Hutan Hijau dipimpin oleh seekor orangutan baik hati bernama Oru. Sebentar lagi, Oru berulang tahun, dan binatang-binatang penghuni Hutan Hijau ingin memberinya hadiah.

Karena itulah, Harimau penasihat Oru yang bernama Mamu mengajak semua binatang rapat, untuk menentukan hadiah apa yang akan diberikan pada Oru.

“Oru selalu saja berkeliling hutan untuk melihat keadaan kita semua. Aku pernah bertanya pada Oru, apakah dia punya rumah? Jawaban Oru begini: Aku tak punya rumah, dan tidak memerlukannya. Aku cukup tidur di pohon-pohon besar saja. Bagaimana kalau kita memberikan sebuah rumah untuk Oru?” usul seekor burung Namdur bernama Nam.

Usul itu disambut baik oleh semua penghuni Hutan Hijau. “Baiklah, karena kalian setuju, hadiah Oru adalah rumah,” kata Mamu memutuskan.

Karena Nam dikenal sebagai burung pembuat sarang termewah di Hutan Hijau, Mamu menjadikan Nam pemimpin pembangunan rumah Oru.
“Karena Oru menyukai pohon, ayo kita buat rumah dari kayu! Letak rumah hadiah yang akan dibangun ini di bukit paling tinggi di Hutan Hijau, yaitu Bukit Sejuk, sehingga Oru bisa mendapatkan pemandangan yang indah,” kata Nam.

Nam meminta binatang-binatang pengerat untuk membantu menebang pohon. “Berapa banyak pohon yang harus kita tebang?” tanya seekor berang-berang bernama Bun. “Kira-kira 1.000 pohon. Aku ingin membuat rumah yang besar dan mewah untuk Oru. Aku ingin kayu pohon yang tumbuh di daerah Bukit Sejuk,” jawab Nam.

Bun terkejut mendengar jawaban Nam. “1000 pohon! Banyak sekali! Lagi pula apa kau tidak tahu, Nam? Bukit Sejuk dan pohon-pohon yang ada di sana tidak boleh diganggu,” kata Bun.

“Akulah pemimpin pembangunan rumah Oru, kau harus menuruti perintahku!” kata Nam angkuh. “Baiklah,” kata Bun takut.

Ketika pembangunan rumah hampir selesai, hujan deras terus menerus turun di Hutan Hijau. Suatu malam, Mamu mendengar kabar yang menakutkan. “Mamu! Banjir dan tanah longsor terjadi di Bukit Sejuk!” kata burung-burung. “Apa?!” seru Mamu terkejut.

Mamu segera pergi melihat keadaan di Bukit Sejuk. “Siapa yang berani menebang pohon dan membangun rumah di Bukit Sejuk?!” seru Mamu marah.

Nam yang baru saja tiba untuk melihat banjir di tempat pembangunan rumah hadiah, terkejut. “Mamu… maafkan aku, akulah yang memberikan perintah untuk menebang pohon dan membangun rumah hadiah Oru di Bukit Sejuk,” kata Nam gemetar ketakutan.

Mendengar ini, Mamu sangat sedih. “Nam.. kau pasti tidak tahu kenapa Bukit Sejuk merupakan daerah yang tidak boleh diganggu. Ini karena Bukit Sejuk melindungi Hutan Hijau dari banjir dan tanah longsor. Pohon-pohon yang tumbuh di Bukit Sejuk, besar dan kuat, mereka sangat berguna untuk menyerap air,” jelas Mamu.

Mamu tidak menghukum Nam, dia juga merasa bersalah kenapa tidak memberitahu Nam sebelumnya.

Nam, Mamu, dan binatang-binatang Hutan Hijau bergegas memperbaiki Bukit Sejuk. Mereka menempuh perjalanan jauh menemui peri hutan. Hanya si peri yang bisa menumbuhkan pohon di Bukit Sejuk.

“Aku hanya bisa memperbaiki Bukit Sejuk sekali saja, tolong jangan dirusak lagi ya,” kata si peri. “Aku berjanji,” kata Nam.

Nam menyerahkan kepemimpinan kepada Bun, sebagai tanda penyesalannya. “Aku akan membantu pekerjaan Bun,” kata Nam rendah hati.

Bun memilih tempat strategis yang membuat Oru bisa mencapai tempat tinggal binatang-binatang hutan dengan mudah. Nam dan binatang-binatang lain membantu Bun membangun rumah.

Rumah itu jadi tepat di hari ulang tahun Oru. “Luar biasa! Ini benar-benar rumah di tempat yang bagus! Terima kasih!” kata Oru bahagia.

Rumah itu sederhana, hanya terbuat dari ranting-ranting pohon, tapi benar-benar sesuai dengan apa yang diinginkan Oru.

Nam mendapat pelajaran berharga. Kemewahan bukan segalanya. Apalagi kemewahan itu harus membuat bencana!

 

 

 

Cerita: Seruni     Ilustrasi: Agung

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *