Hari masih pagi. Rumah No.9 di tikungan jalan itu tampak sepi. Roni dan kawan-kawan memarkir sepeda di bawah pohon sawo. Dengan hati-hati, mereka berjingkat dan mengintip lewat celah pagar yang terhalang semak-semak. Entah mengapa, mereka suka sekali memata-matai rumah nomor 9 ini. Sebetulnya rumah itu biasa-biasa saja. Namun kelihatan kotor dan kurang terawat.

Roni dan teman-teman sangat takut pada Pak Udin. Pak Udin adalah penghuni rumah nomor 9 ini. Tampang Pak Udin memang agak seram. Berkumis tebal dan jarang sekali tersenyum. Ditambah lagi Pak Udin jarang berkomunikasi dengan tetangga sekitar.

Anak perempuan Pak Udin baru saja pindah ke sekolah Roni dan teman-teman. Namanya Tulus. Murid-murid lain suka mengejek nama yang kedengaran aneh itu. Nama yang lebih cocok untuk anak laki-laki. Tulus juga selalu diolok-olok karena berkepala botak. Tak ada yang tahu mengapa rambutnya dicukur plontos seperti itu. Tulus sangat pendiam. Di saat jam istirahat, ia lebih suka pergi ke perpustakaan sendirian.

Kresk…Anto menginjak ranting kering. Ssssstt! Desis Kholiq sambil memanyunkan bibirnya. Roni cengengesan melihat ulah teman-temannya yang berlagak detektif. Minggu lalu, mereka dipergoki Pak Udin saat sedang mengintip seperti ini. Waktu itu Pak Udin membuka pintu pagar secara tiba-tiba. Tentu saja mereka lari terbirit-birit. Akan tetapi, beberapa hari kemudian, Roni dan teman-teman kembali melakukan pengintaian ini. Rasa penasaran membuat mereka tidak jera.

Pintu rumah nomor 9 tiba-tiba terbuka. Dari balik celah pagar yang lebar, Roni dan teman-teman dapat melihat Pak Udin dan Tulus keluar. “Hei, lihat, tuh! Tulus mau berangkat sekolah!” bisik Kholiq. “Eh, ayo kita jahili anak aneh itu!” sahut Anto. “Jangan, kalau ketahuan Bapaknya, kita bisa dimarahi!” ujar Arman gemetar sambil membenahi kacamata minusnya yang melorot ke ujung hidung. “Sssstt…jangan berisik!” kata Roni memperingatkan.

Dari kejauhan tampak Pak Udin mengantar Tulus hingga ke pintu pagar. Setelah Tulus pergi, Pak Udin kembali masuk ke rumah dan menutup pintu rapat-rapat. “Ayo!” Roni dan kawan-kawan bergegas mengambil sepeda lalu mengayuh pedal perlahan. Secepat kilat Kholiq menyambar topi Tulus dari belakang. “Botak! Botak! Botak!” sorak mereka beramai-ramai sambil tertawa terbahak-bahak. Tulus tampak pucat. Ia hampir menangis di tepi pagar. Tiba-tiba pintu rumah terbuka. Astaga! Pak Udin datang! Kholiq buru-buru melempar topi itu ke pinggir jalan. Lalu mereka mengayuh sepeda sekencang-kencangnya.

Roni begitu terburu-buru sehingga tak memperhatikan jalan di depan. Braakk! Sepedanya menabrak tiang listrik. Roni terjatuh membentur aspal. Aduuh! Roni meringis kesakitan. Teman-temannya cuma bisa menonton di kejauhan. Mereka terlalu takut untuk kembali dan menolong Roni. Roni mencoba beringsut sekuat tenaga. Tapi kakinya tak dapat bergerak. Pak Udin kian mendekat, jaraknya tinggal beberapa langkah. Tiba-tiba Pak Udin sudah membungkuk di hadapan Roni.

“Ampun, Pak! Ampuuuun! Saya janji nggak nakal lagi, Pak!” Roni menjerit histeris, tangisnya meledak. Tiba-tiba tubuhnya terasa melayang. Rupanya Pak Udin menggendongnya masuk ke rumah. Tubuh Roni yang lemah dibaringkan di sofa ruang tamu.

“Tulus, ambil kotak P3K!” samar-samar suara parau Pak Udin. Tak lama kemudian Tulus sudah duduk sambil membawa kotak putih dengan gambar palang merah di atasnya. Pak Udin membersihkan luka-luka di siku tangan dan lutut Roni dengan kapas beralkohol. Sesekali Roni meringis karena merasa pedih. Luka itu lalu ditutup dengan kain kasa dan plester. Luka-luka ringan lainnya diberi betadine.

“Nggak apa-apa, sebentar lagi juga sembuh kok! Anak laki-laki harus kuat, jangan cengeng!” hibur Pak Udin ramah.

“Sakit?” tanya Tulus pelan, Roni mengangguk mengusap air mata. “Jangan takut, kepalaku pernah dijahit dan rasanya nggak sakit kok,” kata Tulus.

“Dijahit! Kenapa?” tanyanya penasaran.

“Soalnya di kepalaku ada penyakit yang harus dioperasi dokter. Kepalaku dibedah, terus penyakitnya diangkat, setelah itu baru dijahit!” tutur Tulus polos sambil membuka topinya. Ia menunjukkan bekas jahitan di belakang kepala gundulnya. Kini Roni mengerti mengapa rambut Tulus dicukur sampai plontos.

“Ayo anak-anak, kalian Bapak antar ke sekolah pakai motor ya? Sepedamu biar dititip di sini. Nanti pulang sekolah bisa kamu ambil!” kata Pak Udin kepada Roni sambil meraih jaket di atas meja. “Terima kasih, Pak!” Roni merasa malu dengan prasangka buruknya selama ini.

“Maafkan kesalahanku ya,” ucap Roni lirih sambil mengulurkan tangan pada Tulus. Tulus menyambutnya dengan senyum.

“Nah, begitu dong sama teman! Besok ajak kawan-kawanmu kemari. Bapak juga mau kenalan sama mereka. Sebetulnya Bapak juga mau mengajak kalian masuk waktu melihat kalian ngintip di pagar tiga minggu lalu. Kebetulan waktu itu Bapak sedang menebang pohon rambutan di kebun belakang. Tapi waktu Bapak buka pintu pagar, kalian malah lari!” tukas Pak Udin panjang lebar.

“Ayo cepat, nanti kalian terlambat!” teriak Pak Udin memanasi mesin motornya. Hari ini Roni mendapat pelajaran berharga yang tak akan terlupakan. Rasanya ingin cepat-cepat sampai ke sekolah dan menceritakan pengalaman barusan pada teman-teman! (Teks : JFK Ilustrasi : Fika)

 

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *