak teman.” Nanda berhenti sesaat lalu kembali pada pengemis itu.

“Kakek, apa yang bisa ku bantu?” tanya Nanda. Pengemis itu hanya tertawa dengan gigi hitamnya lalu berkata, “Jarang sekali ada anak baik sepertimu, huk…huk..huk..”

“Apa yang bisa kubantu, Kek?” ulang Nanda. “Nak, bisakah kamu memberiku segelas air? Rasanya aku sangat kehausan,” pinta sang pengemis.
“Tapi, Kek, aku tidak punya air,” jawab Nanda. “Tolonglah Kakek, Nak. Kakek haus sekali,” suara pengemis itu semakin serak. Nanda terdiam sebentar, matanya tertuju pada uang tabungan yang ia simpan di sakunya.

Nanda ingin sekali membeli segelas air minum mineral untuk kakek tua itu, tapi harapan untuk mendapatkan sepatu baru, akan semakin jauh.

“Nak, tidak apa-apa jika kamu tidak bisa membantu Kakek, Kakek mengerti kok,” kata pengemis itu lagi. Nanda mengernyitkan dahinya sesaat, lalu ia mengambil uang tabungannya yang hanya berjumlah Rp 2.500. Kemudian ia berlari ke kios pedagang kaki lima, tak jauh dari tempatnya berada. Nanda membeli segelas air mineral seharga Rp 1.000. Segera ia kembali berbalik menuju pengemis tua itu dan memberikan segelas air mineral padanya.

“Terima kasih, Nak!” Kakek itu dengan cepatnya mengambil air yang diberikan oleh Nanda, kemudian meminumnya. “Oh, ya Kek, aku juga masih punya uang Rp 1.500. Memang uang ini sedikit sih, tapi Nanda harap Kakek mau menerimanya,” ucap Nanda. “Terima kasih, Nak! Semoga Tuhan membalas kebaikanmu,” tukas pengemis itu sambil mengelus dadanya.

Nanda sebenarnya merasa sedih karena ia harus mengumpulkan uang lagi untuk membeli sepatu. Tapi ia juga bahagia. Dengan senyuman polosnya, ia tersenyum lebar pada pengemis itu.

Kemudian pengemis itu meraba-raba tas kumuh yang ia pikul sedari tadi. Kakek pengemis mengeluarkan sesuatu. “Nak, ini Kakek punya sesuatu untukmu. Sebenarnya ini hadiah Kakek buat anak Kakek. Tapi ia sudah meninggal 10 tahun lalu saat masih seumuran kamu,” kata si pengemis.

Nanda kaget sekali. “Wah! Sepasang sepatu? Benar ini buat Nanda, Kek?” tanya Nanda tidak percaya. Pengemis tua itu mengangguk. Tak lupa Nanda pun mengucapkan terima kasih kepada kakek pengemis itu.

Sesampainya di rumah, Nanda memamerkan sepatu barunya itu kepada ibunya. Lagi-lagi ibu menangis haru. Tapi kali ini tangisan kebahagiaan. Ibu Nanda bangga mempunyai anak seperti Nanda. Ia menciumi dahi anaknya itu, lalu berkata, “Nak, jadilah orang yang berhati mulia supaya kelak nanti kamu bisa menjadi orang yang sukses.” Nanda mengangguk pada perkataan ibunya itu dengan polos.

 

Cerita: JFK     Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *