Suatu pagi, Putri Adina sedang berjalan-jalan di koridor panjang istana, menikmati hangatnya sinar matahari. Ia menuju ke ruang musik untuk bermain piano. Namun tiba-tiba, ia tersandung sesuatu dan hampir jatuh. “Aduh!” seru sang Putri.

Di depannya, terdengar suara tawa meledek. Seekor cerpelai menghadang jalan Putri Adina sambil tersenyum. Si cerpelai inilah yang membuat Putri Adina tersandung. “Cici! Kau nakal sekali!” seru Putri Adina marah. Cici adalah cerpelai peliharaan Putri Adina. Hanya pada Putri Adina saja Cici berbicara. “Ini kulakukan karena kau lupa janjimu,” ujar Cici.

Sambil menepuk dahinya, Putri Adina teringat akan janjinya. “Oh! Aku janji menemanimu bermain di hutan!” seru Putri Adina. Cici mengangguk. “Tapi, membuat orang tersandung itu bahaya, Cici. Kau tak boleh melakukannya lagi,” nasihat Putri Adina serius. “Baik, Tuan Putri. Aku tak akan mengulanginya lagi,” jawab Cici.

Putri Adina pun mengendarai kudanya yang bernama Max mengikuti Cici yang berlari di depannya. Di suatu tempat, Putri Adina kehilangan jejak Cici. “Cici! Cici!” seru Putri Adina memanggil Cici. “Max, menurutmu, dimana Cici?” tanya Putri Adina yang mulai khawatir. Max meringkik lalu mulai berlari menuju sebuah rumah kayu yang sudah rusak.

Putri Adina masuk ke rumah itu. Ia melihat sebuah cermin dan terkejut melihat Cici di dalamnya. “Cici!” seru Putri Adina. “Tuan Putri, tolong aku!” teriak Cici ketakutan. Cici terkurung dalam sebuah cermin. Rumah tua itu menawannya.

Akhirnya, Putri Adina memutuskan untuk kembali ke istana. Ia mengambil pedang untuk melawan rumah tua tersebut. “Adina, apa yang kau lakukan?” tanya Raja dan Ratu. “Aku akan menghancurkan rumah tua di hutan yang menawan Cici,” jawab Putri Adina. “Bagaimana kalau Cici juga ikut celaka?” tanya Ratu. “Apa yang harus kulakukan?” tanya Adina. “Rumah itu dulu digunakan sebagai tempat bermain Nenekmu sewaktu kecil. Sekarang rumah itu ditinggalkan sendirian,” jelas sang Raja. “Sendirian? Berarti dia ingin dijadikan tempat bermain lagi,” pikir Putri Adina.

Putri Adina pun meminta tolong dayang-dayang dan prajurit istana untuk memperbaiki si rumah kayu. Tak lama kemudian, rumah kayu itu menjadi bagus lagi. “Rumah kayu, mulai sekarang, aku dan Cici akan menjadikanmu tempat bermain. Jadi, jangan sedih dan marah,” pinta Putri Adina.

Setelah Putri Adina selesai berbicara, Cici terbebas dari cermin. Putri Adina memeluknya bahagia. Tak lama, keajaiban terjadi. Di meja makan tersedia makanan lezat, dan musik indah mengalun menghangatkan suasana. Putri Adina, Cici, para dayang, dan prajurit sangat gembira. Ini adalah bentuk terima kasih si rumah kayu pada  kebaikan mereka.

 

Cerita: Seruni     Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *