Semangat Juang Para Kartini Peternak Sapi Perah dari Indonesia dan Belanda, Inspiratif!

Tahukah Moms, segelas susu segar yang Anda konsumsi maupun Anda berikan kepada si kecil dan keluarga di meja makan, bisa jadi dihasilkan oleh para peternak sapi perah perempuan? Kita sungguh patut berbangga hati, ya, Moms. Tak hanya digeluti oleh laki-laki, profesi peternak sapi perah faktanya banyak dilakoni oleh perempuan, loh!

Contohnya tiga wanita ini: Syipa, Rumini dan Adinda Roerink. Mereka hanya lah sebagian kecil dari banyaknya perempuan di seluruh dunia yang menggeluti profesi peternak sapi perah, yang umumnya didominasi laki-laki. Meskipun begitu, peran peternak sapi perah perempuan, jangan dianggap sepele! Nyatanya, peternak perempuan memiliki keunggulan yang belum tentu ditemui pada laki-laki.

Meskipun di Indonesia jumlahnya masih minim, namun potensi luar biasa tak bisa dihindarkan dari para peternak perempuan ini. Keberadaan dan peran mereka sangat besar. Apalagi diungkapkan oleh Ketua Umum Gabungan Koperasi Susu Seluruh Indonesia (GKSI), Dedi Setiadi, bahwa susu nasional saat ini hanya memenuhi 20% dari kebutuhan nasional. Sementara sisanya yakni 80% masih impor. Duh! Meski memprihatinkan, di sisi lain hal ini menunjukkan ada potensi ekonomi yang besar bagi para peternak susu sapi perah lokal untuk meningkatkan produktivitas susu di Indonesia dalam rangka memenuhi kebutuhan susu nasional. Dan itu, terbuka bagi siapapun, baik peternak sapi laki-laki maupun perempuan.

Para narasumber dalam acara Peresmian Program Kartini Peternak Indonesia

Situasi ini pula yang mendorong PT Frisian Flag Indonesia (FFI) berkomitmen dalam memberdayakan peternak sapi perah secara berkelanjutan, salah satunya dengan menggelar program “Kartini Peternak Indonesia” di bawah naungan Dairy Development Program (DDP) oleh perusahaan induk, FrieslandCampina, yang berpusat di Belanda.

Baca Juga: Optimalkan Potensi Peternak Perempuan, Frisian Flag Indonesia Gelar Program Kartini Peternak Indonesia

Lebih Sabar dan Teliti

Bicara soal peternak sapi perempuan, selama ini kebanyakan mereka hanya terlibat di belakang layar. Entah itu hanya sekadar membantu peternakan sapi milik keluarga, ataupun suaminya. Padahal, potensi peternak perempuan ini sangat besar. Mereka umumnya lebih sabar dan lebih teliti dibandingkan laki-laki dalam mengelola peternakan. Hal ini diakui sendiri oleh suami Syipa pada video yang ditayangkan dalam acara peresmian program “Kartini Peternak Indonesia” oleh FFI pada 22 September lalu.

Syipa, yang merupakan anggota dari Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU), Lembang, merupakan seorang istri peternak sapi perah lokal sekaligus ibu satu anak. Sehari-hari ia membantu sang suami mengelola peternakan, disamping menjalankan tugasnya sebagai ibu dan manajer rumah tangga. Diakui sang suami, peran perempuan dalam peternakan sapi, sangat membantu. “Mereka lebih semangat datang ke kandang (mengurus sapi, memberi pakan, dan sebagainya). Bisa membantu untuk pencatatan, minimal pengukuran berapa keluarnya susu, yang biasanya nih malas dilakukan oleh peternak sapi laki-laki,” ujarnya.

Syipa, peternak sapi dari KPSBU Lembang

Keterlibatan perempuan yang tinggi dalam usaha peternakan sapi perah milik keluarga ini, juga ditegaskan oleh Tino Nurhadianto selaku Dairy Development Program QA/QC Manager, PT. Frisian Flag Indonesia. “Dalam 1 (satu) hari, rata-rata perempuan menghabiskan 8 jam dari aktivitas mereka untuk mengurus sapi. Bisa dibilang, keterlibatan mereka cukup signifikan di dalam bisnis keluarga, dalam hal ini sapi perah,” katanya. Namun sayang, keterlibatan perempuan dalam mengakses pengetahuan terkait sapi perah, masih terbilang rendah. Dari data FFI sejak tahun 2019, hanya ditemui sekitar 16% partisipasi peternak perempuan atau istri dari peternak dalam pelatihan yang digelar oleh FFI bermitra dengan koperasi.

Dijelaskan Tino, salah satu faktor keengganan peternak perempuan menghadiri pelatihan diakibatkan adanya dominasi peternak laki-laki di dalam kelas. Kalah jumlah ini, bisa jadi berimbas pada kenyamanan para perempuan dalam menghadiri pelatihan. “Dari sana kita melihat, perlu ada suatu program yang khusus mentargetkan peternak perempuan untuk terlibat dalam aktivitas pelatihan,” urai Tino menjelaskan salah satu pertimbangan lahirnya program “Kartini Peternak Indonesia”.

Selanjutnya >> Rumini: Orangtua Tunggal yang Cinta Sapi

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *