Pada tahun 2020 Kementerian Kesehatan menghitung estimasi orang dengan HIV (ODHIV) di Indonesia berjumlah 526.841 orang. Sampai dengan Desember 2022 sebanyak 417.863 ODHIV dilaporkan dari 502 Kabupaten Kota se Indonesia. Menurut  Dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, Ketua Badan Pembina Yayasan Kemitraan Indonesia Sehat (YKIS), menyatakan bahwa tren penularan HIV/AIDS kini telah berubah karena lebih banyak mengenai ibu hamil dan kelompok masyarakat pecinta sesama jenis. “Kalau di tahun 2012 pada populasi kuncinya didominasi wanita pekerja seks (WPS) dan lelaki seks lelaki (LSL), saat ini HIV/AIDS itu banyak menulari ibu hamil dan sesama jenis,” kata dokter Nafsiah dalam Konferensi Pers HIV/AIDS YKIS 2022 di Jakarta, Selasa, 27 Desember 2022.

Dalam data yang YKIS miliki, dokter Nafsiah menyebutkan bahwa pada tahun 2021 jumlah penularan HIV pada kelompok sesama jenis terutama LSL mencapai 9.826 kasus, turun dari 2017 yang mencapai 10.628 kasus. Kemudian disusul oleh ibu hamil sebanyak 4.466 penularan pada tahun 2021. Mirisnya, angka itu justru naik dari tahun 2017 yang mencapai 3.873 kasus. Pada 2021, katanya, jumlah pasien Tuberkulosis (TBC) yang terkena HIV ada 4.500 kasus, wanita pekerja seks yang berkisar 1.000 kasus, dan di bawah angka itu diikuti waria, pengguna narkotika suntikan, kelompok IMS.

Data tersebut membuat dokter Nafsiah menyayangkan situasi di Indonesia, karena nyatanya masih banyak masyarakat yang belum mengetahui status HIV-nya, walaupun kini pengetahuan dan berbagai tindakan penyakit tersebut sudah makin maju. Pada saat waktu yang tersisa tinggal tujuh tahun lagi sebelum penutupan target eliminasi HIV pada 2030, dokter Nafsiah meminta semua pihak bekerja sama dalam menekan laju penularan kasus, angka kematian Orang Dengan HIV (ODHIV) maupun menghentikan stigma dan diskriminasi atau yang disebut dengan “Three Zero”. Dia meminta pemerintah supaya memantau pasien HIV/AIDS dapat makin diperkuat agar kontinuitas konsumsi obat dan pelacakan kasus dapat terus berjalan optimal serta gencar melakukan edukasi dan menjalankan suluh, testing, obati yang sakit dan memantau perkembangan penularan (STOP).

Sementara pada masyarakat, dokter Nafsiah mengimbau agar pengetahuan terkait HIV/AIDS terus ditingkatkan karena membantu mencegah penularan serta memberikan pasien dukungan secara mental yang baik, termasuk tidak melakukan diskriminasi kepada pasien HIV/AIDS. “Pengetahuan masyarakat mengenai HIV/AIDS makin luas. Kita optimis bisa menghentikan penularan. Hal ini juga mengurangi stigma dan diskriminasi kepada para penderita,” ucap dokter Nafsiah.

Dokter Nafsiah berharap, HIV/AIDS ini dapat ditangani pada 2030 mendatang. Hal ini dengan menangani tiga faktor, baik penularan, angka kematian, serta berkurangnya stigma dan diskriminasi.

(Foto : Ist)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *